
Rido menghentikan tangannya, menatap Una heran. Sebenarnya Rido tidak berniat rusuh apalagi memancing mulut pedas Una, dia hanya berfikir membantu kelompok. Akan tetapi perbuatannya adalah kesalahan.
Tuan Muda Rido tidak terlalu jauh bodohnya Dengan Tuan Muda Arnel tentang hal semacam ini, mereka tidak bisa membedakan tumbuhan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat. Awalnya Rido hanya ingin mencabut rumput dan daun berulat, karena tidak bisa membedakan jadi dia mencabut anak tomat dan membuang semua daun yang berulat sehingga batang tomat nyaris tak berdaun.
"Waduh, sudahlah Una ayo kita ke sebelah sana saja, kita teliti tomat yang disebelah sana." ucap Wanda sambil menarik tangan Una dan Aira.
Yangki dan Andi menyusul dan mengikuti mereka juga. "Eh Na, kamu gak takut apa memaki Tuan Muda sinting itu? dia kan tukang rusuh, nanti kamu dirusuhin." ucap Wanda.
"Gak akan berani dia, tenang saja. Una itu cewek galak, yang ada Rido nyerah rusuhin dia" jawab Yangki menyahuti percakapan mereka.
"Dasar tukang nguping."
Arnel juga melirik mereka semua, mengawasi Yangki agar tidak membahayakan Aira seperti yang dia kawatirkan. Dia selalu berfikir Yangki manusia berbahaya, begitu pula dengan Rido menatap dengan kesal.
Aira pindah melihat tomat yang terlihat hampir mati didekat Tuan Muda Arnel berdiri, Aira memeriksa batang dan daunnya yang seolah pucuknya juga kuning bahkan tomat ini tidak berbuah.
"Apa tomat bisa sakit seperti manusia ya?" mungkin saja kan, kalau tidak untuk apa orang menjual pupuk dan racun hama?" gumam Aira dalam hati.
Tanpa sengaja Aira tergelincir karna memijak batu dan terjatuh kesamping, Arnel dengan spontan menangkap Aira yang jatuh kearahnya.
Tatapan kedua mata anak manusia itu saling beradu pandang satu sama lain, dekat dan sangat dekat. Arnel tersadar akan posisi mereka saat ini, dia segera melepaskan pelukannya hingga gadis itu terjatuh, dan pantatnya terhanyak diatas tanah.
"Awwhh..." ringis Aira.
Aira Berdiri dan menepuk rok nya yang kotor karena terhanyak ditanah, dia segera menghampiri Una dan teman-teman lainnya.
"Makasih Tuan telah menangkap ku tadi, kalau tidak mungkin tomat-tomat ini akan rusak terhimpit oleh tubuhku. Aku permisi ke teman-teman dulu tuan"
Arnel hanya mengucapkan kata "Hm" mungkin artinya setuju. Arnel merasa salah tingkah karena gugup dan berdebar saat memeluk Aira tadi.
__ADS_1
"Sial kenapa aku gugup seperti ini saat bertatapan dengan cewek desa itu? dan jantungku berdebar-debar, apakah aku juga terkena penyakit puber yang papa katakan? Ah,,, pasti penyakit puber Yangki itu menular kepadaku!" Arnel bergumam dalam hati sambil meremas rambutnya frustasi.
Selesai meneliti dan mencatat tentang tomat, mereka beralih ke kolam ikan yang kecil disebelahnya. Kolam yang kecil itu tidak bisa memuat semua kelompok melingkar, jadi hanya beberapa orang yang berjongkok disana melingkari kolam.
Una, Aira, Andi dan Yangki salah satu dari yang berjongkok disana. Sedangkan Tuan Muda Arnel dan Tuan Muda Rido berdiri sambil menatap sinis kepada pemuda yang dianggapnya musuh, siapa lagi kalau bukan si tampan Yangki.
Mereka bertanya jawab tentang ikan, Yangki terlihat sangat ahli dan pandai merawat ikan dia juga mengetahui nama- nama ikan. Dia juga bercerita kalau dia mempunyai kolam ikan yang luas dirumahnya.
Tuan Muda Arnel dan Tuan Muda Rido kesal sekali mendengar ucapan Yangki. "Cih, dasar pamer. Aku bisa membuat kolam ikan seluas rumahnya," sungut Tuan Muda Arnel pelan seolah sedang berbisik, tapi Tuan Muda Rido mendengarnya dengan jelas.
"Iya benar, aku juga bisa membawa ikan satu mobil untuk Una. Jika dia suka dengan ikan, tidak perlu meminta ikan pada pecundang itu untuk hiasan rumah. cih..!" dongkol Rido dalam hati menyahuti kekesalan Tuan Muda Arnel.
Setelah semuanya selesai, laporan kelompok diserahkan kepada seksi alam OSIS dan mereka bisa melanjutkan bermain seperti main volly, catur, ataupun lainnya.
Pada malam harinya mereka berkumpul kembali. Wakil Ketua OSIS memberikan informasi seputar pertandingan kerapian dan keindahan kelas serta memberikan contohnya.
"Dan malam harinya kita akan mengumpulkan suara untuk pemilihan raja dan ratu MOS untuk tahun ini."
Setelah itu mereka kembali melakukan permainan seperti malam sebelumnya, tertawa riang melewati malam yang indah hingga mereka tertidur dengan lelapnya.
Pagi-pagi sekali seseorang membangunkan Tuan Muda dengan gugup dan takut. "Tuan Muda bangunlah, kakak OSIS mencari ketua kelas."
"Ahhh... Jam berapa sih sekarang? kelihatannya masih gelap," jawab Tuan Muda Arnel serak sambil mengusap matanya dan menatap keluar tenda.
"Masih jam 5 subuh Tuan,"
"Apa mereka tidak bisa lebih pagi dari ini? aku belum puas tidur! Ah...." ketus Arnel duduk sambil membanting selimutnya dengan wajah cemberut seperti harimau yang memelototi sang kancil.
Arnel merapikan bajunya, dan mencuci muka diluar tenda menemui kakak senior itu. "Pagi kakak, saya Ketua Kelas VII(A) apakah ada hal yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
"Pagi, ini satu kotak bahan untuk kalian. Kalian bisa membuat apa saja untuk mempercantik kelas kalian nanti, kalian bisa memulainya dari sekarang. Setiap kelas akan memiliki satu kotak barang dengan isi yang sama, semua nilai tergantung dari kerjasama kalian, membuat kelas kalian terlihat indah dan rapi adalah tugas bersama,"
"Baiklah kakak senior, terimakasih banyak."
Salah seorang anggota OSIS itu memukul bahu Tuan Muda Arnel. Tersenyum lembut dan mengacungkan jempolnya.
"Ah, Tuan Muda Arnel terlalu sungkan, Kami memberikan ini bukan dalam bentuk formal, jadi santai saja bicaranya. Tidak ada juga disini Guru Pembimbing dan Wakil Ketua OSIS yang sangar itu. Semoga kelas nya nanti menang ya"
Arnel menyuruh seseorang untuk membangunkan semua murid sekelasnya, murid-murid mengutuk emosi karena masih mengantuk. Tetapi tidak berani membantah, kecuali Tuan Muda Yangki dan Tuan Muda Rido.
Tuan Muda Yangki segera duduk dan mencuci mukanya setelah melihat Aira telah berkumpul, sedangkan Tuan Muda Rido masih tidur malas-malasan.
"Apa semuanya telah berkumpul?"
Andi menjawab dengan gugup sambil menunjuk tenda kecil disebelah tenda mereka disana, "Tuan Muda Rido masih tidur didalam tenda yang kecil itu Tuan Muda."
Tuan Muda Rido tidak Sudi tidur bersama seperti malam kemarin, jadi dia meminta pengurus pribadinya untuk mengantarkan tenda pribadi untuknya. Arnel berjalan menuju tenda dan menendang tenda itu dengan keras.
"Hei kau! Bangun!"
Arnel menendang lebih keras, di dalam tenda itu masih tidak bersuara. Arnel membuka tenda itu dan menarik selimut Tuan Muda Rido.
Tuan Muda Rido duduk dengan mata melotot seperti serigala melihat mangsa, " Ahh.." suara serak terdengar keluar dari mulutnya. Dia mengepalkan tinju dan meninju Tuan Muda Arnel. Tuan Muda Arnel mengelak dan menendangnya.
Tuan Muda Rido tersulut emosi, "Berani sekali kau menendangku bangsat!" Dia berdiri hendak memukul kembali Tuan Muda Arnel.
Mereka berdua hampir saja membuat ribut subuh ini, jika sampai ribut tidak tau hukuman apa yang akan diberikan wakil ketua OSIS Niko dan Bendahara OSIS Niken kepada mereka, tapi untunglah Una datang melerainya.
"Apa yang mau kalian lakukan?"
__ADS_1