
"Hallo kak, kemana saja?" seru Tika disana.
Hening....
Bagas masih belum menjawabnya. "Kak?! Kak Bagas sayang?!" teriak Tika.
Bagas tersentak. "I..iya sayang...kenapa?"
"Ck. Kakak itu, kemana saja. Kenapa sedari tadi tak menelpon aku?" kesal Tika. Tak tahukah Bagas, kalau Tika sedari tadi menunggu kabarnya.
"Kakak, kapan pulang?" tanya Tika.
"Maaf sayang. Mungkin kakak akan pulang, disini masih hujan deras, besok pagi baru kakak pulang." Seru Bagas. Tadinya dia akan memberi kejutan kepada Tika, namun sekarang gagal total.
"Ya sudah, kakak hati hati dijalan besok. Tika sayang sama kakak." Ucap Tika manja.
Deg. "I...iya...kakak juga sayang sama kamu." sahut Bagas.
tut...tut...
Panggilan pun berakhir, Bagas semakin frustasi saja, terus saja merutuki kebodohannya.
***
__ADS_1
Mentari pagi menyapa kota, Bagas bangun pagi sekali, dia ingin mencari montir terdekat, agar mobilnya bisa berjalan lagi, mereka harus segera kembali. Dan juga Bagas harus mengantar Nessa ke kota Binjai.
Setelah mendapatkan montir dan mobilnya pun diperbaiki. Tiga puluh menit kemudian mobil Bagas sudah bisa di hidupkan dan jalan. Bagas mengetikan sebuah pesan di ponselnya untuk Nessa, agar wanita itu segera bersiap, karena mereka berdua akan segera melanjutkan perjalanan mereka.
Didalam Kamar Hotel...
Nessa melihat ponselnya bergetar, ada notifikasi pesan, Nessa membukanya. Ternyata dari Bagas, pria itu menyuruhnya cepat bersiap. Nessa pun menurut.
Lima belas menit kemudian, Nessa menyusul Bagas. Keduanya sudah berada di dalam mobil, tak ada suara, didalam mobil begitu hening.
Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, perjalanan masih ada satu jam setengah lagi menuju kota Binjai.
Sesekali Bagas melirik kearah Nessa, dia melihat wanita itu kelelahan.
Nessa mengangguk, dia pun memejamkan matanya.
Mereka sampai di Kota Binjai, dari pusat kota cukup jauh menuju tempat yang Bagas maksud. Jarak nya sekitar tiga puluh lima menit dari Kota.
Sebuah kampung, disitulah Nessa akan menetap. Akhirnya sampai juga. Bagas bingung untuk membangunkan Nessa.
Menunggu beberapa saat, Bagas menghela nafas, dia harus membangunkan Nessa.
"Ness...kita sudah sampai." Seru bagas. Tak ada pergerakan dari Nessa.
__ADS_1
Bagas menyentuh dan menggoyangkan lengan Nessa, "Nessa...bangun, kita sudah sampai." Ucap Bagas dengan suara yang sedikit keras.
Mata Nessa mengerjap, Nessa membuka matanya. "Kita sudah sampai Gas?" tanya Nessa. Dijawab anggukan oleh Bagas.
Keduanya turun dari mobil, disinilah mereka, di depan sebuah rumah minimalis.
Ceklek...
Rumahnya yang sangat bersih dan rapi. "Rumah siapa ini Gas?" tanya Nessa.
"Ini, rumah aku. Aku beli waktu, Dokter Ryan menugaskan ku di Kota ini." Ucap Bagas. Dulu Bagas memang bertugas sebagai asisten Dokter Ryan, dia ditugaskan di rumah sakit yang ada di Kota Binjai ini.
Nessa mengangguk anggukan kepalanya.
"Ness, untuk sementara, kamu disini dulu. Sekira nanti aman, kau boleh kembali ke Medan." Seru Bagas.
"Terimakasih Gas."
"Aku akan menstransfer sejumlah uang untuk mu, cukup untuk beberapa bulan kedepan." Ucap Bagas.
Notifikasi di ponsel Nessa berbunyi, ternyata Bagas mengirim sejumlah uang untuknya.
"Ness, aku balik ke Medan ya. Kau disini saja. Mudah mudahan disini aman." Ucap Bagas pamit. Pria itu tak ingin berlama lama disana, takut khilaf lagi.
__ADS_1
Nessa mengangguk, dia menatap punggung tegap Bagas yang berjalan menuju pintu keluar rumah. Nessa merasa Bagas menjaga jarak dengannya.