(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Selamat Ulang Tahun Aira


__ADS_3

Dikantin sekolah, murid-murid ramai dan berdesakan memesan makanan dimeja kantin. Ada yang sudah mendapatkan pesanannya dan membawanya kemeja makan diruang kantin itu.


Tuan Muda Arnel juga salah satu diantara yang duduk disana, ia duduk menunggu pesanannya dibawa oleh teman-temannya, maklum orang kaya lebih suka dilayani. Beberapa meja dari meja Tuan Muda Arnel duduk, meja Tuan Muda Rido duduk menghadap berlawan disebrang mejanya.


Beberapa menit kemudian, suara ribut terjadi didepan meja kantin. Entah apa yang terjadi, kejadian itu membuat kantin menjadi berisik, sehingga seorang guru piket yang terkenal paling bengis menegur mereka.


"Ada apa ini?" tanya pak Masri guru piket hari ini.


"Maaf pak, makanan ini sisa satu. Aku yang memesan duluan makanan ini tapi ia mengambil duluan," jawab teman Arnel membela diri.


"Tidak pak, jelas-jelas aku yang memesan duluan, bahkan Tuan Muda Rido selalu memakan makanan ini setiap hari, setiap jam istirahat," sambung teman Rido tidak mau kalah.


" Sudah, sudah, kalau begitu makanan ini untuk saya saja karena cuma tinggal satu porsi, kalian beli yang lain saja."


"Ta...tapi pak..."


"Atau kalian mau saya hukum? kalian telah menggaggu murid-murid yang lain dan penjual kantin karena pertengkaran kalian,"


"Lihatlah orang-orang berbaris dari tadi!"


Tuan Muda Arnel menatap tajam kearah Tuan Muda Rido, begitu pula sebaliknya. Mereka saling menyalahkan satu sama lain dalam pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


"Ini pasti disengaja sama sibrengsek itu, dia sengaja ingin cari masalah sama saya. Pura-pura menyukai makanan yang saya suka dan membeli apa yang ingin saya beli, lama-lama aku hajar juga ini orang," Tuan Muda Arnel bergumam dalam hati.


"Cih, sial sekali. lagi-lagi karena dia. Tadi dapat pukulan dari guru, sekarang makanan aku pun ia mau beli dan sekarang diambil sama guru killer ini," Tuan Muda Rido bergumam dalam hati.


Dibangku taman sekolah, Yangki dan Aira masih memakan makanannya dengan lahap. Setelah menghabiskan makanan Aira bertanya kepada Yangki yang membuatnya penasaran dari tadi, tapi Yangki menyuruh Aira menghabiskan makanan terlebih dahulu.


"Makananku sudah habis ni! ayo, apa yang mau kamu katakan? katanya setelah makan ada yang mau di bicarakan," tanya Aira yang dari tadi penasaran.


Tuan Muda Yangki memberikan sebotol air kepada Nona Muda Aira, "Minum dulu nanti kamu bisa cegukan,"


Aira mengambil botol minuman dari tangan Yangki, dan meminum nya. Yangki membuka tas nya dan mengambil sebuah buku yang dibungkus dengan kertas kado.


"Selamat ulang tahun ya Aira, ini ada hadiah untukmu. Aku harap kamu suka, karena aku gak tau mau kasih kamu apa. Kamu gak suka coklat dan makanan manis lainnya, kamu juga gak suka perhiasan dan boneka, jadi aku beli buku ini ditoko, aku lihat kamu suka membaca," ucap Tuan Muda Yangki gugup menyerahkan kado itu.


Aira tiba-tiba memeluk Yangki dengan erat, cukup lama pelukan itu, ia tersedu-sedu dalam pelukan itu, membuat Yangki semakin salah tingkah, apakah dia membuat kesalahan atau hadiah itu terlalu jelek untuk Nona Muda Aira.


"Makasih Yangki, aku sangat senang. Tidak seorangpun yang ingat ulang tahun ku dari dulu, kecuali mama dan papaku. Mereka telah beberapa tahun yang lalu meninggal dunia, aku sangat merindukan mereka sekarang. Izinkan aku memelukmu, aku malu terlihat lemah dan menangis didepan seseorang. Biarkan aku memelukmu agar kau tidak melihat wajah cengengku," ucap Aira sambil tersedu-sedu dalam pelukan Yangki.


Tuan Muda Arnel menghabiskan sebotol air mineral, nafsu makannya menjadi hilang melihat Tuan Muda Rido beserta teman-temannya, bahkan barusan makanan yang ia pesan juga bermasalah dengan Tuan Muda Rido itu, membuat Arnel semakin jengkel.


Ia berdiri dan pergi meninggalkan kantin sendiri, ia melarang teman-teman nya agar tidak mengikutinya karena dia sedang kesal. Ia berjalan tanpa arah karena kesal, tiba-tiba ia terhenti saat melihat Tuan Muda Yangki berpelukan dengan Nona Muda Aira.

__ADS_1


"Apa yang mereka lakukan disekolah? mereka berpelukan. Cewek desa! kamu benar-benar tidak bisa dibiarin lagi, aku akan menghukum mu nanti! lihat saja!" ucap Arnel bergumam dalam hati sambil mengepalkan tinju ditangannya.


"Baiklah, menangis lah jika itu membuatmu merasa lebih baik, aku tidak akan menertawakan mu jadi tidak usah malu. Kamu tetap cantik dan kuat walaupun sedang menangis," ucap Tuan Muda Yangki sambil mengusap punggung Aira yang sedang memeluknya.


"Kurang ajar, pria sampah itu benar-benar berbahaya. Dia bukan hanya memeluk cewek bodoh itu, tapi juga menyentuh punggungnya berkali-kali. Apakah cewek desa itu tidak punya malu berpelukan disekolah?" gerutu Arnel dalam hati.


Aira melepaskan pelukannya dan merapikan rambutnya, mengusap wajahnya beberapakali. Kemudian ia membuka buku yang terbungkus dengan kertas kado itu, dia memeluk buku itu dengan mengucapkan terimakasih yang sangat dalam kepada Yangki.


Yangki menatap wajah Aira dengan senyuman indahnya, antara bahagia dan sedih saat melihat gadis didepannya itu memeluk buku itu. Merasa bersalah karena membuat ia mengingat orangtuanya, merasa bahagia karena ia satu-satunya yang mengingat ulang tahun gadis didepannya itu.


"Cih... hanya sebuah buku? kenapa perlu terharu sampai memeluk dan menangis begitu? kenapa dia tidak pernah seperti itu padaku? terharu saat aku memberikan sesuatu? jangankan buku itu! toko buku aku bisa membelinya!" Arnel bergumam dengan kesal dari kejauhan melihat mereka.


Bel masuk berbunyi, Aira dan Yangki segera merapikan kotak makanannya dan bersiap kembali ke kelas, begitu juga dengan Arnel menuju kedalam kelas saat mendengar suara bel berbunyi.


Di dalam kelas Arnel tidak bisa berkonsentrasi sampai jam pulang pelajaran, ia sangat kesal dengan Aira yang tidak bisa dikasih tahu untuk jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain kecuali dengan dirinya.


" Ah sial, aku sungguh tidak bisa berpikir dengan baik sekarang! otakku hanya memikirkan cewek desa itu yang tidak tau diri itu! aku sudah ingetin untuk kebaikan nya, tapi tidak mendengar! ah....." gumam Arnel dalam hati sambil mengacak rambut belakangnya.


Arnel keluar terlebih dahulu saat mendengar bel pulang berbunyi, ia berdiri dipojok parkiran. Biasanya dia tidak pernah berdiri disana seperti pencuri yang mengintip tuan rumah keluar rumah, ia biasanya menunggu didalam mobil atau duduk disamping mobil terparkir.


"Yangki, aku duluan ya. Kita berpisah jalan Disni aja ya, gak usah beriringan sampai kedepan deh," ucap Aira sambil melambaikan tangan kearahnya.

__ADS_1


"Baiklah, hati-hati ya."


__ADS_2