Aku Cinta Dia

Aku Cinta Dia
Bab. 41


__ADS_3

Bagas dan Nessa masih menikmati ciuman panas itu, Bagas lupa diri, melupakan Tika sang calon istri, yang mana sebentar lagi mereka akan menikah.


Cukup lama mereka menikmati.ciuman itu, sampai - sampai bathrobe Nessa terbuka lebar, menampakan dua aset berharga miliknya, entah setan apa yang merasuki Bagas, tangan Bagas mulai naik ke aset itu. Merabanya dan mulai meremasnya.


Suara laknat dari mulut Nessa keluar begitu seksi, membuat Bagas terbuai. Bagas terus meremas lembut aset Nessa.


Nessa merasakan geli geli nikmat, Bagas melepas sejenak ciuman mereka dan mata mereka bertemu, namun tangan Bagas masih berada di aset milik Nessa yang tidak berbalut apa pun.


Deg....


Nafas Bagas seolah terhenti, dia mulai sadar, perbuatannya itu salah. Dia teringat akan Tika sang calon istri. Bagas menjauh dari Nessa. Dia mengusap wajahnya kasar, "Ya Tuhan...apa yang kulakukan." gumam Bagas dalam hati. Rasa bersalah merasukinya.


Bagas berdiri, meninggalkan Nessa sendiri. Bagas bodoh, sangat bodoh. Bagas terus merutuki dirinya. Kenapa sampai kelepasan seperti itu. Bagas berdiri di balkon kamar hotel, menenangkan degup jantungnya. Kalau dia masih satu ruangan dengan Nessa, pasti akan sesuatu yang lebih akan terjadi. Bagas tak mau itu, dia masih mengingat kekasih hatinya Tika.


Sementara itu, Nessa menatap nanar kepergian Bagas, wanita itu pun merapikan bathrobenya yang terbuka.


Sentuhan yang diberikan Bagas sungguh sangat hangat dan nikmat, Nessa sangat suka. Tapi, Nessa kecewa kenapa Bagas melepasnya.

__ADS_1


Bagas masih berdiri di balkon kamar, sambil menunggu karyawan hotel membawakan pakaian yang dipesannya.


Beberapa menit kemudian, pesanan pakaian telah datang, tanpa menoleh kearah Nessa, Bagas bergegas membukakan pintu. Setelah mendapatkan pesanannya, Bagas menyerahkan paper bag yang untuk Nessa kepada wanita itu.


"Pakailah ini." ucap Bagas datar. Setelah itu Bagas masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Nessa sedih, Bagas seketika berubah, pria itu berkata sangat datar sekali.


Nessa memakai pakaian yang diberikan Bagas, setelah itu dia duduk di sofa kamar sambil menunggu Bagas keluar dari kamar mandi.


Sedangkan Bagas didalam kamar mandi, dia menatap tubuh dan wajahnya di balik cermin, merutuki kebodohonnya. "Kenapa Bisa? Maafkan kakak Tika," gumam Bagas. Berkali kali Bagas menghela nafasnya, menenangkan dirinya. Setelah memakai pakaiannya Bagas keluar dari kamar mandi.


Pertama kali, pandangan Bagas ke sofa, dimana ada Nessa disitu. Pandangan mereka saling mengunci, namun Bagas cepat mengalihkan pandangannya kearah lain. Sepertinya, mereka tak bisa satu kamar, Bagas takut akan khilaf lagi.


"Bagas...." ucapan Nessa terputus.


"Nes, kau tidurlah, aku akan keluar. Aku tidur dimobil saja." Seru Bagas datar.

__ADS_1


Nessa menghela nafasnya, dia tahu kalau Bagas menghindarinya.


"Diluar, masih hujan Gas." Ujar Nessa.


"Tidak apa, kau disini aja. Aku akan di lobi hotel sambil menunggu hujan reda." Ucap Bagas datar dan langsung bergegas keluar dari kamar tersebut.


Karena hujan masih turun dengan derasnya, jadi Bagas menunggu di lobi hotel sampai hujan reda. Pria itu akan kembali ke mobilnya, dia akan tidur di mobil saja.


Tak berapa lama, akhirnya hujanpun reda juga, Bagas langsung saja menuju mobilnya.


Bagas menyandarkan tubuhnya di jok mobil, memejamkan matanya, teringat akan perbuatannya tadi bersama Nessa, sungguh sangat keterlaluan.


Tetiba, ponsel Bagas berdering, betapa kagetnya Bagas, ternyata yang menelponya adalah sang kekasih yaitu Tika.


Deg...


Haruskah dia mengangkatnya, kalau iya, apa yang harus dikatakannya.

__ADS_1


Bagas mencoba tak menjawab panggilan itu, namun ternyata, ponsel Bagas masih saja berdering. Tampaknya sang kekasih mengkhawatirkannya. Mau tak mau, Bagas pun menjawab panggilan itu.


"Hallo kak...kemana?"


__ADS_2