
Di kediaman Pratama, jenazah Misya sudah mulai dimandikan oleh petugas pengurus jenazah. Kini, jenazahnya akan dibawa ke masjid terdekat untuk dishalatkan. Dari keluarga Pratama, hanya Niko dan sang adik Miko yang ikut ke pemakaman, sementara para perempuan tetap tinggal di rumah. Mita dan Bagas pun tidak ketinggalan ikut mengantar Misya ke peristirahatan terakhirnya.
Mita sebenarnya ingin memberi kabar kepada sahabatnya bahwa Misya telah berpulang, namun dia urung melakukannya karena Niko meminta agar Nisa tidak diinformasikan. Niko merasa tidak enak karena Misya selama ini sering menyakiti Nisa.
Mobil yang dinaiki oleh Kelvin dan Nisa berbarengan dengan rombongan pengantar jenazah ke area pemakaman. "Mas, bukannya itu Mita dan Mas Bagas?" tanya Nisa memberitahukan kepada Kelvin.
"Mungkin saja, Sayang," sahut Kelvin.
"Tau tidak, Mita tahu bahwa Misya meninggal tapi dia tidak memberitahuku," kata Nisa.
"Aku juga tidak tahu, Sayang. Yuk, turun saja. Kita tidak usah lama-lama di sini. Selesai berdoa langsung pulang, oke?" pesan Kelvin dan Nisa langsung menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan menuju tempat peristirahatan Misya yang terakhir. Mita kaget ketika melihat Nisa ada di pemakaman Misya.
"Mit, kamu tahu Misya meninggal tapi kamu tidak memberi tahu aku?" tanya Nisa ketika dia sudah berada di samping sahabatnya.
"Eh, Nis, maaf tadi aku sempat mau memberitahumu tapi Mas Niko meminta agar kamu tidak diinformasikan. Dia merasa tidak enak dari kamu karena Misya selama ini sering menganiaya kamu," jelas Mita. Nisa hanya menganggukkan kepalanya.
"Oh...terus sekarang Tasya di mana?" tanya Nisa.
"Tasya ada di rumah papanya. Aku titipkan dia ke Amel," jawab Mita.
Nisa merasa kasihan kepada Tasya, sebab masih kecil ia sudah kehilangan ibu kandungnya. Untunglah, ada sahabatnya yang dengan ikhlas merawat Tasya, meski Tasya adalah anak dari selingkuhan suaminya.
"Aku tahu tentang Misya dari Mas Kelvin. Dia yang diberitahu asistennya," kata Nisa.
Pemakaman sudah selesai. Seperti yang dijanjikan oleh Kelvin, begitu selesai mendoakan almarhum, kini Nisa dan Kelvin akan pulang. "Mit, aku pulang dulu ya," pamit Nisa.
__ADS_1
"Oh, iya, Nisa, hati-hati ya. Calon pengantin masih sering keluyuran. Biasa, bosan di rumah, apalagi aku belum diberi izin untuk bekerja lagi. Oke, bye," pamit Mita.
"Bye," sahut Nisa. Lalu, Nisa dan Kelvin berjalan meninggalkan area pemakaman. Tiba-tiba, ada yang memanggil mereka dari belakang, sehingga mereka terhenti dan langsung membalikan badannya.
"Nisa, tunggu!" panggil Niko. Kelvin mendadak tidak mood ketika melihat pria yang memanggil calon istrinya.
"Gak usah cemburu. Mungkin Mas Niko hanya ingin menyampaikan sesuatu. Senyum dong," ucap Nisa sembari menatap calon suaminya dan mengelus salah satu pipinya.
Kelvin pun langsung memberikan senyum terpaksa. "Maaf, Tuan Niko, apakah saya boleh bicara dengan Nisa berdua saja?" ucap Niko membuat Kelvin kesal.
"Tidak bisa. Kalau mau bicara, bicaralah di sini. Kalau tidak, tidak usah," jawab Kelvin dengan kesal. Nisa tahu calon suaminya sedang kesal, sehingga dia pun melingkarkan tangannya di lengan Kelvin dan tangan satunya mengusap lengan Kelvin.
"Bai Kal, Nisa mewakilkan nama Misya untuk meminta maaf atas kesalahannya dan perbuatannya terhadapmu," ucap Niko.
"Terlalu banyak dia kealahan," sahut Kelvin.
"Alhamdulillah, terima kasih, Nis. Terima kasih sudah berbesar hati memaafkan Misya dan sampai hadir di pemakamannya," ucap Niko.
"Iya, sama-sama, Mas," sahut Nisa.
"Sudahlah ngobrolnya. Kita mau pergi ke pertemuan dengan WEDDING ORGANIZER untuk membahas pernikahan kita berdua. Yuk, Sayang," ucap Kelvin penuh penekanan ketika menyebut kata "WO".
"Oke, Mas, kita pamit dulu ya," ucap Nisa.
"Iya, Dek," sahut Niko. Niko hanya bisa memandang punggung Nisa, sambil merasa cemburu ketika melihat Nisa bergandengan tangan dengan laki-laki lain. Dia merasa bodoh dulu karena sebagai suami tidak pernah memanjakan istrinya. Buat apa dia sibuk kerja dan menghasilkan uang banyak, jika yang dibutuhkan Nisa hanya perhatian darinya?
__ADS_1
"Mas, kita mau ngapain bertemu WO? Bukankah semuanya sudah selesai?" tanya Nisa merasa heran. Seingat dia, semua persiapan pernikahannya sudah beres. Kenapa Kelvin masih mengajak bertemu WO lagi?
"Hehe, sebenarnya itu hanya alasan saya saja, Sayang, untuk menghindar dari mantan suami kamu itu," ucap Kelvin sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Dasar, raja cemburu kamu," sahut Nisa.
"Biarin cemburu sama calon istri sendiri, apa salahnya? Kalau cemburunya pada calon istri orang, baru salah, Sayang," ucap Kelvin sambil bercanda.
"Coba saja kalau Mas berani, aku suruh Mommy dan Daddy sunat lagi burungnya," ancam Nisa. Otomatis, tangan Kelvin menutupi burung miliknya.
"Sadis banget, Yank. Ini masa depan kita, loh. Belum juga merasakan surga dunia, masa sudah mau disunat lagi. Nanti kamu tidak bisa merasakan surga dunia sama Mas loh. Nanti gak ada Kelvin Junior di sini," sahut Kelvin. Lalu, tangannya terulur mengusap perut Nisa.
Nisa tiba-tiba terdiam dan murung. Dia adalah orang yang sangat sensitif jika membicarakan soal anak. Dia takut tidak akan bisa memberikan anak kepada Kelvin seperti pada pernikahannya dulu.
Kelvin baru sadar bahwa ia secara tidak sengaja membicarakan tentang anak. Dia tahu Nisa sangat sensitif ketika membahas masalah itu. Lalu, Kelvin memegang tangan Nisa untuk menenangkannya.
"Maaf ya, Sayang. Gak usah dipikirin. Mas tadi ngomong gak sengaja," ujar Kelvin.
"Gak apa-apa, Mas. Aku yang sensitif saja. Tapi bagaimana kalau aku tidak bisa memberikan anak pada Mas?" Tanya Nisa dengan lirih.
Mendengar pertanyaan itu, Kelvin langsung memegang kedua tangan Nisa. "Sayang, dengarkan aku. Aku ingin menikah denganmu karena aku mencintaimu. Aku tidak menikahimu hanya karena ingin memiliki anak. Aku akan sehidup semati denganmu, Sayang. Kita menikah untuk ibadah. Kalau Allah tidak memberikan kita anak, kita bisa mengangkat anak di panti itu. Itu malah akan menambah pahala kita. Apapun yang terjadi, kita hadapi bersama-sama, ya?" ujar Kelvin. Nisa menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataannya.
"Sekarang ayo, kita pulang," ujar Kelvin sembari mengacak-acak rambut Nisa.
"Iya, Mas," sahut Nisa.
Kelvin kemudian memulai mobilnya dan meninggalkan area pemakaman. Di sepanjang perjalanan, keduanya saling bergandengan tangan dan tersenyum bahagia karena sebentar lagi mereka akan resmi menjadi suami istri.
__ADS_1