Aku (Bukan) Wanita Mandul

Aku (Bukan) Wanita Mandul
Ekstra Part 19


__ADS_3

3 tahun berlalu semenjak kelahiran si kembar kini mereka bertiga sudah menjadi anak anak yang lucu dan pintar, sudah bisa berjalan dan banyak celotehan yang membuat orang melihatnya menjadi gemas kepada mereka, Kianu dari kecil sudah terlihat seperti papanya yang cuek tapi sayang dengan adik adiknya, sedangkan Kinan sedari kecil dia terlihat anaknya humoris setiap ada orang lewat semua di sapa olehnya sedangkan Kinara sedari kecil sudah terlihat anak ceria, manja dan juga cengeng maklum anak perempuan satu satunya dan cucu perempuan satu satunya di keluarga Osmond.


Mommy safa dan juga Daddy Albert setiap hati sibuk bermain dengan ketiga cucunya, sedangkan Kelvin sudah sepakat dengan Nisa untuk tidak menambah momongan kembali karena dia sangat takut nanti akan terjadi sesuatu lagi dengan istri dan calon anaknya kelak, Nisa yang mengerti kekhawatiran suaminya akhirnya dia pun mengiyakan keinginan suaminya.


Haei ini betepatan dengan hari weekend dimana waktunya Kelvin bermain dengan ketiga anaknya dengan puas. Seperti biasa Kelvin, Kianu, Kinan dan Daddy Albert akan bermain bola di halaman belakang mansion yang memang sudah mereka sediakan lapangan bola kecil khusus untuk mereka bermain, sedangkan para cewek cewek seperti Kinara, Nisa dan juga Mommy safa akan menjadi suporter yang menonton mereka berempat.


“Ayo aka, opa cemangat” teriak Kinara dari pinggiran lapangan bola, dia sedang meneriaki sang kakak yang satu tim dengan opanya.


“Sebenarnya kamu dukung kakak sama opa apa Abang sama Papa sih sayang?” Tanya Nisa sembari mengelus rambut putrinya yang sedari tadi semua tim di teriaki oleh putrinya.


“Ingung aku mama” jawab Kinara membuat Nisa tertawa sendiri melihat tingkah putrinya.


“Kenapa sayang?” Tanya Mommy safa yang datang menghampiri menantu dan cucunya.


“Ini mom, dari tadi Ara teriakin semua tim, terus aku tanya kamu sebenarnya dukung timnya siapa papa apa opa, terus dia jawabnya bingung aku katanya” jelas Nisa membuat mommy safa pun ikut tertawa mendengar cerita tentang cucu perempuannya.


“Yeh...Gol, Aka hebat” teriak Kinara di saat kakaknya mencetak gol.


“Kaget oma” reflek Mommy safa kaget dengan terikan cucunya.


“Coyi oma” ucap Kinara minta maaf kepada omanya.


“Iya sayang gak papa, Ara dukung siapa sayang?” Tanya Mommy safa mencoba menanyakan lagi.


“Eummm...” Ara bergaya sekaan sedang berfikir dengan meletakan jari telunjuknya di dagunya, “ara ukung Aka aja deh sma Oma ya, Mama ukung abang aja ya, kacian abang sama papa tidak ada yang cemangatin” ucap Kinara dengan tingkah lucunya.


“Iya sayang, mama terserah Ara dukung yang mana saja” sahut Nisa, tidak lama kemudian permainan sepak bola pun telah usai, Ara langsung berlomat lompat ketika mendapatkan di permainan terkahir di menangkan oleh tim opa dan kakaknya.


“Yeh.., Opa dan Aka menang” ucap Kinara dengan begitu riang.


“Adek dak dukung Abang?” Tanya Kinan yang mendengar ucapan sang adiknya mendukung kakaknya.


“Ndak, Ala kan ukung Aka ama Opa, yang ukung Abang cama papa kan Mama iya kan ma” jawab Ara lalu mentap sang ibu.

__ADS_1


“Iya sayang, Abang gak usah sedih dong, mama lihat tadi main bolanya bagus ko, setiap permainankan ada yang kalah ada yang menang jadi kalau Abang kalau gak usah sedih ya” ucap Nisa sembari mengelus kepala putra keduanya yang kini tengah berdiri di hadapannya.


“Keh mama” sahut Kinan, Kelvin pun tersenyum melihat Istri dan anak anaknya, ini satu hal yang membuat dia bangga dan kagum kepada istrinya, istrinya selalu bisa menenangkan anak anak mereka.


“Nih, Ala kacih num uat Abang” ucap Kinara sembari memberikan botol minum untuk kakaknya.


“Engkyu (thank you) adek” ucap Kinan


“Cama cama” sahut Kinan


***


Sedangkan di lain tempat Rina dan Niko sedang mendatangi makam kedua orang tua Rina, karena hari ini adalah bertepatan dengan hati meninghalnaya mereka, sesampainya di makam ternyata mereka bertemu dengan dokter Faisal yang kebetulan mau berziarah ke makam papanya yang memang meninggalnya di hari yang sama dengan orang tua Rina, mereka sama sama meniggal dalam kecelakaan satu mobil.


“Loh Ka ical disini juga?” Tanya Rina ketika bertemu dengan dokter Faisal di parkiran pemakaman.


“Iya, baru sampai mau ke makam papa” jawab Dokter Faisal ketika melihat adik sepupunya baru turun dari mobilnya.


“Pagi tuan Niko” sapa dokter Faisal


“Tante gak ikut ka?” Tanya Rina


“Ikut, nih kakak lagi nunggu mama lagi beli bunga tuh di depan” jawab Dokter Faisal lalu menunjuk ke arah mamanya.


“Oh iya aku juga belum beli bunganya loh mas” ucap Rina


“Biar mas saja ya yang beli” ucap Niko


“Gak usah mas disini aja sama ka ichal, aku sendiri saja gak papa ko” ucap Rina


“Ya sudah hati hati ya sayang” ucap Niko sembari mengelus kepala istrinya.


“Iya mas” sahut Rina, lalu Rina pun berjalan meninggalkan suami dan juga kakak sepupunya, dia berjalan menuju penjual bunga, setelah dia sudah memilih bunga yang dia suka, dia memperhatikan tantenya di penjual bunga seberang jalan yang hendak menyerang, lalu pandangannya tertuju kepada seorang laki laki yang di samping tantenya yang terlihat mencurigakan, lalu mata Rina langsung membulatkan matanya ketika melihat laki laki itu mengeluarkan sebuah pisau kecil seperti ingin melukai tantenya atau kemungkinan orang tersebut ingin mengambil barang barang berharga tantenya, dengan otomatis dia langsung berlari menyerang jalan ke arah tantenya.

__ADS_1


“Tante awasss...” panggil Rina sembari berlari.


Jleb


“Rina” terika ibu Ratna ketika melihat Rina sudah tergeletak di jalan sembari memegangi perutnya sedangkan pria tadi yang hampir mencelakai ibu Ratna kini setelah menusuk Rina dia langsung kabur.


Dokter Faisal pun kaget ketika mendengar teriakan mamanya, begitu pun dengan Niko dia keget ketika ada orang teriak memanggil nama istrinya, mata keduanya sama sama tertuju kepada Rina yang tengah bersandar di dada Ibu Ratna, dan refleks mereka berdua langsung berlari menghampiri keduanya.


“Tolong..., Ical tolong Rina” panggil Ibu Ratna, mencoba memanggil putranya.


“Tante, tante gak papa kan?” Tanya Rina dengan menahan rasa sakit di perutnya.


“Kenapa kamu ngelakuin ini Rina” ucap Ibu Ratna sampai meloloskan air matanya.


“Ya allah sayang” ucap Niko ketika melihat istrinya dalam keadaan lemah dan perutnya sudah penuh dengan darah. Lalu dengan cepat dokter Faisal membalut luka di perut Rina untuk menahan darahnya supaya tidak keluar terlalu banyak, setelah itu mereka sama sama membawa Rina ke rumah sakit dengan Dokter Faisal yang mengendarai mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit Rina langsung di tangani oleh tenaga medis di ruang UGD.


“Bagaimana keadaan istri saya dok?” Tanya Niko menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.


“Maaf tuan istri anda kekurangan darah dan stok darah di kami kebetulan sedang kosong, apa bisa anda carikan darah untuk pasien secepatnya kalau tidak akan membahayakan janinnya” jelas Dokter


“Apa dok janin, maksud dokter?” Tanya Niko penasaran.


“Iya tuan, istri tuan sekarang sedang mengandung” jawab dokter seketika tubuh Niko langsung melemas.


“Ambil darah gua Bal, darah gua sama dengan adik gua” ucap Dokter Faisal ketika mendengar jika adik sepupunya itu kekurangan darah.


“Baiklah, lo bisa ikut gua sekarang” ucap dokter Iqbal yang menangani Rina yang kebetulan teman dari Dokter Faisal.


Ketika dokter hendak pergi, Niko pun menghampiri dokter Iqbal.


“Dok, tolong selamatkan istri dan calon anak saya dok saya mohon” u ap Niko dengan khawatir.

__ADS_1


“Baik tuan, kami akan berusaha menyelamatkan istri dan calon anak tuan, dan saya mohon doanya dari pihak keluarga agar keduanya masih bisa bertahan” ucap Dokter Faisal lalu memasuki ruang UGD bersama dokter Faisal.


__ADS_2