
Wajah Arnel kini bersemu merah bercampur bahagia, ia tidak bisa lagi mendeskripsikan perasaannya saat ini, saat jari jemari gadis yang ia sukai menyentuh wajah nya, tersenyum seperti ini sangat lah cantik untuknya.
"Tuan Muda kenapa? kok pipi nya merah gini sih?" tanya Aira polos.
Ia gelagapan, ia amat lah malu sekarang karena ketahuan blushing di depan Aira.
"Ya karena panaslah! sekarang kita lagi panas-panas gini, jalan kesini cuma buat minta tanda tangan," terangnya sembari mengusap wajahnya.
Setelah berjalan kesana kemari dan melakukan hal-hal yang di inginkan kakak senior serta menjawab pertanyaan mereka, benar saja sekarang mereka telah selesai meminta tanda tangan dan sedang duduk istirahat meminum minuman dingin yang di belikan oleh teman Arnel untuk dia dan Aira.
"Apa boss mau makanan cemilan lain? biar aku carikan," ucap teman yang baru saja memberikan minuman dingin kepada Arnel.
"Apa kamu lapar? mau cemilan gak?" tanya nya pada Aira.
"Gak usah deh ngerepotin aja, biar aku beli sendiri aja deh," jawab Aira.
"Pasti kamu capek loh! barusan belikan minuman, masa pergi lagi beli cemilan." sambung Aira berkata lembut kepada teman Arnel itu.
Kedua alis Arnel terpaut, ia mengernyitkan keningnya, mengungkapkan isi hati yang tidak suka Aira bersifat lembut kepada laki-laki lain.
"Beli yang enak sana deh!" perintah Arnel yang tiba-tiba dingin.
"Gak u....." ucapan Aira terpotong.
"Baiklah boss," jawab nya dengan segera sembari berdiri dan melangkah pergi.
"Tuan muda gak usah ngerepotin mereka, kasihan kan mereka jadi nya," tukas nya.
"Oh, jadi kamu lebih suka lembut sama mereka? biar bisa dekat sama kamu gitu?" ketus Arnel.
__ADS_1
"Sama aku aja gak pernah lembut dan cuek, tapi kalau sama Yangki si cowok sampah itu dan sama cowok lain lembut! apa sih kurangnya aku?" Arnel bergumam-gumam kecil nyaris seperti berbisik.
Sial! apa yang aku ucapkan barusan? semoga aja dia gak denger deh, dasar mulutku ini! kenapa sih sampai keluar apa yang terpikir dalam benakku, batin Arnel.
Tapi gumaman itu terdengar jelas oleh Aira, seketika ia terbengong memikirkan perkataan Tuan Muda Arnel yang akhir-akhir ini bersifat aneh.
Kenapa ya sekarang Tuan Muda jadi aneh? sebentar manis banget, terus tiba-tiba marah gak jelas sama aku! terus sekarang suka banget ikut campur urusanku, biasanya gak pernah gitu deh!
Dan sekarang dia bilang aku lembut sama Yangki dan cowok lain, sedangkan sama dia aku gak lembut? apa yang dia pikirkan sampai mempunyai pikiran seperti itu? jelas-jelas aku begitu menghormati nya, bagaimana mungkin aku tidak lembut kepadanya? ujar Aira dalam hati.
"Apa aku pernah berkata kasar sama Tuan Muda? jika ada maaf kan saya Tuan, saya tidak akan berkata kasar lagi kedepannya, silahkan Tuan Muda katakan saja sifat kasar apa yang tidak Tuan suka dari saya, biar saya tidak melakukan lagi," tutur Aira.
Arnel menatap intens menerobos bola mata indah Aira yang tersembunyi di sebalik kacamata nya.
Bukan kasar Aira, tapi banyak hal yang tidak aku suka dari sifatmu, apalagi jika kau tersenyum kepada cowok sampah si Yangki itu. Huh! memikirkannya saja aku jadi muak, cela Arnel dalam hati.
"Maksudnya gimana Tuan muda?"
Ekspetasi yang di harapkan Arnel tidak sesuai dengan cerita film romantis yang ia tonton, hasilnya nihil dengan jawaban 'maksudnya?' padahal Arnel berharap seperti dalam film romantis.
'Sungguh? apa kau mencintaiku?' lalu wajah wanitanya berbinar bahagia dari ungkapan rasa cemburu si pria, dan mereka berpelukan. Begitu lah film yang ia tonton.
"Apa kau bodoh?" sindirnya kepada Aira.
"Maaf Tuan Muda, aku sungguh belum mengerti, maksudnya aku gak boleh berteman dengan laki-laki gitu?"
Dasar bodoh, ya sudah itu lebih baik, batin Arnel.
"Anggap saja begitu!" balas Arnel.
__ADS_1
Kan aneh lagi, sekarang melarang aku berteman dengan laki-laki, ya sudah lah aku malas berdebat sama dia, bikin pusing, Aira berkata dalam hati.
Karena kepopuleran Arnel, dan Aira dikenal dengan kepintaran nya, mereka paling cepat mendapatkan semua tanda tangan kakak senior OSIS, setelah beberapa saat kemudian di susul juga oleh Andi dan Wanda.
Walaupun awalnya mereka lebih cepat meminta tanda tangan, tapi mereka terkendala dengan tugas dan pertanyaan dari ketua dan wakil ketua OSIS sehingga mereka lebih lambat dari pada Aira yang baru datang meminta kepada ketua dan wakil ketua.
Tentu saja karena Aira pintar dan penurut semua menjadi cepat untuknya, apalagi kalau sama Arnel penurutnya kebangetan.
Di sisi lain, Yangki mengambil tugas melukis. Ia sekarang satu ruangan dengan Rido dan Una, walaupun Una dan Rido di depan dan Yangki paling belakang, tetap saja aura dingin mencekam dari Rido terpancar jelas untuk Yangki.
Ia melukis seni rupa romantisme, jenis seni ini biasanya adalah yang memiliki ciri menarik, istimewa, dan indah. Seperti kejadian-kejadian yang menyenangkan, percintaan, dan manusia berparas anggun.
Ia memulai dengan melukis seorang gadis yang duduk di atas kursi di sebuah taman, ia duduk menyamping bak bidadari dengan pakaian putih yang cantik, rambutnya panjang terurai menggunakan kacamata, tangannya memegang sesuatu berbentuk hati.
Di sekitar taman ia menambahkan beberapa bunga dan dua ekor kupu-kupu, dan disamping kiri kanan lukisan taman itu ia membuat beberapa batang pohon sejajar membentuk jalan taman.
Kemudian ia melukis seorang laki-laki yang berdiri di belakang sang gadis cantik yang memegang payung dan satu lagi tangannya memegang bunga mawar merah, ia memayungi gadis itu, dan kembali membuat lukisan itu berbentuk seperti hujan.
Ia memeriksa lukisan dan memperjelas garis-garis dan warna tertentu di lukisan itu, lukisan itu seolah menceritakan ia akan selalu berada di sisi Aira, mencintai dan melindungi nya walaupun Aira tidak pernah mengetahui itu.
Seketika ia tersenyum memandangi lukisan itu, ada rasa di dadanya yang seolah menghimpit hatinya.
Wajahmu terlukis jelas di hatiku Aira, ucap nya dalam hati dengan senyuman yang tercetak indah di bibirnya.
Sedangkan Una melukis seni rupa surealisme, jenis seni ini adalah memproyeksikan objek yang dilihat secara natural menjadi objek yang ada di dalam mimpi dan bersifat imajinatif serta unik.
Ia awalnya terinspirasi melihat sapu lidi di samping pintu kelas, kemudian dia melukis seolah Rido penjahat yang mengejar dia dengan sapu lidi, melukiskan kalau ia adalah putri yang cantik sedang kehilangan kekuatan dengan melukis sayap-sayap nya rusak dengan melukis bulu-bulu berserakan disana.
Sampai seorang pria bersayap hitam seolah seperti pangeran kegelapan meremas sapu lidi Rido. Ia menggambarkan sosoknya sebagai putri dari jauh yang berserakan bulu, dan melukis Rido yang berada dalam genggaman tangan yang besar seolah berada jauh di posisi depan, dan satu lagi tangan yang besar meremas sapu lidi.
__ADS_1