
Mentari pagi menyapa kawasan pegunungan itu. Kedua insan yang saling mencinta itu saling memeluk satu sama lain dia dalam tidur mereka.
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Kedua insan itu masih berbaring di ranjang saling memeluk. Udara dingin membuat keduanya enggan untuk bangun.
Tika merasa berat di perutnya, tangan kekar Bagas memeluk pinggangnya begitu erat. Tika melepaskan ya dengan perlahan, tak ingin membangunkan Bagas yang masih tidur.
Pelukan pun terlepas, pemandangan pagi pasti sangat indah, Tika ingin melihatnya, ingin menghirup udara pagi. Setelah membersihkan tubuhnya Tika berjalan menuju balkon, dari sana Tika ingin melihatnya.
Bagas merasakan kosong di sampingnya. "Sayang..." seru Bagas. Pria itu melihat pintu balkon terbuka, pasti kekasihnya disana. Bagas bangun dan mencuci wajahnya dan menggosok gigi, untuk mandi nanti saja, karena masih sangat dingin.
"Kamu kok gak bangunin kakak sih?" bisik Bagas. Pria itu memeluk kekasih dari belakang.
"Iya, maaf. Kakak tidurnya nyenyak banget." Jawab Tika.
"Gimana gak nyenyak, boboknya sama kamu sayang." bisik Bagas.
Tika merona malu. Baru pertama kali tidur dengan seorang pria, tapi, kedua nya hanya tidur sambil memeluk saja tidak lebih.
Bagas membalikan tubuh Tika menghadapnya. Bagas juga menaruk kedua tangan Tika di atas lehernya. Sementara Bagas memeluk pinggangnya. Bagas sungguh tak tahan melihat bibir kekakasihnya. Bibir yang menjadi candunya. Dengan penuh kelembutan Bagas ******* bibir itu, namun lama kelamaan begitu dalam.
"Hahs..." Tika melenguh, ternyata tangan Bagas sudah bermain di bokongnya.
Keduanya kehabisan pasokan udara, Bagas melepaskan ciumanya. "Morning kiss untuk Kesayangan." Bisik Bagas. Dahi keduanya menyatu. Bagas tersenyum, akibat ulahnya bibir mungil sang kekasih sedikit membengkak akibat ciuman ganasnya.
Ciuman panas tadi, ternyata telah membangunkan sesuatu didalam tubuh Bagas. "Sayang..." bisik Bagas serak. Nafas Bagas memburu.
__ADS_1
"Kakak kenapa?" tanya Tika polos.
Bagas memegang tangan Tika dan mengarahkan kebawahnya, benda itu sudah sangat keras. "Kakak!" pekik Tika.
"Karena ciuman tadi sayang, jadi bangun dia." seru Bagas lirih, sungguh sangat menyiksa.
Tangan Tika masih dibawah. Bagas menuntun tangan sang kekasih untuk menhelus benda keras itu.
"Bantu kakak sayang. Ini sangat menyiksa." Bisiknya lirih.
Tika yang polos menurut saja, perlahan dielusnya dengan lembut.
Bagas sungguh sudah terbakar, dia menggendong Tika seperti anak koala, dan membawanya kedalam kamar dan membaringkannya.
Benda itu masih keras, kini posisinya tepat diatas tempat seharusnya, perlahan Bagas merapatkan benda itu ke tempatnya. Sedikit mengoyangkan pinggulnya. Rasanya begitu nikmat. Tika melenguh nikmat. "Kak...." bisiknya lirih.
Bagas masih mengoyangkan pinggulnya tepat diatas Tika. "Kak...udah..." larang Tika.
Bagas memejamkan matanya. Dasar laki laki, kalau lihat yang bening pasti mesum.
Bagas menjatuhkan tubuhnya di samping Tika. Nafas keduanya memburu. Benda keras milik Bagas masih saja mengeras. Tika dapat melihatnya dari balik kain penutup.
Bagas meraih tangan Tika diarahkannya tangan itu menuju benda kerasnya itu, Tika hanya diam, patuh mengikuti tuntunan kekasihnya yang sudah kelihatan tersiksa. Tangan Tika kini tepat berada diatas benda keras milik Bagas. Tika tak meyangka, tangannya kini menggenggam benda itu dan sedikit memberikan pijitan.
"Hah...sayang..." lirih Bagas.
__ADS_1
Tika masih memijit benda tersebut dengan lembut. Tika kasihan melihat sang kekasih yang sangat tersiksa. Masalah seperti ini Tika sedikit paham, karena dia pernah tanpa sengaja melihat video seperti ini.
Bagas yang sudah tak tahan menurunkan celana nya, Tika begitu terkejutnya melihat benda milik kekasihnya itu sangat besar. Tika melototkan matanya, dengan tangan gemetar Tika menyentuhnya lagi, dan dia pun mengelusnya. Kini Tika benar benar bisa menyentuh benda ini, yang selama ini hanya dari video saja.
"Bagas memejamkan matanya, menikmati elusan Tika. Sungguh tak bisa dibayangkan bagaimana rasanya.
Tak apalah hanya dipegang dan dielus, asalkan jangan di masukan kedalam intinya.
Elusan lembut, lama kelamaan elusan itu dipercepat dan...dan...pecah....hahahah (Pikir ajalah sendiri dan akhirnya gimana)
Deru nafas Bagas naik turun, tangan kekasihnya sungguh membuatnya mabuk kepayang.
"Sayang....maaf." Bagas sadar kalau ini salah. Untung saja tak kebablasan.
Tika menunduk malu, pipinya merona. Entah kenapa dia berani melakukan itu kepada laki laki.
"Aku mencintai kamu." ucap Bagas.
Karena hari sudah mulai siang, jam dinding sudah menunjukan pukul satu siang. Siang ini mereka berdua akan kembali ke Medan. Dan melakukan aktifitas kembali.
Keduanya sudah selesai membereskan barang barangnya. Tika membawa pakaian yang dibelikan Bagas.
"Sayang, maafkan kakak yang tadi ya?" ucap Bagas merasa bersalah.
"Iya kakak."
__ADS_1
Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dan mereka pun pulang.
Bersambung.....