Aku Cinta Dia

Aku Cinta Dia
Bab. 36


__ADS_3

Tika masih setia menunggu kabar dari pria yang sangat dia cintai itu. Dari siang kemarin sampai ini menjelang siang lagi, Bagas calon suaminya tak kunjung ada kabar.


Rasa khawatir meliputi Tika, wanita itu berpikiran negatif saja. Sampai - sampai hari ini Tika tak masuk kerja. Tak ada semangat untuk bekerja sebelum ada kabar dari Bagas.


Jam dinding sudah menunjukan pukul sebelas siang, lagi dan lagi, Bagas kekasihnya tak kunjung menghubunginya.


"Kemana sih kamu kak?" ucap Tika khawatir.


***


Di Villa.


Bagas akan menemui Tuan Darma lagi, akan meneruskan kerjasama mereka. Dia sudah mengabari Tuan Darma, mereka akan bertemu di hotel milik Tuan Darma.


Setelah makan, Bagas berpamitan kepada Nessa, mungkin dia tak akan balik ke Villa, karena banyak pekerjaan yang harus di selesaikannya.


"Nes, aku akan pergi. Untuk sementara, kau disini saja dulu. Mungkin, aku tak kembali. Nanti aku kabari kalau aku ingin kesini." Ucap Bagas panjang lebar.


"Dan, Kau disini bersama Bi Sari. Dia akan tinggal disini." Jelas Bagas lagi.


Nessa hanya mengangguk. Sebenarnya Nessa tak ingin Bagas pergi, dia ingin Bagas menemaninya. Tapi, apala daya, Bagas sangat sibuk pastinya.


"Hati - hati dijalan ya Gas." Seru Nessa perhatian.

__ADS_1


Bagas mengangguk sebagai jawabannya. Dia juga berpamitan kepada Bibi Sari, menitipkan Nessa kepadanya.


"Kamu tenang saja Nak Bagas, Neng Nessa akan aman sama Bibi." Ucap Bibi Sari yakin.


"Terimakasih Bi. Saya pergi dulu ya Bi." Serunya.


Bagas tak mengatakan yang sebenarnya kepada Bibi Sari mengapa Nessa berada di Villa, dia hanya mengatakan kalau Nessa hanya berlibur disini.


***


Bagas sudah melajukan mobilnya, meninggalkan Villa mewah itu. Dengan kecepatan sedang ia kemudikan mobilnya. Di seperempat jalan, Bagas teringat dengan Tika. Dia belum memberikan kabar kepada sang kekasih.


Bagas memberhentikan mobilnya ditepi jalan sejenak, ia ingin menelpon Tika.


Suara ponsel Tika berdering, dengan gerak cepat Tika mengambil ponselnya diatas nakas, matanya berbinar, akhirnya yang ditunggu menelpon juga.


"Halo Kak...!" pekik Tika, memekakan telinga Bagas.


"Waw...Sayang, pelan dong." Kekeh Bagas, kekasihnya ternyata menunggu kabarnya dia sangat yakin sekali.


"Kakak kemana saja? Aku nungguin kabar kakak?" rengek Tika.


Bagas terkekeh geli. "Maaf sayang...sinyal disini sangat susah sekali." Seru Bagas.

__ADS_1


"Ya ampun...aku khawatir banget sama kakak." Ucap Tika.


Mereka mengobrol, Bagas memberitahukan kepada Tika, mungkin dia di Brastagi akan seminggu. Dan Bagas masih belum ingin bercerita tentang Nessa. Nanti saja pikirnya.


"Kok, bisa lama kak?" Tika kayak gak ikhlas gitu jauh dari Bagas sampai seminggu. Sementara pernikahan mereka dua minggu lagi.


"Iya, maaf ya sayang. Pekerjaan kakak masih belum selesai. Kalau cepat selesai, kakak akan segera pulang." Jelas Bagas.


Tika menghela nafasnya pelan. "Ya udah. Kakak disana hati - hati, selalu kabari aku kakak." Ucap Tika manja.


"Siap sayangku. Kakak mencintai kamu."


"Aku juga mencintai kakak."


Sambungan telpon pun terputus. Bagas melanjutkan perjalanannya menuju hotel Tuan Bagas. Kalau bisa siang ini pekerjaannya selesai, namun tidak mungkin, bagaimana dengan Nessa. Wanita itu masih dalam bahaya.


****


Di Villa.


Nessa menatap luar dari balik jendela. Memikirkan nasibnya, kenapa seperti ini. Nessa berharap kehidupannya kedepan akan indah. Saat ini hatinya di penuhi oleh Bagas. Nessa sudah mencintai Bagas. Karena perhatian yang diberikan oleh Bagas. Namun, Nessa tak ingin memaksakan diri, dia tak ingin kejadian dulu terulang, karena terlalu menyukai seseorang, Nessa hilang kendali.


Biarlah rasa ini dia pendam sendiri, kalau jodoh tak akan kemana.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2