Aku Cinta Dia

Aku Cinta Dia
Bab. 57


__ADS_3

Randy memakirkan mobilnya dihalaman rumahnya. Jam sudah meunjukan pukul tujuh malam. Gadis kecilnya masih terlelap.


Ketika dia ingin membangunkan Jihan, mata anaknya terbuka.


"Papi..."Seru Jihan.


"Anak papi udah bangung?" tanya Randy lembut. "Mau, papi gendong?"


Jihan mengangguk, matanya masih terasa berat untuk dibuka.


Dengan penuh kasih sayang, Randy menggendong sang anak. Berjalan perlahan menuju pintu rumahnya. Langkahnya terhenti sesaat, Randy melihat ada sebuah mobil mewah terparkir di halaman rumahnya, ia tahu mobil siapa itu. Itu mobil sang kakak.


Tapi, apa gerangan sang kakak datang kerumahnya. Sudah tiga bulan belakangan ini, Kakaknya itu tak pernah lagi berkunjung.


Randy terus melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.


Ceklek...


"Lama banget lo pulang?" tanya Jimmy.


"Ck. Baru juga jam setengah delapan malam." Jawab Randy berdecak.


"Sama aja. Gue udah nunggu Lo dari tadi." Ucap Jimmy.


"Uda sana, gue mau masuk." Randy masuk kedalam rumahnya.


Jihan merasa terusik dengan suara ribut. Sepertinya dia mengenal suara itu. Dengan perlahan, Jihan membuka matanya.


"Uncle..." pekiknya senang. Mata yang tadinya terpejam, kini sudah terbuka lebar, dia melihat kedatangan uncle kesayangannya.


"Ck..." Randy berdecak kesal. Putri kecilnya entah kenapa sangat senang dengan kedatangan uncle nya.


"Hai, prinscess...." sapa Jimmy antusias.


Jihan ingin berpindah kegendongan sang uncle. Dengan senang hati Jimmy menyambut princess nya itu.


"Uncle kapan datang?" tanya Jihan.


"Sudah dari sore tadi sayang." Seru Jimmy yang sambil menggendong Jihan.


"Oleh - oleh nya mana?" selalu menanyakan oleh oleh.

__ADS_1


Randy sedikit cemburu, anak gadisnya kalau ada sang uncle, pasti lupa sama papinya.


Kedua, keponakan dan uncle itu duduk di sofa ruang tamu.


"Bi Asih?!" teriak Jimmy memanggil asisten rumah tangga sang adik.


Bi Asih datang tergopoh - gopoh. "Ada apa Tuan?" tanya nya.


"Paper Bag tadi mana Bi?" tanya Jimmy.


"Sebentar Tuan." Bi Asih kembali kedapur, ia mengambil beberapa paper bag yang diberikan Tuannya tadi.


"Ini Tuan."


Jimmy mengambilnya dan memberikan kepada princess kesayangannya.


Dengan antusias, Jihan menerimanya dan membukanya, matanya berbinar senang. Banyak sekali mainan dan coklat kesukaannya.


"Terimakasih uncle..." seru Jihan dan mengecup pipi Jimmy.


"Kalian, kalau berdua lupa sama aku." Rajuk Randy.


Keduanya hanya terkekeh geli.


"Tadi, aku sama papi, kerumah calon mami aku Uncle." Jawab Jihan.


"Calon mami?" tanya Jimmy.


Jihan mengangguk antusias. "Siapa sayang?" tanya Jimmy kepo. Sang adik mempunyai kekasih.


"Buka siapa - siapa kak." Jawab Randy.


"Jihan bilang, tadi calon maminya." tanya Jimmy. "Apa, Lo uda move on dari wanita itu?" dulu Randy bercerita tentang wanita yang disukainya kepada sang kak.


Randy menggaruk kepalanya. "Ck. Udah deh, gua mau istirahat dulu." Randy beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.


Jihan dan Jimmy hanya menatap kepergian Randy. Dan keduanya tertawa.


***


Dikota Medan.

__ADS_1


Bagas sudah sampai di rumah, mobilnya sudah terparkir di garasi rumahnya.


Menetralkan degup jantungnya. Keluar dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam rumah.


Istri tercintanya sudah meunggunya diruang tamu.


"Assalamualaikum sayang?" sapa Bagas.


Tika memasang wajah cemberutnya. Menunggu sang suami sedari tadi. "Maafkan mas sayang." Seru Bagas merasa bersalah.


"Yank...maaf. Tadi...mas banyak pekerjaan Yank." Bagas memang banyak kerjaan. Namun bukan itu yang membuatnya terlambat.


Bagas memasang wajah memelasnya. Memohon kepada istri tercintanya agar di maafkan.


"Yank..." rengek Bagas seperti anak kecil.


"Sayangku...."


Hah...Tika menghela nafasnya. Mana bisa dia melihat suami tercintanya memelas seperti itu.


Tika menangkup kedua pipi Bagas. Dan memberikan sebuah kecupan.


Cup...


Satu kecupan dia berikan di bibir sang suami. "Lain kali, kalau mau pulang lama itu, kabari aku ya sayang..." seru Tika gemas.


Bagas mengangguk setuju. "Iya sayang."


"Ya sudah, mas sudah makan belum?" tanya Tika.


Deg...


Makan? Dia sudah sangat kenyang sekali, makan dirumah Nessa.


"Mas...sudah makan tadi Yank." Jawab Bagas gugup.


"Dimana mas?" tanyanya.


Bagas menelan salivanya. "Di...di Cafe pak Bos Yank." Jawab Bagas bohong.


"Ya sudah. Mas mandi, terus istirahat," seru Tika.

__ADS_1


Keduanya berjalan menuju kamar mereka.


__ADS_2