Aku (Bukan) Wanita Mandul

Aku (Bukan) Wanita Mandul
BAB. 15


__ADS_3

Nisa berusaha untuk tidak mempedulikan omongan Misya dan juga ibu mertuanya. Selesai memasangkan dasi di leher suaminya Nisa mendudukan dirinya di kursi meja makan dan mulai melayani suaminya untuk sarapan.


Mama Erina memperhatikan menantu barunya keluar dari kamar samapi meja makan jalannya aneh.


"Misya kamu kenapa perasaan dari tadi mama perhatiin kamu jalan dari kamar jalannya seperti aneh begitu?" Tanya mama Erina


"Oh ini mah semalam aku kakinya agak terkilir dikit bagian pergelangan kakinya waktu di kamar mandi, tapi sudah baikan ko mah, semalem sudah di pijit sama mas Niko pakai minyak, iya kan mas?" jelas Misya lalu menatap ke arah suaminya


"Hemm" sahut Niko


"Lain kali kamu harus hati hati Misya, nanti kalau samapai kamu jatuh kan bisa bahaya buat kandungan kamu" ucap mama erina


"Iya mah, nanti Misua akan lebih hati hati lagi" ucap Misya


"Nih mas makanannya" ucap Nisa memberikan sarapannya ke Niko.


"Makasih sayang" ucap Niko sembari menatap sang istri di sebrang meja sembari tersenyum.


Melihat sikap manis suaminya kepada istri pertamanya membuat Misya menjadi iri karena berbeda dengan sikap terhadap dirinya suaminya begitu dingin.


"Awas kamu mas, aku akan buat kamu bertekuk lutut sama aku, dan aku akan membuat kamu membenci istri pertama kamu itu" batin Misya sembari menatap wajah Nisa dan Niko secara bergantian.


"Mba Nisa tolong ambilin ikan itu dong" ucap Misya meminta untuk di ambilkan ikan yang tepat di hadapan Nisa.


Nisa tidak merespon dia sedang mengambil makanan untuk dirinya sendiri dan tidak mempedulikan Misya.


"Nisa kamu denger gak sih, itu Misya minta di ambilin ikan yang ada di depan kamu" ucap Mama Erina kepada Nisa dengan nada tinggi.


Tanpa membelas ucapan mama Erina, Nisa meletakan piring nya lalu dia ambil ikannya dan ia berikan ke Misya.


Semuanya menikmati sarapan dengan nikmat, selesai sarapan, niat Nisa ingin mengantar suaminya ke depan untuk pergi kerja seperti biasanya yang ia selalu lakukan tiba tiba ibu mertuanya melarangnya.


Mama Erina meminta biar Misya yang mengantar suaminya ke depan dan Nisa di minta untuk membereskan meja makan bekas mereka makan.


"Sayang aku pergi dulu ya" pamit Niko kepada Nisa istri pertamanya.

__ADS_1


"Iya mas, yuk aku antar ke depan" ucap Nisa


"Eh gak ada gak ada ya, Nisa kamu bereskan meja makan, sekarang kan sudah ada Misya, biar Misya yang antar Niko kedepan dan kamu selesaikan pekerjaan kamu nih meja makan masih berantakan" ucap mama Erina


"Ya sudah mas hati hati ya" ucap Nisa sembari menyerahkan tas kerja suaminya yang ia pegang tadi lalu mencium tangan suaminya.


"Iya sayang, kamu jangan terlalu capek di rumah ya, cup" ucap Niko mengambil alih tas kerjanya lalu mencium kening istrinya.


"Iya mas" sahut Nisa swmbari tersenyum.


Misya semakin kesal melihat adegan kedua orang di hadapannya itu, melihat Niko berjalan ingin keluar rumah, Misya langsung meraih lengan suaminya untuk di gandeng sampai teras depan rumah.


"Hati hati ya mas" ucap Misya lalu mencium tangan suaminya.


"Hemm" sahut Niko langsung beranjak menunggu mobil.


"Mas Tunggu" panggil Misya


"Apalagi Misya ?" Tanya


"Ini mas lupa, tadi mas cium kening mba Nisa masa sama aku tidak" ucap Misya sembari menunjuk keningnya.


Sedangkan Nisa sepeninggalan Niko, dia langsung membereakan meja makan seperti yang di perintahkan ibu mertuanya, hal seperti ini tidak masalah buat Nisa, karna ini adalah kerjaan setiap hari nya seperti ini.


Mama erina yang masih duduk di kursi meja makan melihat sikap Nisa yang menurut dia makin kesini makin berani membuat mama Erina menjadi kesal sendiri melihatnya.


"Kamu tuh Nisa harusnya ngertiin dong, mereka kan Pengantin baru, beri waktu mereka untuk berdua jangan maunya kamu kuasaain sendiri putra saya, lagian Misya kan lagi hamil anak Niko, jadi pasti dia itu lebih membutuhkan perhatian suaminya karena mood orang hamil tuh suka berubah ubah dan kamu harus ngertiin itu" ucap mama Erina


Nisa masih fokus dengan pekerjaannya sendiri, dia males untuk menanggepi omongan ibu mertuanya, sedangkan mama Erina melihat sikap Nisa yang diam dan acuh ketika di beritahu membuat mama Erina semakin kesel.


"Oh kami mana bisa ngerti ya, orang kamu belum pernah hamil sih, oh bukannya belum tapi tidak akan bisa hamil lebih tepatnya, jadi tidak akan tahu gimana hamil itu seperti apa" ucap mama Erina menyindir menantunya.


“Cukup mah, selama ini aku selalu diam , mama bilang ini mama bilang itu aku juga selalu diam, aku sudah menuruti semua kainginan mama yang meminta untuk mas Niko menikah lagi, aku izinkan kenapa mama gak pernah sedikit pun menghargai aku mah, aku harus bagaimana lagi mah supaya mama bisa menghargai aku dan menganggap aku sebagai menantu mama di rumah ini” ucap Nisa dengan emosi dia tumpahin semua unek unek di hatinya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


“Kamu mau tahu, dari awal memang saya tidak pernah setuju kamu menjadi istri Niko, kalau tidak karena anak saya yang mohon mohon sama saya agar saya merestui kalian, saya tidak sudi mempunyai menantu seperti kamu, satu hal lagi saya akan terus bersikap seperti ini sama kamu sampai kamu menyerah dan meminta cerai sama Niko” ucap mama Erina.

__ADS_1


Sakit hati Nisa mendengar perkataan ibu mertuanya, dia baru mengetahui kalau pada dasar ibu mertuanya tidak pernah merestuinya, mungkin dari awal suaminya mengajak dia menikah dan dia tahu calon ibu mertuanya tidak merestuinya, mungkin dia tidak akan mau m3nerima lamaran Niko.


“dasar wanita mandul, tidak berguna Niko nikahin kamu kalau kamu tidak bisa memberi dia seorang anak” ucap Mama Erina menatap menantunya dengan tajam.


“Ada apa ini mah?” Tanya Misya yang baru datang dari arah pintu depan.


“Gak, gak ada apa apa, lebih baik kita ke kamar aja yuk, mama lupa kasih kamu hadiah pernikahan kemarin” ucap Mama Erina kepada Misya menantu barunya.


“Iya mah” sahut Miaya lalu berjalan mengikuti langkah ibu mertuanya.


Nisa hanya bisa memandang punggung mama Erina dan istri kedua suaminya itu dengan air mata yang terus menetes di pipinya.


“Gak, aku gak akan menyerah selama aku bisa menyelamatkan pernikahan ku sama mas Niko, aku akan mencari bukti lebih giat lagi untuk membuktikan kejahatan Misya dan aku yakin pasti mama terlibat dalam masalah semua ini” ucap Nisa dalam hati lalu Nisa berjalan menuju kamarnya sembari menghapus air mata yang membasahi pipinya.


Siang ini Nisa akan pergi ke resto yang sekarang menjadi tempat ia untuk mencari uang, sampai sekarang suami dan ibu mertuanya tidak pernah tahu kalau Nisa bekerja di resto, yang suaminya tahu Nisa pergi ke resto hanya untuk menemui sahabatnya saja.


Sedangkan mama Erina sudah pergi arisan dengan teman teman sosialitanya dan ketika Nisa dan Mama Erina sudah pergi, tiba tiba Misya sapat telfon dari mantan kekasih sekaligus Ayah biologis dari anak yang di kandung Misya yaitu Bagas.


Bagas yang kemarin dapat pesan dari Misya kekasihnya bahwa Misya menginginkan mengakhiri hubungan mereka, dia tidak terima karena bagas sudah tahu kalau kekasihnya tengah hamil anaknya, dia menghubungi Misya ingin bertemu dengannya, awal Misya tidak mau tetapi bagas mengancam akan menghampiri dirinya jika dirinya tidak mau menemiunya di apartemen yang dulu di tinggalin Misya.


“Kamu mau apa lagi sih mas?” Tanya Misya setibanya dia si apartemen.


“Apa maksud kamu mengirim pesan dan meminta kita putus?” Tanya balik bagas


“Iya aku mau putus sama kamu, karena sekarang aku sudah menjadi istri orang, kemarin aku sudah menikah dengan laki laki yang lebih dari kamu segala galanya mas” ucap Misya


“Kamu jangan becanda Misya, kamu sekarang sedang hamil anakku kenapa kamu menikah dengan orang lain” ucap Bagas


“Ya terserah aku dong mau memilih menikah dengan siapa, lagian kamu juga mendingan urusin saja istri kamu yang mandul itu” ucap Misya


“Ya gak bisa begitu dong Misya, itu anak aku” ucap Bagas sembari meremas pergelangan tangan Misya.


“Mas sakit lepasin tangananku, mulai sekarang anak ini akan menjadi anakku dan suamiku, dan aku peringatakan ke kamu jangan pernah kamu menghubungi aku lagi dan temui aku lagi kalau tidak anak ini akan aku gugurin” ancam Misya lalu bagas melepaskan tangan Misya.


Setelah bagas melepaskan tangannya Misya langsung meninggalkan bagas sendiri di apartemennya.

__ADS_1


Bagas tidak bisa berbuat apa lagi selain merelakan Misya untuk pergi, karena dia takut Misya nekat akan menggugurkan kandungannya, karena harapan dia punya anak hanya sama anak yang di kandung oleh Misya karena istrinya sudah di vonis oleh dokter kalau dia tidak bisa punya anak sama dengan kata lain istri Bagas mandul.


Walaupun nanti anaknya lahir tanpa mengen dirinya adalah ayahyya tetapi yang terpenting dia bisa melihat anaknya hidup dan besar nanti walaupun tidak tinggal bersama dirinya.


__ADS_2