
Karena Niko pergi, tidak lama kemudiam Mita pun pamit untuk pulang bersama Tasya dan juga suaminya, biasanya jika hari libur Tasya seharian akan bersama papanya jadi Mita dan Bagas hanya mengantarkan saja nanti sore harinya baru mereka jemput kembali.
"Mel kalau begitu mbak pamit pulang ya" ucap Mita kepada Amel
"Cepet banget mbak" sahut Amel
"Masih ada kerjaan di Resto, soalnya kan sekarang Nisa sudah tidak di perbolehkan kerja sama suaminya semenjak hamil" ucap Mita, Ya ketika Nisa memutuskan untuk berhenti bekerja dia memberi tahu dan menceritakan tentang kehamilannya.
"Masya allah, mbak Nisa hamil, aku baru tahu loh" ucap Amel kaget ketika mendengar kabar Nisa hamil.
Mita pun menganggukan kepalanya.
"Iya, dan yang lebih mengejutkan lagi Nisa hamil kembar tiga mel" ucap Mita yang ikut senang juga ketika mengetahui sahabatnya bisa hamil kembar tiga.
"Masyaallah, Allah memang maha adil ya mbak, setelah melewati berbagai cobaan sekarang mbak Nisa dapat hadiahnya dari semua kesabarannya" ucap Amel.
"Iya mel, ya sudah ya mbak pamit dulu, orang biasanya juga mbak habis ngantar Tasya langsung pergi, eh sekarang malah kita yang di tinggal pergi sama papa ya sayang" ucap Mita yang kini sedang menggendong Tasya.
"Ya sudah mbak hati hati, bye Sayang, nanti main lagi kesini ya" ucap Amel kepada Tasya sembari mengelus kepala Tasya.
"Mama sudah bangun belum ya mel?" Tanya Mita dia juga akan pamit terlebih dahulu kepada mama Erina.
"Gak tahu, kayanya sih sudah deh mbak soalnya sebentar lagi mau makan siang, coba deh aku tanyain dulu ya mbak" jawab Amel lalu dia memanggil salah satu pelayan.
"Mbak, ibu sudah bangun belum?" Tanya Amel
"Sudah non"
Setelah mengetahui mama Erina sudah bangun, Mita menghampiri suaminya di teras belakang yang sedang mengobrol dengan Miko dan mengajaknya untuk pulang.
"Loh terus kenapa Tasya ikut lagi bun?" Tanya Bagas biasanya anaknya di tunda bersama papanya.
"Ya mau gimna lagi tadi cuman bertemu sebentar sama papanya, terus papanya pergi ke luar kota mau jemput mama baru iya gak mel" uvap Mita sembari memberi kode ke Amel.
"Maksudnya mbak Mita, bang Niko menyusul Rina" sambung Miko dan Mita pun menganggukkan kepalanya, membuat Bagas yang tidak tahu apa apa menjadi bingung.
"Sudah yuk pamit ke mama dulu, nanti di jalan aku ceritain " ucap Mita mengajak suaminya untuk berpamitan kepada Mama Erina, dan mereka berdua pun berjalan menuju ke kamar yang di tempati mama Erina, sembari Bagas mengambil alih Tasya dari tangan istrinya. Sekarang usia Tasya sudah hampir satu tahun dia sudah mulai bertitah titah dan banyak celotehan yang sering di ucapkannya.
Tok tok
"Masuk" sahut mama Erina dari dalam kamar. Mita dan Bagas pun memasuki kamar mama Erina setelah mendapat sahutan dari dalam kamar.
"Kalian ternyata di kira mama siapa, sini masuk sayang" ucap Mama Erina ketika melihat siapa yang memasuki kamarnya.
"Iya mah, kita mau pamit dulu ya" ucap Mita
"Ko cepat banget, terus kenapa Tasya nya gak di tunda seperti biasanya?" Tanya mama Erina
__ADS_1
"Gimana mau di tunda orang papanya saja pergi mah" jawab Mita
"Memangnya Niko pergi kemana, bukannya tadi pagi ada di rumah ya?" Tanya mama Erina
"Alasannya sih ada kerjaan di luar kota mah, tapi sebenarnya aku yakin mas Niko mau jemput calon menantu mama" jelas Mita
"Maksud kamu Niko nyusulin Rina gitu?" Tanya mama Erina dan Mita pun menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah mah aku pamit dulu ya, lagi banyak kerajaan soalnya di resto" ucap Mita, lalu menyalami tangan mama Erina dan bergantian dengan Bagas.
"Bye bye nenek" ucap Mita sembari melambaikan tangan Tasya ke arah mama Erina.
"Bye sayang, nanti main kesini lagi ya" sahut mama Erina, lalu Mita dan Bagas pun pergi meninggalkan rumah keluarga pratama dan langsung menuju Resto, seperti biasa resto kalau hari weekend pasti lebih ramai dari hari biasanya.
***
Sedngakan Niko sesampainya di Kalimantan dia langsung menuju desa dimana menjadi tempat tinggal Rina untuk satu bulan ke depan. Sebelumnya Niko sudah mendapatkan alamat itu dari asistennya yang dia pintah untuk meminta ke teman sesama perawat sepeeti Rina di rumah sakit.
Niko akan mencari tempat tinggal di sekitar tempat tinggal Rina, setelah dia sudah mendapatkan tempat tinggal, ketika memasuki waktu jam makan siang Niko berjalan jalan mengelilingi desa dengan di temani salah satu pemuda di desa itu, hingga dia melewati sebuah klinik tempat Rina bekerja.
Ketika berjalan di sekitar klinik, mata Niko tertuju ke seorang gadis yang akhir akhir ini selalu mengganggu pikirannya, di lihat gadis tersebut di sebuah warung makan yang letaknya tepat di sebrang klinik, kemungkinan dia akan makan siang disana, Niko memperhatikan gadis tersebut yang sedang duduk berdua dengan seorang pria yang mengenakan jas almamater berwarna putih, Niko mengepalkan tangannya dia merasa tidak suka apalagi melihat interaksi mereka yang terlihat sangat akrab.
"Tuan, apa anda mau mampir untuk makan siang terlebih dahulu?" Tanya Pemuda yang menemani Niko jalan tersebut, karwna dia memperhatikan Niko yang matanya terus tertuju ke arah warung makan yang ada hadapan mereka.
"Boleh deh tapi di bungkus saja ya mas, sekalian belikan buat orang rumah juga ya" jawab Niko
Niko terus memperhatikan interaksi antara Rina dan dokter Faisal, tiba tiba dia merasa cemburu ketika melihat dokter Faisal menghapus kotoran tepat di ujung bibir Rina.
"Kebiasaan banget deh, kalau makan selalu blepotan" ucap Dokter Faisal sembari membersihkan kotoran di ujung bibir Rina.
"Makasih ka, biar aku saja" ucap Rina sembari meraih tisu yang di pegang oleh dokter Faisal.
"Apa itu dokter yang suka sama Rina ya, kenapa mereka terlihat akrab sekali, apa mereka sudah jadian, gak gak boleh itu gak boleh terjadi" batin Niko sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sembari menunggu makanan yang sedang dia pesan dia terus memperhatikan Nisa dan dokter Faisal sampai mereka selesai makan dan kembali ke klinik hingga tidak terlihat lagi oleh Niko. Setelah makan yang dia pesan sudah jadi, Niko langsung kembali ke tempat penginapannya selama di desa.
***
Ketika malam hari di balai desa sedang mengadakan acara, Niko ikut ke balai desa ketika mendengar cerita kalau Rina dan teman temannya juga hadir disana, seperti biasanya Niko sudah siap dengan menggunakan pakaian masker dan topinya. Ketika acara sudah di mulai dan secara kebetulan pembawa acara juga mengumumkan jika dokter Faisal akan melamar seseorang, membuat Niko menjadi kalang kabut, ketika dokter Faisal sudah menaiki panggung, Niko langsung berkeliling mencari keberadaan Rina.
Setelah mengelilingi sekitar balai desa, Niko akhirnya menemukan Rina yang tengah mengobrol dengan seorang ibu ibu yang Niko duga itu adalah warga desa sekitar. Niko pun langsung menghampiri Rina.
"Maaf nona, tolong itu adik saya di rumah mau melahirkan" ucap Niko ketika menghampiri Rina dan ibu ibu.
"Oh iya pak tunggu sebentar" ucap Rina lalu sebelum mengikuti Niko, Rina berpamitan ke ibu ibi warga desa.
Rina mengikuti langkah Niko dari belakang, ketiak mereka sedikit menjauh dari tempat acara Niko balik badan dan langsung memeluk Rina, Rina kaget ketika pria di hadapannya tiba tiba memeluknya otomatis Rina langsung memberontak dan memukuli Niko di kira Rina pria di hadapannya ingin melecehkannya.
"Lepasin, tolong tolong" ucap Rina sembari memberontak dari pelukan Niko.
__ADS_1
"Ini aku Niko" ucap Niko tapi Rina masih memberontak lalu Niko melerai pelukannya dan menggenggam tangannya agar Rina tidak kabur lalu dia langsung membuka masker yang menutupi wajahnya.
"Eh lihat ini aku" ucap Niko, lalu Rinan pun langsung menatap pria yang di hadapannya, dia hampir tidak percaya jika pria yang sedang dia hindarinya ternyata ada di hadapannya, di kira Rina dia hanya berhalusinasi.
"Tuan Niko, ngapain sih sampai berhalusinasi dia ada disini, itu kan gak mungkin Rina, kamu kebanyakan mikirin dia sih" batin Rina sembari tangan satunya memukuli kepalanya.
Niko yang melihat Rina memukuli kepalanya dia langsung menahan tangan Rina.
"Hei ngapain sih pakai mukulin kepala segala nanti kepalanya sakit" ucap Niko lalu mengelus kepala Rina yang bekas di pukul tadi.
"Jadi bener ini tuan Niko?" Tanya Rina
"Ya bener lah memangnya siapa lagi, masa hantu" sahut Niko sembari menarik hidung Rina dengan gemas.
"Tuan ngapain di desa sini?" Tanya Rina
"Mau jemput calon istri saya lah" ucap Niko
Mendengar ucapan Niko, membuat hati Rina merasa sakit.
"Ya sudah tuan sana pergi jemput calon istrinya, ngapain tuan masih disini sama saya" ucap Rina mencoba melepas genggaman tangannya tetapi tidak bisa.
"Mau kemana, orang calon istri saya ada di sini" uvap Niko
"Mana tuan, kalau begitu tuan lepasin tangan saya nanti calon istri tuan bisa salah paham sama saya" ucap Rina panik dia takut di sangka perebut calon suami orang.
"Ini calon istri aku, cup" uvap Niko tiba tiba mencium kening Rina.
"Maksud tuan...."
"Iya kamu, memangnya kamu gak mau jadi calon istri saya, oh aku tahu kamu mau menerima lamaran dokter sok ganteng itu ya" ucap Niko
"Bukan begitu tuan maksud saya, lagian siapa juga yang mau sama saya yang hanya gadis miskin, yatim piatu lagi"
"Ya tuh buktinya tadi dia di atas panggung mau dia melamar kamu bukan, sudah sana kalau kamu lebih suka sama dia dari pada sama saya" ucap Niko langsung membalikan badannya meninggalkan Rina.
Rina tersenyum ketika melihat ekspresi Niko yang sedang cemburu, lalu dia mengikuti Niko dan langsung memeluknya dari belakang.
"Siapa yang mau melamar aku sih, orang dokter Faisal mau melamar Rara teman aku" ucap Rina ketika memeluk Niko dari belakang.
Mendengar ucapan Rina, Niko pun tersenyum dan langsung membalikan badannya menghadap ke Rina.
"Jadi, kamu mau jadi istri saya?" Tanya Niko sembari tangan melingkar di pinggang Rina.
"Tuan gak romantis banget sih melamarnya" ucap Rina sembari mencerutkan bibirnya.
"Tuan lagi tuan lagi, sudah di bilang jangan manggil tuan, kalau manggil tuan lagi aku cium nih" ancam Niko
__ADS_1
Akhirnya Niko membawa Rina menjauh dari acara, dia meminjam motor salah satu orang desa lalu mereka bersua pun berkeliling kampung dengan berboncengan menaiki motor.