(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Selamat Jalan Yangki


__ADS_3

Una sebagai tetangga Yangki terkejut luar biasa, ia segera pergi ke rumah Yangki bersama orangtuanya. Yuhen menangis tersedu-sedu meremas kunci yang diberikan Yangki padanya. Ia terduduk sedih disudut rumah. Una segera menghampirinya, mencoba menenangkannya.


Semua orang sibuk, saling mengabari satu sama lain tentang kepergian Yangki Admaja. Akirnya Una juga berdiri, ia meminta diantar kepada sopirnya ke rumah keluarga Damrah. Sesampainya disana, satpam menegurnya, tidak mengizinkan larut malam keluar rumah. Una memohon dan akirnya bertemu dengan Aira, ia menjelaskan kepada Sang Bibi dan satpam karena Ari belum pulang.


Aira pergi bersama dengan Una kerumah Yangki. Sedangkan Arnel yang tidak tau apa-apa, marah-marah dan membanting barang-barang. Ia mendengar sekilas kalau Aira meminta izin ingin menemui Yangki, karena ia sakit.


"Huh! kalau pemuda sampah itu sakit dia begitu peduli, bagaimana kalau aku yang sakit?" gerutu Arnel. Ia berjalan keluar dan menemukan pot bunga mawar merah yang diberikan Yangki kepada Aira saat itu. Ia teringat dengan jelas. Karena bunga ini, ia harus melihat adegan mereka berciuman.


Arnel menendang bunga itu dengan kuat, sampai pot itu pecah. Ia memijak-mijak bunga itu. "Huh! matilah kau bunga, mati bersama pemiliknya." Arnel berkata penuh cemburu.


Aira dan Una sampai dirumah Yangki, disana sudah ada beberapa yang datang, ada Wanda, Andi, dan teman-teman lainnya serta Guru-guru. Ia terdiam, bukankah tadi Una berkata padanya, kalau Yangki sedang sakit? Ia masih berpikir sakit karena dikeroyok oleh Rido dan Arnel, tapi apa yang terjadi dihadapannya sekarang.


Aira terdiam lama, tangan dan kakinya gemetar. Apa yang dilihat didepan matanya sekarang bukan Yangki yang sakit. Tapi Yangki yang ditutup dengan kain, terbaring ditengah rumah. Air mata yang ia tahan tak terbendung lagi. Baru saja, ia bahagia. Baru saja, beberapa jam yang lalu pemuda yang terbaring itu melingkarkan cincin ditangannya.


Bahkan baru saja pemuda itu mengatakan ingin menikahinya jika umur panjang. "Apakah ini maksudnya mengatakan umur panjang dan mencintai aku seumur hidupnya? Kenapa kau menyembunyikannya dari ku Yangki?" tangisan Aira pecah, saat mengingat beberapa saat lalu bersama Yangki.


Semua orang baru mengetahui kalau Yangki selama ini sakit. Ia mengalami sakit parah 1 tahun terakhir ini. Awalnya ia terjatuh saat mengambil buku di ruang kerja ayahnya, karena berusaha keras ingin menjadi CEO pengganti ayahnya. Ia ingin menjadi pemuda sukses nomor satu yang akan mengalahkan kekuatan keluarga Damrah, ia ingin menikahi gadis pujaannya.

__ADS_1


Ia menyembunyikannya dari semua keluarganya, sampai kepalanya sakit terus menerus. Awalnya ia di perkirakan, menderita CRPN (complex regional pain syndrome) penyakit yang menyebabkan rasa sakit luar biasa, sehingga membuat pengidapnya mengalami kelelahan, karena kerusakan sistem saraf dan sistem saraf otak.


Dan sakitnya terus berkelanjutan, ditemukan pembekuan darah di otak, menyebabkan tumor otak. Semua terkejut, apalagi Aira selama ini tidak pernah menyadari Yangki menahan sakit. Padahal ia sering melihat Yangki memegang kepalanya. Ia menangis tersedu-sedu mengingat semuanya.


Yuhen mendekatinya. "Apakah kau yang bernama Aira?" tanya Yuhen kepada Aira. Ia melihat pemuda yang tidak dikenalinya itu, dan membalasnya mengaguk sambil menghapus air matanya. "Temanilah adikku ketempat istirahat terakhirnya, aku yakin dia pasti akan bahagia." Ia berkata kembali pada Aira dengan air mata yang mengalir tanpa suara.


Begitu banyak yang datang, satu persatu sampai berkelompok datang, bahkan Ari Damrah dan Keluarga Wijaya juga datang. Rido melihat hanya Aira yang datang, ia melihat-lihat tidak ada Arnel. Ia segera pergi dan menemui Arnel. Ia menjelaskan kepada Arnel kalau Yangki telah tiada.


Kaki Arnel lemas seketika mendengarnya, baru saja ia menendang dan menghancurkan bunga pemberian Yangki, bahkan menyumpahinya meninggal. Sekarang pemuda itu benar-benar meninggal. Ia dan Rido pergi ke rumah keluarga Admaja.


Hancur semua kebahagiaan yang baru saja dialaminya beberapa jam yang lalu, sedih yang tak bisa diungkapkan oleh Aira. Setelah mengantar Yangki ketempat peristirahatan terakhirnya, semua orang berangsur pulang.


Saat Aira sampai di halaman rumah, ia melihat bunga dan potnya hancur. Arnel yang baru menyadari perbuatannya, hanya bisa tertunduk. Aira menangis sejadi-jadinya. Ia mengumpulkan tanah dan serpihan pot itu, ia mengusap-usap bunga itu dan menanamnya kembali, berharap bunga itu tidak mati.


"Hiduplah, aku mohon! Aku akan merawatmu. Jangan tinggalkan aku, aku mohon!" Aira meratapi bunga yang patah itu. Ari mengelus punggung Aira, ia melihat bunga itu. Ari membujuk Aira dan meminta Bi Susi mengambil tanah baru.


Walaupun malam sudah larut, bahkan sekarang sudah jam 2 dini hari, Ari bersama dengan Aira dan Kepala pelayan membawa tanah dan bunga yang patah itu ke tempat kolam pribadi Arnel. Bunga itu patah, tapi urat nya masih utuh. "Tanamlah disini," perintah Ari pada Aira.

__ADS_1


"Paman pastikan Arnel tidak akan berani merusak bunganya lagi." Ari berkata kembali meyakinkan Aira. Ia menanamnya sambil menangis. "Aku mohon, tumbuhlah kembali."


Arnel hanya membatu terdiam dihalaman, hatinya begitu terluka. Apa yang telah ia lakukan. Ia sadar di dalam hati Aira, Yangki begitu berharga. Ia bisa melihat dari tangisan dan makian Aira kepadanya tadi. Gadis desa itu tidak pernah berani memakinya selama ini.


"Kau seorang pemuda yang paling kubenci seumur hidupku Arnel. Kau pemuda egois yang manja dan tidak punya perasaan sama sekali! Kau selalu memaksakan kehendakmu padaku! Memaksa semua orang agar mematuhimu."


"Kau menghancurkan seluruh hatiku, bahkan kau membunuh hatiku! Kau pemuda menjijikkan, aku sungguh jijik padamu, kau merusak kenangan yang telah diberikan oleh orang yang aku cintai."


"Yangki aku sangat mencintaimu, kenapa kau meninggalkan aku." Aira menangis tersedu-sedu. Ia menangis dan mengambil pecahan pot, dan memeluk bunga yang patah itu. Hati Arnel benar-benar hancur mendengarnya.


Arnel menghela nafas panjang, bibirnya gemetar menahan tangis yang keluar tanpa suara, dadanya begitu sesak. Ia tertunduk lemas dan berjalan gontai kedalam kamarnya. Menangisi patah hatinya.


"Aira, ayo kita pergi. Sekarang sudah mau pagi. Kita harus tidur, jangan menangis dan menyiksa diri disini, temanmu Yangki akan bersedih melihatmu seperti ini." ajak Ari. Aira mengangguk tapi air matanya terus mengalir.


Aira dan Ari beserta Kepala Pelayan kembali masuk kedalam rumah. Aira mandi dan terus-menerus menangis, ia bahkan baru tertidur jam 7 pagi karena kelelahan.


Ia terbangun dari tidurnya jam 10 pagi, tanpa mencuci muka, masih kusut dengan baju tidurnya, hanya mengikat rambut dan menggunakan kacamatanya. Ia segera berlari keluar, mengambil sepedanya, dan mengayuhnya ke kolam pribadi Arnel.

__ADS_1


__ADS_2