
Satu bulan berlalu, kini dimana saatnya Rina pulang dinas dari Kalimantan, Niko yang dapat kabar dari kekasihnya swkitar dua hafi yang laku, jika dia akan pulang sekitar dua atau tiga hari lagi, Niko pun merasa senang sampai sampai sepanjang hari terlihat senyumnya yang selalu mengembang di wajah tampannya hingga semua anggota keluarganya merasa heran dengan sikap Niko yang seperti itu.
Dari satu bulan yang lalu, yang Niko pulang dari Kalimantan, Niko belum menceritakan semuanya kepada anggota keluarganya, niat Niko dia akan cerita nanti saja jika Rina susah pulang ke Jakarta dan secara langsung dia akan membawa Rina ke hadapan mamanya, padahal sebenarnya mereka semua sudah tahu karena Rina dan Amel selalu kontek kontekan dan menanyakan apa saja yang di lakukan Niko ketika disana, Rina pun ketika menceritakannya merasa malu karena dia bercerita dengan menggunakan panggilan video call dan terlihat di situ tidak hanya ada Amel saja tetapi ada mama Erina juga, tapi dia merasa senang mama Erina merestui hubungan dirinya dengan Niko.
Berbeda dengan hari ini ketika mereka semua sedang sarapan, Niko terlihat murung dan tidak ceria seperti dua hari yang lalu membuat semua anggota keluarganya merasa heran dengan sikap Niko.
"Lemes banget bang" ucap Miko mencoba mencairkan suasana.
"Hemm" sahut Niko sampai sampai dia pun malas untuk sarapan.
"Aku sudah, mah aku pergi dulu ya" ucap Niko beranjak dari duduknya lalu menghampiri mamanya dan mencium tangan dan kening sang mama.
"Hati hati Nik" ucap mama Erina memperingatkan anaknya.
"Hemmm" sahut Niko lalu dia berjalan keluar dari rumah dan langsung menaiki mobil dengan di supiri oleh asistennya.
Sedangkan Rina sudah di bandara tjilik riwut bersama teman temannya, semuanya tengah bersiap memasuki pesawat, Rina tanpa sengaja dia mematikan ponselnya dari semalam, karean semalam di desa mereka mengadakan acara perpisahan dengan para warga hingga Rina mensilent handphonenya hingga dia tidak tahu Niko menghubunginya, karena Rina sibuk mengobrol dengan para warga desa. Selesai acara, sesampainya di rumah Rina langsung istirahat karena pagi pagi sekali dia dan teman temannya sudah harus sampai di airport sampai sampai ponselnya pun kehabisan batrei.
Sesampainya di Jakarta Rina di minta ikut pulang bersama Dokter Faisal dan juga Rere, kini mereka di jemput oleh asisten dokter Faisal, kini mereka akan menuju ke rumah sakit terlebih dahulu baru setelah itu mereka akan di antar pulang ke rumah masing masing. Hingga menjelang waktu makan siang Rina baru saja sampai di kontrakannya dengan di antar asisten Dokter Faisal yang bernama Aji.
Ternyata berbarengan bersama Niko yang kini tengah mengunjungi kontrakan Rina, karena dari semalam Rina tidak bisa di hubungi, ketika menjelang waktu makan siang dia memutuskan untuk menghampiri Rina ke kontrakannya siapa tahu Rina sudah pupang pikir Niko. Sesuai dugaan Niko, ketika dia sampai di depan kontrakan milik Rina dia melihat Rina baru turun dari sebuah mobil dengan seorang laki laki entah Niko tidak taju siapa laki laki itu. Melihat itu semua Niko pun memutuskan langsung turun dari mobil dan langsung menghampiri kekasih atau calon istri ya itu, dia tidak mau asal tuduh hingga membuat Rina pergi lagi dari dirinya.
"Loh mas, ko kamu disini?" Tanya Rina ketika melihat ada Niko menghampirinya.
Ketika sudah di hadapan Rina, Niko langsung mengecup kening kekasihnya itu, seakan akan dia ingin menunjukkan kepada laki laki yang ada di hadapnya itu jika Rina miliknya.
"Cup, mas khawatir tau gak yank dari semalam kamu gak bisa di hubungin" ucap Niko dan langsung merangkul pinggang calon istrinya.
Di perlakukan seperti itu oleh Niko membuat wajah Rina memerah dia malu dengan Aji yang ada di hadapannya dan ada Dokter Faisal dan juga Rere yang melihatnya dari dalam mobil.
"Maaf semalam aku tidur cepat jadi aku lupa charge handphone-nya" jawab Rina menatap wajah Niko, dia baru sadar jika memang dari semalam belum mengabari calon suaminya sama sekali.
"Lain kali jangan di ulangi lagi ya" sahut Niko sembari mengelus kepala Rina dan di angguki langsung oleh Rina.
Aji yang merasa di kacanganin di hadapan mereka berdua, akhirnya dia memutuskan untuk langsung pamit.
"Rin, kalau gitu saya tinggal dulu ya, nih kopernya, mau anatar si bos dulu" ucap Aji
"Iya ka, makasih ya" sahut Rina, ketika Aji sudah kembali ke mobil, Dokter Faisal pun membuka kaca mobilnya untuk berpamitan dengan Rina.
"Bye dek" ucap Dokter Faisal
"Bye, maksih ka" sahut Rina
"Hemm, tuan Niko saya titip Rina ya" ucap Fokter Faisal kepada Niko
"Siap kakak ipar" sahut Niko, lalu Mobil yang membawa Doter Faisal pun pergi meninggalkan halaman kontrakan tempat tinggal Rina.
Sepeninggalan Dokter Faisal dan yang lainnya, Rina pun mempersilahkan Niko memasuki kontrakannya, karena tidak mau ada fitnah dari tetangga mereka pun sengaja membuka pintu depan rumah dengan lebar.
"Mas mau minum apa?" Tanya Rina
"Gak usah yank, kamu sudah makan siang belum?" Tanya balik Niko
Rina pun langsung menggelengkan kepalanya.
"Belum orang tadi kita dari Airport langsung ke rumah sakit buat meeting" jawab Rina
__ADS_1
"Ya sudah yuk makan siang di luar, kebetulan mas juga belum makan siang" sahut ucap Niko
"Tunggu aku simpan barang barang aku dulu" ucap Rina lalu dia masuk ke dalam untuk menyimpan barang bawaannya.
"Sudah?" Tanya Niko ketika Rina sudah kembali di hadapannya, Rina pun langsung menganggukan kepalanya, lalu Niko langsung beranjak dari duduknya dan meraih tangan Rina untuk di gandengan berjalan menuju mobilnya.
"Mau makan dimana sayang?" Tanya Niko yang kini sedang mengendarai mobilnya dengan tangan satu, sedangkan tangan satunya lagi setia menggenggam tangan Rina.
"Eummm..., kita ke restonya mbak Nisa boleh mas, aku mau mencoba masakan mbak Nisa kata mama masakannya enak banget" ucap Rina, yang sering dapat cerita dari mama Erina jika dulu mantan menantunya itu hasil masakannya itu paling the best.
"Boleh sayang" sahut Niko melepas genggaman tangannya lalu tangannya terulur mengelus kepala Rina, lalu Niko melajukan Mobilnya menuju restoran milik Mita dan juga Nisa.
Sesampainya di Resto mereka langsung memasuki Resto dengan Niko yang selalu menggandeng tangan Rina. Pelayan Resto yang sudah kenal dengan siapa Niko mereka pun menyapa dan memberi hormat kepadanya.
"Siang tuan Niko"
"Siang mbak, saya mau yang di dalam ya mbak" ucap Niko dia memilih tempat duduk yanh lebih privat tidak mau ada yang mengganggunya.
"Baik tuan" sahut pelayan tersebut, lalu mereka berjalan menuju ruang private room.
"Kami mau pesan apa sayang?" Tanya Niko ketika mereka sudah di beri buku menu oleh pelayan.
"Mas saja lah yang pilih, mana yang enak" jawab Rina
"Kamu juga sambil lihat saja menunya siapa tahu ada yang membuat kamu tertarik" ucap Niko dan Rina pun menuruti ucapan kekasihnya.
Selesai mereka pesan makanan dan sepeninggalan pelayan dari ruang privat room itu, ini kesempatan Niko buat kangen kenhenan sama calon istrinya.
"Yank, disini dong duduknya, jangan jauh jauh" ucap Niko sembari menepuk bangku tepat di sebelahnya.
"Gak mau ah, disini saja mas" ucap Rina tetap pada posisinya duduk di hadapan Niko.
"Sayang, kamu gak kangen sama mas?" Tanya Niko dengan manja.
"Eumm..., biasa saja" ucap Rina bohong, dia malu untuk mengakuinya, padahal sebenarnya dia sangat merindukan pria tampan yang ada di sampingnya itu.
"Curang kamu mah, masa cuma biasa saja, mas saja kangen banget loh sama kamu, yang di kangeninya malah biasa saja" ucap Niko dengan pura pura merajuk.
"Iya iya, aku kangen sama kamu mas Niko sayang" ucap Rina tanpa sadar memanggil Niko dengan kata sayang, membuat Niko langsung mentapa wajah cantik calon istrinya itu.
"Panggil apa tadi kamu sama mas?" Tanya Niko
"Apa, tadi aku panggil mas Niko" jawab Rina
"Bukan itu, setelah itu apa?" Tanya Niko lagi
"Sayang" jawab Rina dengan menundukkan kepalanya, saking senangnya dapat panggilan sayang dari Rina dengan otomatis Niko langsung memeluk Rina.
"Aku suka panggilan itu, mas mau kami seterusnya memanggil mas seperti itu ya" ucap Niko
"Tapi malu mas kalau lagi banyak orang, gimana kalau kita sedang berdua saja baru akau panggil itu ya" ucap Rina dan langsung di angguki oleh Niko, dari pada dia tidak dapat panggilan sayang sama sekali dari calon istrinya pikir Niko.
"Ya sudah mas lepas dulu ini, nanti kalau ada pelayan masuk enatar di kira berbuat yang gak gak lagi" ucap Rina
"Panggil sayang dulu baru mas lepasin" ucap Niko
"Mas Niko sayang, tolong lepasin ya" ucap Rina dengan lembut, Niko pun langsung melepas pelukannya dan tersenyum jail.
__ADS_1
"Cup" tiba tiba dia memberi kecupan tepat di bibir Rina.
"Mas Niko" ucap Rina reflek dia memukul lengan Niko, "nanti kalau ada yang lihat gimana coba, kan malu" omel Rina.
Selang beberapa menit makanan yang mereka pesan sudah datang dan tertata rapi di meja. Mereka bersua pun tanpa berfikir lama langsung menyantap makanan tersebut, karena rasa lapar yang sudah menyerang perut mereka berdua.
Ternyata ketika Niko memasuki ruang privete room, Tasya melihat papanya lewat dari tempat bermain anak anak yang memang Restoran sediakan untuk para pengunjung yang membawa anak anak. 2 bulan yang lalu semenjak Tasya sudah mulai bertitah titah jalan sedikit sedikit, Mita sudah memperkerjakan baby Sitter untuk menjaga putrinya itu, ketika dia sedang sibuk di resto, walaupun ada baby sitter, Mita tidak pernah meninggalkan Tasya sedikit pun, jadi jika dia kerja pun Tasya akan dia bawa dia gidak mau meninggalkan Tasya berdua saja bersama susternya.
"Pah..., pah..., pah..." ucap Tasya dia meminta kepada susternya untuk menghampiri papanya tapi susternya tidak mengetahui jika di resto ada Niko. Akhirnya dia memutuskan membawa Tasya kw bundanya dan memberi tahu jika Tasya sedari tadi memanggil manggil papanya.
"Kenapa sus?" Tanya Mita ketika melihat Tasya merengek di gendongan susternya ingin keluar dari ruangan Mita.
"Gak tahu bu, dari tadi dia manggil manggil papa papa terus" jawab baby sitter Tasya yang bernama sus Desi.
Mendengar jawaban baby sitternya, Mita pun menghampiri putrinya lalu mengambil alih Tasya dari gendongan sus Desi.
"Tasya mau apa sayang, Tasya mau mamam?" Tanya Mita dam langsung dapat gelengan kepala dari Tasya.
"Pah.." sahut Tasya
"Tasya kangen sama papa?" Tanya Mita dan Tasya pun langsung senang mendengar pertanyaan bundanya.
"Pah..., pah..." ucap Tasya
"Ya sudah, coba kita telfon papa ya, ada dimana" ucap Mita dan langsung di angguki oleh Tasya. Mita pun menatap putrinya dengan heran, tumban tambenan putrinya mendadak ingin bertemu papanya.
"Hallo assalamualaikum mas"
"Waalaikum salam, iya kenapa dek?" Tanya Niko dis sebrang telfon.
"Pah...pah..." ucap Tasya ketika mendengar suara Niko di telfon karena Mita menelefon Niko menggunakan laodspekear.
"Mas, mas Niko dimana, ini dari tadi Tasya manggil manggil papah papah terus?" Tanya Mita
"Mas ada di resto kamu ini lagi makan, bawa sini saja mas di privat room" jawab
Jawab Niko
"Oh ya sudah aku kesana sekarang" sahut Mita dan langsung mematikan sambungan telefonnya.
"Pantas sus, dia tadi liat papanya kali, papanya lagi makan di sini" ucap Mita kepada sus Desi.
"Oh.., saya malah gak tahu bu kalau ada pak Niko" ucap sus Desi.
"Ya sudah sus kamu makan siang aja dulu, biar Tasya sama saya mau ke papanya" ucap Mita
"Baik bu" sahut sus Desi, lalu Mita dan Tasya pun turun dari lantai atas menuju lantai bawah dan berjalan menuju ruang privat room yang di tempati Niko.
"Permisi" ucap Mita ketika memasuki ruang privat room, otomatis Niko dan Rina pun berdiri melihat Mita masuk.
"Pah...pah..." panggil Tasya sembari memaju-majukan badanya minta di gendong oleh Niko. Niko pun langsung menghampiri Tasya yang ada di gendongan Mita.
"Hai princessnya papa, kangen ya sama papa" ucap Niko sembari mengambil alih Tasya dari gedongan Mita.
"Eh ada Rina" ucap Mita ketika melihat ada Rina di ruangan yang sama.
"Siang bu" sahut Rina
__ADS_1
"Jangan panggil ibu dong, serasa tua saya, panggil mbak saja seperti Amel, oh ya ngomong ngomong kita ganggu waktu makan kalian gak nih?" Tanya Mita
"Enggak ko mbak, kita juga sudah hampir selesai ko" jawab Rina, sedangkan Niko masih sibuk memberi candaan dan menggoda Tasya sampai Tasya pun tertawa dengan kencang. Mita dan Rina pun tersenyum ketika mendengar suara riang dari Tasya ketika sedang bercanda dengan papanya.