(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Menikah


__ADS_3

Hari ini, Ari bersama adik-adiknya pergi ke rumah Nelma. Kedatangan mereka benar-benar kejutan, apalagi tujuan Ari datang kemari.


“Hari ini saya datang berniat meminang putri Bapak dan Ibu, jika kalian berkenan.” ucapnya santun.


Bukan hanya Nelma dan orangtuanya saja yang terkejut, namun juga adik-adik Ari. Semalam dan pagi ini, dia tidak menjelaskan apapun pada mereka, hanya diminta menemaninya ke rumah Nelma.


“Tuan Muda, apakah ini benar?” tanya Ibu Nelma antusias.


“Ya, Bu. Saya sangat serius. Pertama kali bertemu Nelma saya merasa nyaman, dia baik membuat saya merasa tenang. Dia terlihat seperti wanita rumahan. Aku menyukai itu.” ucap Ari.


Pinangan Ari tentu saja di terima oleh keluarga Nelma, apalagi Nelma sendiri sangat senang mendengar lamaran itu. Tetapi tidak dengan Hardi, ia merasa patah hati dengan sangat. Hatinya benar-benar hancur. Berita tentang lamaran Ari menggemparkan di desa.


Ari pun menikahi Nelma dengan acara sederhana, ia beralasan sangat sibuk, tidak bisa merayakan pesta pernikahan dengan meriah. Pernikahan Ari dengan Nelma membuat kepercayaan rakyat semakin tinggi padanya, hingga ia mudah membangun apapun di desa.


Hardi dengan wajah sedih mendatangi tempat mereka menikah, Ari menyunggingkan senyum kemenangan dan liciknya pada pria itu.


_________________


Seminggu sudah mereka menikah, Ari memutuskan tidur di Villa miliknya bersama-sama adiknya, ia tidak tidur sekamar dengan Nelma. Membiarkan Nelma menghabiskan waktu bersama orangtuanya. Ia beralasan agar Nelma melepaskan rindunya kepada kedua orangtuanya karena ia akan di bawa ke kota.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, Ari beserta adik-adiknya kembali ke kota dengan membawa Nelma.


“Aku pergi dulu, Bu, Yah.” Nelma memeluk kedua orangtuanya.


“Patuh dan hormati suamimu.” ucap Ibunya.


“Jaga diri baik-baik di sana, jangan sampai sakit.” sambung Ayahnya.


“Iya,” Nelma mengangguk, lalu membalik badannya, bergabung bersama Ari dan adik-adiknya.


Mereka pun melakukan perjalanan beberapa jam.


Setelah beberapa jam berlangsung, Mereka sampai di rumah yang sangat besar. Nelma terpana melihat rumah besar itu, sangat besar, seperti istana. Bahkan mulutnya sampai ternganga.


“Iya, Tuan Muda.” Seorang pelayan bergegas mendekat.


“Bereskan gudang, suruh dia tidur di sana.” Ari menunjuk Nelma.


Vilzha hendak menjawab namun Hasan menatapnya tajam, begitupula Rasyid menggelengkan kepalanya. Akhirnya gadis itu terdiam.

__ADS_1


‘Untuk apa menikah? Jika akan menyiksanya?’ Semua adik-adiknya berpikiran seperti itu.


Nelma tersenyum, baginya tak masalah, ia tidur di gudang, di gubuk derita sekalipun, asalkan ia bisa melihat wajah pria yang baru saja menikahinya.


“Mari, Nona.” ajak Susi.


Susi membawa Nelma ke gudang yang berada di samping dapur. Ia membantu Susi berkemas, merapikan kasur itu.


“Nona Muda yang sabar, ya.” ucap Susi lirih.


Semua orang di rumah ini sudah tahu jika Ari menikahi wanita di desa, walaupun pernikahan itu dirahasiakan tak diumumkan pada publik. Mereka berpikir jika Tuan Muda mereka menghamili gadis desa, lalu terpaksa menikahinya. Mereka juga tahu kalau Ari sangat kejam dan memiliki banyak wanita untuk bersenang-senang.


Nelma tersenyum mendengarnya, ia tak terlalu mengerti apa yang dikatakan pelayan itu. Yang ia pahami sekarang, ia adalah istri pria yang ia sukai sejak lama. Ia sangat bahagia.


“Nona, silahkan istirahat dulu. Jika mandi, kamar mandinya ada di sebelah, soalnya ruangan ini tidak ada kamar mandi di dalamnya.” jelas Susi.


“Iya, di desa aja mandi ke sungai kok, Bi. Jadi jangan sungkan, gak apa-apa.” ucap Nelma.


“Kalau begitu, saya permisi dulu, Nona. Ingin melanjutkan pekerjaan saya yang tadi.”

__ADS_1


“Iya.”


...***...


__ADS_2