
Entah apa alasan Arnel, ia berpacaran dengan beberapa gadis belakangan ini, entah ingin menjadi pria populer yang punya banyak pacar, atau melampiaskan kekesalannya.
Kadang ia hanya berpacaran satu hari, lalu memutuskannya, walaupun berpacaran nya hanya duduk sebentar, makan bareng dikantin, mengobrol di bangku taman sekolah, ia tidak pernah lebih dari dua minggu paling lama berpacaran lalu putus, ganti baru.
Bahkan ia merasa jijik sendiri dengan pacar atau pun mantannya, ia tidak pernah peduli dengan pacar atau pun mantannya, ia hanya bermain-main dengan mereka.
Rido juga begitu, setelah ditolak Una berkali-kali, ia berpacaran dengan beberapa gadis, mulai dari yang pendiam sampai yang centil. Tapi ia sama dengan Arnel, cuma pacaran sehari sampai seminggu, namun tidak cepat berganti seperti Arnel.
Berbeda dengan Yangki, ia selalu menutup diri dengan gadis-gadis yang menyukainya, dia hanya merespon surat cinta saat pemilihan OSIS beberapa waktu lalu, karena bertanding dengan Rido dan Arnel.
Walaupun akhirnya dalam pertandingan Ketua OSIS itu mereka kalah, tapi setidaknya pertandingan itu membuat ia bisa tetap dekat dengan Aira, karena suara terbanyak diantara mereka bertiga dimiliki olehnya.
Sekarang, ia kembali tertutup. Hanya dekat dengan Aira dan beberapa teman laki-laki lainnya, ia hanya berbicara beberapa kata dengan Wanda dan Una, tapi sangat perhatian, lembut dan selalu mendekati Aira setiap saat.
Ia juga memilih duduk disamping Aira kembali di dalam kelas, di kelas sekarang bukan lagi Yangki dan Arnel menjadi ketua dan wakil ketua kelas, sedangkan Aira malah terpilih menjadi sekretaris oleh wali kelas.
Yangki sering membantu Aira dengan hal apapun di kelas, membuat mereka semakin dekat.
Tidak terasa, sekarang mereka juga sudah kelas tiga SMP, mereka sudah menjadi senior paling berkuasa, apalagi Tuan Muda Rido dan Arnel, akhir-akhir ini mereka menjadi lebih dekat, mungkin sudah berteman.
Entah alasan apa yang membuat mereka lebih dekat, bahkan mereka tidak pernah lagi bertengkar, bahkan sejak kelas tiga Arnel tidak pernah lagi bertengkar dengan siapapun, ia hanya menghabiskan waktu membully adik kelas, adik kelas itu tidak berani memberontak apalagi melawan, dan gonta ganti pacar, tentunya.
Yang bertengkar hanya Rido dengan beberapa murid lain, dan yang paling utama dia cari masalah adalah Yangki, ia selalu mencari masalah tanpa sebab. Seperti dendam yang tak kunjung padam.
Mungkin karena cinta ditolak Una, tapi Una selalu memuji Yangki, membuatnya iri atau cemburu, entahlah. Hari-hari terus berlalu, hingga sampai di hari mereka memasuki waktu ujian akhir sekolah.
Mereka mengikuti ujian dengan tertib beberapa hari, setelah ujian mereka menerima pengumuman tentang hasil ujian dan kelulusan. Sebelum hasil kelulusan keluar mereka berkumpul berkelompok.
__ADS_1
Ada yang di halaman sekolah, di taman, di bangku-bangku sekolah, duduk di dalam kelas. Bahkan ada yang berdua-dua an memadu kasih rindu untuk perpisahan dipojok sekolah.
Dibelakang sekolah berdua-duan, ada yang nongkrong di kantin-kantin sekolah, dan ngerumpi diteras kelas, beberapa siswa bersandar di dinding sekolah sambil menggoda-goda beberapa siswi yang melewatinya.
Begitu pula dengan Yangki, ia mengajak Aira berbicara di taman sekolah, menanyakan perencanaan akan menyambung di SMA yang mana.
"Ra, rencana mau lanjut sekolah di SMA mana? kita sekolah di SMA xxx yuk, disana bagus ada pemandangan indah di belakang sekolahnya, pendidikannya disana juga bagus," ajak Yangki.
"Kayaknya gak bisa deh, paman Ari Damrah udah suruh sekretaris nya buat daftarin aku sama Tuan Muda Arnel di SMA yang paling bagus di negara ini."
"Tapi disana kusus SMA yang diperuntukkan untuk anak didik yang akan bisnis, mendingan Di SMA xxx."
Aira kehilangan kata-kata, karena ia tidak bisa memilih sekolah manapun yang ia inginkan. Ia hanya bisa menerima disekolah yang di pilihkan Ari.
Sedangkan Rido juga mencari tau Una melanjutkan sekolah dimana, ia meminta dan membayar beberapa teman-teman agar memperoleh informasi dimana Una melanjutkan SMA nya.
Beberapa hari kemudian, Andi memberikan informasi kalau Una akan sekolah di SMA dimana Arnel dan Aira akan melanjutkan sekolah, membuat Rido semakin kesal.
Tentu saja, karena ia mengetahui kalau Yangki mengikuti di mana Aira bersekolah, sehingga membuat Una dan Wanda juga bersekolah disekolah yang sama.
Andi tidak bisa sekolah disana, karena kekurangan biaya, untuk masuk ke SMP ini saja ia harus berusaha mendapatkan beasiswa. Sedangkan di SMA terbaik di kota ini, ia merasa tidak bisa mendapatkan beasiswa nya.
Rido yang mendengar kabar itu, akhirnya membantu Andi masuk ke sekolah yang sama, dengan membayar uang sekolah satu tahun ini, dan menyuruh Andi untuk mengumpulkan uang untuk membayar uang sekolah di tahun berikutnya.
Semua yang ia lakukan tentu saja untuk informasi Una, dan informasi tentang Yangki dari Andi. Sebenarnya Andi juga terpaksa, ia hanya dari keluarga berkecukupan, untuk masuk disekolah itu adalah kebanggaan tersendiri untuknya. Apalagi ia bisa tetap dekat dengan pacarnya Wanda.
Tidak terasa, mereka telah lulus dan sekarang mereka melakukan perpisahan, membuat beberapa acara perpisahan dengan teman-teman dan guru.
__ADS_1
"Ra, senang ya kita bisa tamat SMP, selamat ya nilai kamu paling tinggi," ucap Yangki menjulurkan tangannya.
"Iya, gak nyangka udah tiga tahun aja ya kita bersama, kamu juga selamat ya nilai kamu juga beda sedikit dari pada aku," jawab Aira dengan membalas salam Yangki.
Yangki memberi satu bingkisan kado untuk Aira, dengan senyum malu-malu.
"Selamat ulang tahun ya Ra."
Aira langsung memeluk Yangki, tentu saja karena setiap tahun hanya Yangki orang pertama yang memberikan hadiah dan ucapan, walaupun akhirnya Arnel juga mengucapkan setelah itu, tapi Arnel selalu telat.
"Makasih Yangki."
Ia membuka kado, ia melihat beberapa ikat rambut dan satu mainan di dalam kotak kaca, di dalam kota kacak ada satu tangkai bunga mawar merah.
"Wah, cantik banget."
Kemudian Yangki memberikan satu buah kotak lagi, membuat Aira tercengang.
"Ini satu lagi, hadiah untuk kelulusan kita," ucap nya tersenyum manis.
Aira membuka hadiah itu dengan semangat, di dalam kotak hadiah itu ada mainan tas dan satu buku diary berwarna pink.
"Makasih Yangki," ucapnya kemudian memeluk Yangki lagi dengan gembira.
Dari kejauhan Arnel melihat Aira begitu bahagia bahkan memeluk Yangki sampai dua kali, dada nya benar-benar panas melihat itu. Ia sangat cemburu, ingin rasa nya ia mengambil semua hadiah itu dan membuangnya.
Hanya saja, ia telah berjanji agar bersifat lebih baik dan tidak kasar pada Aira, berharap Aira akan menyukainya.
__ADS_1