
Sesuai janjinya 2 hari yang lalu Rina akan menemani mama Erina untuk terapi, Rina juga sudah kembali bekerja di rumah sakit sekitar satu minggu yang lalu, karena semua tenaga medis yang ikut ke Kalimantan semuanya di kasih libur kerja selama 1 minggu oleh pihak rumah sakit.
Dan kebetulan jadwal Rina hari ini yaitu siang hari jadi paginya dia bisa menemani mama Erina terlebih dahulu untuk terapi di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit tempat Rina bekerja.
"Assalamualaikum" ucap Rina ketika baru sampai di rumah Niko, tidak ada yang tahu jika Rina datang pagi pagi, di kira mama Erina dan Niko, Rina akan menunggu di kontrakannya sampai mama Erina datang.
"Waalaikum salam" sahut bi Ijah yang mwnghampiri Rina tepat di pintu depan.
"Eh..., non Rina" sahit Bi Ijah ketika melihat Rina ada di depan rumah.
"Panggil kaya biasanya aja bi, aku merasa gimana gitu di panggil non non" ucap Rina dia tidak suka panggilannya di rubah hanya karena dia sudah sestatusnya berbeda di rumah kekasihnya itu.
"Baik lah neng Rina, yuk masuk, yang lain masih pada sarapan di dalam" ucap bi ijah
"Kan kalau panggilnya seperti itu jadi terlihat akrab bi" ucap Rina lalu Rina mengikuti bi ijah dari belakang menuju ruang makan.
"Siapa jah yang datang?" Tanya Mama Erina, belum juga bi ijah menjawab, Rina sudah memberi salam terlebih dahulu.
"Assalamualaikum semuanya" ucap Rina
"Waalaikum salam" jawab bersamaan.
"Loh sayang, kamu ko gak bilang mas kalau mau kesini pagi?" Tanya Niko sembari beranjak menghampiri calon istrinya dan memberikan kecupan tepat di kening Rina.
"Aku sengaja kesini pagi supaya bisa bantu mama bersiap dan bisa mama dari rumah ada temannya, nanti kalau mama yang jemput aku ke rumah mama dari sini ke rumah aku sendiri dong gak ada temannya di mobil" ucap Rina lalu di gandengan oleh Niko menuju meja makan.
Mama Erina tersenyum dia merasa senang calon menantunya memberi perhatian seperti itu, dia menjadi teringat ketika dulu Nisa juga sering memberi perhatian ke dirinya tapi tidak pernah menghargai semua yang telah di lakukan Nisa.
"Terus kamu kesini naik apa?" Tanya Niko
"Naik motor mas" jawab Rina
"Lain kali bilang saja sama mas kalau mau kesini biar mas jemput atau suruh supir yang jemput" ucap Niko yang sudah mulai posessif dengan calon istrinya itu.
"Gak papa mas, kan aku juga sebelumnya kemana mana juga selalu pakai motor, aku bakalan hati hati ko" ucap Rina dia bisa mengerti kekhawatiran calon suaminya itu.
"Baiklah, tapi kalau selama mas bisa jemput atau antar kamu kamu bilang sama mas ya, mau kemana pun insya allah mas akan anatar" ucap Niko
"Iya mas" sahut Rina
"Mulai deh lebaynya" ledek Miko
"Kamu sudah sarapan belum sayang?" Tanya Mama Erina
"Sudah mah, tadi sebelum kesini sarapan dulu di rumah" jawab Rina
Setelah semuanya selesai sarapan Niko dan Miko pun pamit untuk pergi ke kantor, walaupun mereka kerja dalam satu kantor mereka selalu pergi dengan menggunakan mobil terpisah, Niko selalu pergi bersama asiaten pribadinya sedangkan Miko dia selalu menyetir mobil milik sendiri. Rina dan Amel mereka sama sama mengantar pasangan masing masing sampai depan rumah.
"Mas pergi dulu ya yank, nanti kalau sudah mau pergi kabarin mas ya" ucap Niko
"Baik mas" sahut Rina tiba tiba dia mengerutkan keningnya ketika Niko mengulurkan tangnya.
"Salim dong sayang, latihan jadi istri mas" ucap Niko dan langsung di sambut oleh Rina dan lansgung mencium tangan Niko di balas oleh Niko dengan mencium kening Rina, kalau di lihat, mereka itu seperti pasang suami istri beneran.
"Assalamualaikum" ucap Niko lalu bergegas berjalan menuju mobilnya.
"Waalaikum salam" sahut Rina sembari melambaikan tangannya kepada Niko.
Setelah mobil Niko sudah tidak terlihat lagi, Rina pun kembali memasuki rumah dia akan membantu mama Erina untuk bersiap ke rumah sakit untuk melakukan terapi rutin agar bisa jalan kembali seperti semula.
__ADS_1
***
Sedangkan di mansion Osmond juga Nisa tengah bersiap untuk ke rumah sakit, dia akan memeriksakan kandungannya yang kini sudah menginjak 3 bulan, tapi perutnya sudah terlihat seperti orang hamil 5 bulan, di karenakan Kelvin sedang menangani perusahaannya yang di Jerman yang sedang bermasalah, kali ini Nisa akan di temani oleh Mommy safa, mommy safa sendiri sangat antusias ingin melihat perkembangan ketiga cucunya itu, dia tidak sabar menantikan ketiga cucunya lahir ke dunia, mungkin nanti mommy safa dan Daddy Albert akan menghabiskan masa tua mereka bermain dengan cucu cucu mereka sepuasnya.
Tok tok
"Sayang, kamu sudah siap?" Tanya mommy safa
"Tunggu sebentar mom" sahut Nisa dari dalam kamar.
"Ya sudah mommy tunggu di depan ya" ucap Mommy safa dari balik pintu.
"Iya mom" sahut Nisa yang kini masih bersiap di dalam kamar. Dan mommy safa pun berjalan menuju sofa ruang tamu.
Beberapa menit kemudian Nisa telah selesai bersiap dia langsung bergegas menghampiri ibu mertuaya.
"Yuk mom" ucap Nisa
"Sudah gak ada yang ketinggalan sayang?" Tanya mommy safa
"Gak ada mom, maaf ya mom jadi nunggu lama tadi soalnya pas aku bersiap sambil di ganguin sama mas Kelvin, biasa posesifnya kumat" ucap Nisa
"Gak papa sayang, Kelvin itu ng-jiplak abis daddy nya, dulu juga daddy begitu waktu mommy hamil Kelvin" ucap Mommy safa.
Kini mereka berdua tengah di dalam mobil dengan di supiri oleh pak joko supir pribadi mommy safa, mobil yang membawa mereka kini melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit tempat biasanya Nisa melakukan pemeriksaan kandungannya.
Setelah sampai di rumah sakit Nisa dan Mommy safa langsung menuju ruangan dokter kandungannya karena sebelumnya Nisa sudah membuat janji dengan dokternya.
"Pagi Nyonya, nona Osmond" sapa Dokter Dewi
"Pagi dok" Sahut mommy safa dan Nisa bersamaan.
"Tumben nih gak di temani papanya" ucap Dokter Dewi sembari mengoleskan gel di perut buncit Nisa.
"Lagi pulang kampung dok ke Jerman papanya, lagi ada kerajaan" jawab Mommy safa.
"Oh..." sahut Dokter dewi
"Detak jantungnya normal ya, apa ada yang di rasakan nona Nisa sebelumnya?" Tannya Dokter Dewi.
"Sudah dua hari ini dok kalau mau tidur selalu bergerak terus sampai sampai akunya gak bisa tidur, apa itu gak papa dok?" Tanya Nisa
"Oh..., kalau boleh tahu papanya pergi sudah berapa hari nona?" Tanya Dokter Dewi
"Sudah 4 hari ini dok" jawab mommy safa
"Memangnya ada hubungannya ya dok?" Tanya Nisa penasaran.
"Ada nona, kemungkinan mereka tidak mau jauh dari papanya makanya dia seperti itu, begini saja jika memang papanya belum bisa pulang, nona minta tuan Kelvin untuk menyanyi atau bicara apa saja terus di rekam nah setiap mau yidur coba nona kasih dengar mereka siapa tahu mereka langsung diam" saran dokter Dewi
"Baiklah dok, nanti aku coba" sahut Nisa
"Jadi semuanya cucu cucu saya baik baik saja dok?" Tanya Mommy safa
"Alhamdulillah semuanya baik baik saja nyonya" jawab Dokter Dewi, setelah berkonsultasi ini dan itu dengan dokter dewi mereka pun memutuskan untuk langsung pergi meninggalkan ruangan dokter karena masih banyak lagi ibu hamil yang mengantri untuk memeriksakan kandungannya.
Ketika Nisa dan Mommy safa sedang berjalan menelusuri lorong rumah sakit tiba tiba mereka bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang duduk di kursi roda yang tengah di dorong oleh seorang gadis cantik, pandangan mereka pun saling bertemu, Nisa merasa prihatin melihat keadaan mantan ibu mertuanya sekarang, sedangkan mommy safa memandang mama Erina dengan sinis dia masih mengingat dengan jelas bagaimana dulu mama Erina telah merendahkan menantunya tepat di hadapannya.
Ketika posisi mereka sudah saling membelakangi tiba tiba Rina memanggil Nisa. Rina tahu bagaimana calon ibu mertuanya itu sangat ingin bertemu dengan Nisa dan meminta maaf secara langsung.
__ADS_1
"Mbak Nisa tunggu" panggil Rina otomatis Nisa dan Mommy safa pun membalikkan badannya menghadap ke sumber suara.
"Iya kenapa?" Tanya Nisa dengan suara lembutnya sedangkan mama Erina hanya bisa menundukan kepalanya dia tidak berani menatap Nisa maupun mommy safa.
"Apa bisa minta waktunya sebentar, mama mau bicara sama mbak Nisa bisa?" Tanya Rina
"Buat apa lagi wanita itu mau bicara sama menantu saya, masih belum puas dia selama ini sudah merendahkan dan menghina menantu saya" omel Mommy safa
"Mom, mommy tenang dulu ya, Nisa yakin ko ibu Erina sudah berubah dan tidak akan menghina Nisa lagi, mommy percaya kan sama Nisa?" Tanya Nisa dan Mommy safa pun menganggukkan kepalanya.
Mama Erina pun makin meneteskan air matanya mendengar ucapan Nisa, bahwa Nisa mempercayai jika diribya telah berubah.
"Jadi Nisa mohon izin sama Mommy kasih waktu Nisa untuk bicara sama ibu Erina dulu ya sebentar saja" ucap Nisa membujuk mommy safa.
"Baiklah tapi kamu gak boleh jauh jauh dari mommy ya" ucap Mommy safa dia hanya khawatir dengan menantunya takut menanti Nisa dan calon cucunya kenapa-napa.
"Iya mommy ku sayang, cup" sahut Nisa lalu mencium pipi ibu mertuanya.
Akhirnya Nisa pun memberi kesempatan untuk mama Erina berbicara dengannya, kini mereka ber-empat sudah berada di kantin rumah sakit, mama Erina dan Nisa duduk berdua berpisah tempat duduk dengan Rina dan juga Mommy safa tapi masih terlihat oleh mereka.
"Ibu mau biacra apa sama saya?" Tanya Nisa yang melihat Mama Erina hanya diam dan menundukan kepalnya.
"Hiksh...maafin mama Nisa, mama benar benar minta maaf yang sebesar besarnya, maaf atas perlakukan mama yang tidak baik selama kamu jadi menanta mama, maafkan mama yang udah membuat kamu..." ucapan mama Erina terhenti ketika Nisa menggenggam tangannya.
"Bu, Nisa sudah maafin semuanya dan Nisa juga sudah melupakan semua itu, toh sekarang Nisa sudah hidup bahagia dengan keluarga baru Nisa, Nisa juga minta maaf jika dulu selama jadinya menantu ibu Nisa belum bisa jadi menantu yang baik" ucap Nisa.
Mama Erina pu menggelengkan kepalanya dia tidak setuju dengan ucapan Nisa, karena selama ini Nisa sudah menjadi nenantu yang terbaik, dirinya saja yang tidak bersyukur mempunyai menantu sebaik Nisa.
"Enggak, kamu gak salah selama ini kamu udah menjadi memantu terbaik buat mama, hanya mamanya saja yang tidak tahu diri yang sudah menghina kamu wanita mandul tapi nyatanya putra mama yang mandul, kenapa kamu gak jujur sama mama Nisa kalau Niko yang mandul?" Tanya Mama Erina
"Maafin Nisa bu yang sudah berbohong tentang masalah itu, Nisa hanya tidak sanggup melihat kekecewaan dan kesedihan pada mama dan juga mas Niko maka dari itu Nisa bikang ke dokter untuk bilang jika semuanya sehat" jelas Nisa
Mendengar penjelasan Nisa membuat mama Erina semakin merasa bersalah dalam keadaan seperti itu pun mantan menantunya itu masih memikirkan putranya dan juga dirinya.
"Sudah lah bu aku sudah memaafkan semuanya, yang penting sekarang aku sudah senang ibu sudah berubah dan menajdi orang lebih baik lagi kedepannya, dan sepertinya ibu mau dapat menantu baru ya" ucap Nisa sembati mengelus lengan mama Erina lalu pandangan mereka sama sama tertuju kepada Rina.
"Ya selama ini dia yang selalu menemani mama di saat keadaan mama yang sangat memperhatikan dan dia juga yang sudah membantu mama untuk berubah menjadi orang lebih baik lagi, Terima kasih nak kamu sudah memaafkan mama, hati mama serasa sudah tenang" ucap mama Erina
"Sama sama bu" sahut Nisa
"Apa boleh mama minta sesuatu sama kamu?" Tabya Mama Erina
"Apa bu?" Tanya balik nIsa.
"Apa boleh mama minta sesuatu,Nisa panggil mama dengan sebutan mama lagi jangan panggil ibu, tapi kalau Nisa gak mau juga tidak papah ko" ucap mama Erina
"Tentu mau dong mah, masa Mita saja yang bisa manggil mama dengan sebutan mama sedangkan Nisa gak" ucap Nisa dengan candaannya.
"Waluapun Nisa bukan jadi menantu mama lagi, mama boleh menganggap Nisa seperti keluarga malah Nisa senang jadi punya banyak mama" ucap Nisa sembari menggenggam tangan mama Erina.
"Terima kasih nak, apa kamu sedang hamil nak?" Tanya Mama Erina melihat perut Nisa yang membesar.
"Iya mah, alhamdulillah akhirnya Nisa bisa merasakan menjadi wanita seutuhnya" ucap Nisa sembari mengelus perut nya yang buncit.
"Mama jadi malu sama kamu, dulu mama sering menjuluki kamu wanita mandul tapi sekarang kami sudah membuktikan jika kamu bukan wanita mandul" ucap Mama Erina
"Sudah mah, jangan sedih sedih lagi ah, Nisa doakan semoga mama segera dapat cucu dari mas Niko dan calon memantu mama ini, kelihatannya dia gadis yang baik" uavp Nisa
"Aminn, mama sih sekarang tidak begitu berharap lagi, ada yang mau menemani putra mama yang punya kekurangan saja mama sudah sangat bersyukur" ucap Mama Erina, memang sekarang dia tidak mau menuntut lagu tentang maslah cucu dari Niko karena dia tahu keadaan putranya yang seperti itu, yah walaupun tidak dapat cucu dari Niko mama Erina sudah mempunyai Tasya dan juga anak dari Miko.
__ADS_1