
Wajah Aira berubah sekarang, saat Agung melanjutkan pembicaraannya, ia menghentikan makan nya, ia bergegas menuju ke dalam kamar meninggalkan tiga orang yang duduk di meja makan itu.
Sifat apa itu? mama bukan marah sama papa? tapi lebih terkejut mendengar nama Andi yang meminta lukisan itu, apa pentingnya lukisan itu? pikir Agung.
Tiba-tiba lamunan Agung dikejutkan oleh pertanyaan Humaira.
"Kak, apa Alex itu ciri-ciri nya tinggi besar, rambutnya tebal hitam di potong pendek klasik sisir kebelakang, membuat tiga garis diatas telinga kiri nya dan memakai anting bulat kecil berwarna hitam ditelinga kanan?"
Agung tidak menyangka adik perempuan nya itu menyebutkan dengan benar ciri-ciri pria itu.
"Bagaimana kau bisa tau dik?"
Hah? jadi anak baru itu benaran saingan perusahaan yang baru di pegang kakak? itu sungguh menarik, kau memulai pertarungan dengan kakak ku? aku juga akan memulai pertarungan denganmu di sekolah, lihat saja nanti! Humaira berkata dalam hati.
"Iya kak, dia murid pindahan dari luar negri beberapa minggu lalu."
Kenapa aku kesal ya mendengar gadis kecil ini mengenal laki-laki yang mengambil alih proyek pertama ku itu? gerutu Ronald.
"Kakak tenang saja, jika kakak butuh bantuan untuk memata-matai dia, aku akan memata-matai nya di sekolah, tenang saja!"
"Gadis pintar, kakak kesal sekali dengan dua orang itu, sombong sekali mereka, apalagi bocah tengik itu, iya kan Ron?"
Hanya kata ' Hmm..' yang terdengar beberapa kali di ucapkan Ronald, ia juga sibuk dengan pikirannya yang terbang entah kemana.
"Iya, dia memang terlihat sombong, tenang saja kak, teman-teman ku di sekolah akan mengajarkan nya sopan santun," ucap Humaira tersenyum manja kepada saudara laki-laki nya itu.
"Aku sudah selesai makan kak, kalau begitu aku mau mengerjakan tugas sekolah dulu deh," sambung Humaira.
Setelah Humaira selesai, mereka berdua juga menyelesaikan makan nya, lalu menuju ke kamar kakek Ari untuk bertanya sesuatu, mungkin beliau tau jawabannya, pikir mereka.
"Kakek apa sudah tidur?" tanya Agung berdiri di depan pintu kamar Ari.
__ADS_1
Ari segera membuka pintu kamar nya dan menyuruh mereka masuk.
"Ada apa cucu-cucu kakek yang tampan ini mencari kakek? apa mau bertanding catur lagi, heheheh," jawab Ari sambil terkekeh.
"Bukan kek, kami merasa kurang bersemangat hari ini, apa kakek mau bantu kami?"
Ari menatap mereka, tidak melihat kebohongan di wajah mereka, tadinya Ari masih merasa kalau mereka sedang bercanda.
"Apa yang bisa kakek bantu?"
"Papa kan punya banyak perusahaan, dari perusahaan besar seperti Damrah Group, dan beberapa perusahaan cabang. Tapi perusahaan Aryando adalah perusahaan yang sudah beliau titipkan kepada kami, kami telah berusaha dengan sebaik mungkin."
"Ini adalah pekerjaan pertama kami, aku akan membangun rumah kenangan untuk gerbang ke lima, begitu juga dengan Ronald akan mengerjakan proyek pembuatan jalan gerbang ke lima sampai beberapa ide lainnya, tapi papa malah memberikan kepada orang lain."
"Maksudnya, Arnel akan membuat gerbang ke lima? dimana? papa kalian belum menceritakannya kepada kakek. Ia hanya menceritakan akan membuat gazebo ditengah danau saja pada kakek."
"Oh jadi kakek belum tau ya?"
••• Siang tadi•••
"Presdir, presdir utama datang ke perusahaan kita sekarang, beliau ingin mengadakan rapat," ucap sekretaris Hendrik kepada Agung.
Kenapa papa datang ke perusahaan? aku masih bisa menghandel pekerjaan di sini kok, belum butuh bantuan.
"Baiklah, kita siap-siap kan berkas-berkas untuk rapat."
"Oh ya, apa Ronald juga ikut rapat kan?" sambungnya.
"Iya Presdir, semua pemegang saham dan pemimpin lain nya telah di beritahu, kita akan mulai rapat jam 2 siang."
Semua orang telah berkumpul di ruang rapat, begitupula dengan Ronald dan Agung yang duduk di sebelah kanan Arnel, sedangkan dua kursi sebelah kiri masih kosong.
__ADS_1
Rapat akan dimulai 10 menit lagi, tapi kursi itu masih kosong, siapa mereka? wajah papa terlihat tegang sejak tadi, dan tidak biasanya mengadakan rapat dadakan seperti ini, dengan mengumpulkan semua pimpinan perusahaan ini.
Tidak lama kemudian, dua laki-laki memakai jas memasuki ruang rapat, mereka menduduki kursi kosong itu. Pemuda yang terlihat paling muda dalam ruangan itu duduk tepat di samping kiri Arnel.
"Baiklah, sekarang semuanya telah berkumpul. Sebagai Presdir Utama saya akan memperkenalkan kalian dengan mereka berdua, di samping saya ini namanya Alex Fernando Admaja dia pemegang saham 10% dan ia adalah Andi Sutomo Admaja perwakilan pemegang saham 30%."
Semua yang ada di rapat terkejut, karena sejak anak perusahaan Damrah ground dan Wijaya Groub ini berdiri adalah milik Rido dan Arnel. Mereka berdua adalah pewaris utama keluarga besar Damrah dan Wijaya, bagaimana mungkin bisa keluarga Admaja mendapatkan saham perusahaan mereka?
Lagian, perusahaan Aryando adalah perusahaan pertama yang mereka dirikan dengan kerja keras mereka tanpa campur tangan keluarga, mereka hanya melakukan dukungan dan membuat pengusaha lain ikut memberi dukungan sehingga perusahaan ini berkembang dengan cepat.
Agung menatap lekat dua pria itu, tentu saja pemuda yang terlihat sangat muda itu membuat dia kesal, selama rapat ia hanya bermain handphone, sangat sombong sekali pikir Agung.
Sebenarnya Arnel juga sangat terkejut kedatangan perwakilan saham 30% itu, ia tidak keberatan sama sekali dengan saham itu, yang membuat dia tidak habis pikir bagaimana mungkin Andi mantan sekretaris di perusahaan Wijaya bekerja untuk keluarga Admaja, bahkan namanya berganti menjadi keluarga Admaja.
Saat bersalaman tadi, tangan Arnel gemetar saking terkejutnya. Andi yang telah menghilang kurang lebih 22 tahun itu muncul di hadapannya, ia selama ini mencari Andi tapi tidak berhasil menemukan informasi apapun.
Sekarang mereka bertemu, tapi pertemuan itu terasa sangat berbeda. Ia bukan terlihat seperti Andi yang dahulu, sorot mata nya penuh benci terhadap Arnel.
Apalagi saat ia menentang tentang lukisan, ia tidak mengizinkan lukisan itu di pamerkan, walaupun lukisan itu sudah diberikan Tuan dan Nyonya Admaja dahulu kepada Rido dan Aira, bahkan sekarang ia meminta proyek yang dikerjakan Ronald untuk Alex.
Arnel sungguh dilema saat ini, proyek ini adalah pekerjaan pertama untuknya, bagaimana bisa ia memberikan kepada Alex yang pertama kali ia temui di ruang rapat ini, bagaimana bisa dipercaya proyek sepenting itu dihatinya.
Bukan masalah uang atau kegagalan, tapi proyek ini tentang hati dan perasaan, tentang sebuah kenangan, bagaimana mungkin orang lain yang mengerjakan.
Apakah Andi sengaja? bukan kah ia tahu betul tentang semua ini, batin Arnel.
Arnel terdiam sebentar, kemudian ia mengirim beberapa pesan kepada Rido, ia langsung mendapatkan balasan yang cepat dan singkat dari Rido
'Baiklah' isi balasan pesan Rido.
Rido menyetujui semua itu, membuat semua orang tidak habis pikir dengan keputusan besar Presdir utama itu, membuat Ronald dan Agung sangat kecewa, karena ini adalah pekerjaan pertama mereka.
__ADS_1
Apa? Dad menyetujui? siapa mereka ? kenapa bisa Dad tidak mempercayai kemampuanku? bahkan di bandingkan dengan yang namanya Alex ini? Ronald berkata dalam hati.