
Sampai di halaman rumah, Bagas dengan gerak cepat turun dari mobilnya dan dengan langkah lebarnya Bagas berjalan menuju rumah. Sampai didepan pintu masuk rumah, dengan suara teriakannya.
"Assalamualaikum sayang...Mas pulang!" teriak Bagas menyapa.
Tika yang tengah asyik didapur, memasak untuk sang suami. Dikejutkan dengan teriakan sang suami.
"Sayang...!!" panggil sang suami.
"Assalamualaikum sayangku..." seru Bagas lagi yang sudah menemukan sang istri.
"Walaikumsalam mas..." sahut Tika.
"Lagi apa Yank?" tanya Bagas yang sudah melingkarkan tangannya di perut sang istri.
"Lagi masak ma."
"Yank...mas ada kejutan untuk kamu." Seru Bagas.
Tika membalikan badannya menghadap sang suami.
"Kejutan apa mas?" tanya Tika penasaran.
"Minggu depan...kita akan ke Bali." Ucap Bagas antusias.
"Hah! Bali mas?" tanya Tika tak percaya.
"Iya sayang...mas ada tugas dari Dokter Ryan di Bali. Jadi, mas pikir kamu ikut saja. Kita bisa sekalian bulan madu." Seru Bagas panjang lebar.
__ADS_1
Mendengar kata Bulan madu, pipi Tika merona malu.
"Bu..bulan madu Mas?" tanya Tika.
"Iya sayangku. Lagian, mas gak bisa jauh - jauh dari kamu. Karena kita di Bali cukup lama. Sekitar sebulan. Mana sanggup mas, jauh dari kamu sebulan. Jadi, mas meminta Dokter Rafi untuk mengizinkan kamu ikut juga."
Tika mengembangkan senyumnya. Wanita itu sangat senang. Bali adalah tempat impiannya. Apalagi, Bali adalah tempat yang diinginkan Tika untuk berbulan madu.
"Kamu, mau kan Yank?" tanya Bagas.
Tika memgangguk cepat. Mana mungkin menolak. Kesepakatan telah dibuat, sang istri akan ikut ke Bali.
***
Di Kota Binjai.
Randy dan Jihan masih betah dirumah Nessa. Bahkan disana mereka memasak bersama. Nessa sudah mulai menerima keberadaan Randy didekatnya. Randy pria yang baik.
"Tante...masakanan papi enak kan?" seru Jihan di ruang makan, mereka bertiga lagi menikmati makan malam bersama.
"Enak banget." Jawab Nessa jujur.
"Ternyata, mas Randy pintar masak ya?" seru Nessa.
Randy hanyan tersenyum menanggapinya. Pria itu sangat senang sekali bisa bersama dengan Nessa selama ini sampai makan malam.
"Papi...kita malam ini, bobok dirumah tante Cantik ya?" Ucapan tiba - tiba Jihan membuat Randy dan Nessa tersedak bersamaan. "Uhukk..."
__ADS_1
"Mau ya papi..." seru Jihan.
Randy melirik Nessa. Meminta persetujuan oleh wanita cantik itu. Nessa yang di pandang seperti itu, tahu bahwa Randy memperbolehkan mereka untuk menginap.
Nessa berpikir sejenak. Nessa pikir, tak apalah. Untuk malam ini saja. Akhirnya Nessa mengangguk setuju. Orang pertama yang senang adalah Jihan. Gadis kecil itu bersorak riang.
"Asyik...terimakasih tante, nanti...aku bobok sama tante ya?" pinta Jihan.
Nessa mengangguk. Sementara itu Randy bingung. Dia, dimana akan tidur?
"Terus...papi, tidur sama siapa?" tanya Randy spontan.
Kedua wanita berbeda generasi itu terdiam sesaat.
"Papi...juga bobok sama Jihan dan tante saja ." Usul Jihan.
Nessa melototkan matannya. Membuat jantungnya bergerak cepat. Entah apa sebabnya.
"Emang...tante Nessa ngizinin?" tanya Randy sambil melirik Nessa.
"Bolehkan Tante?" tanya Jihan.
Nessa bingung harus menjawab apa. Sementara Randy berharap Nessa mengatakan 'Boleh'.
Semenit kemudian. Nessa mengangguk. "Boleh" seru Nessa gugup. Malam ini dia akan tidur sekamar dengan Randy. Walaupun dulu mereka sering tidur bersama di ranjang yang sama, bahkan berbagi peluh bersama.
"Yey..." teriak Jihan senang.
__ADS_1
Randy tersenyum tipis. Rasa benci yang awalnya di rasakan Randy untuk Nessa, kini perlahan hilang. Malah, rasa cintanya semakin tumbuh bersemi.
Mungkin, Randy mencoba akan memperjuangkan Nessa kembali. Mana tahu Nessa luluh. Kalau saja benar, Randy tak akan membiarkan Nessa lepas lagi.