Aku Cinta Dia

Aku Cinta Dia
Bab. 61


__ADS_3

Jihan sudah tak sabar cepat - cepat untuk sampai kerumah Nessa. Sekitar enam menit lagi mereka sampai dirumah Nessa.


Ponsel Jimmy berdering, ternyata Randy yang menelpon. Adiknya itu entah mau apa menelpon dirinya.


"Halo kak, dimana?" tanya Randy disebrang sana.


"Gue, jalan - jalan sama Jihan. Anak lo mau kerumah Tante cantik katanya." Seru Jimmy.


"Apa?!" teriak Randy. Kalau Jimmy kerumah Nessa, bisa - bisa pria itu menggoda Nessa, Randy sangat tahu sang kakak adalah cassanova sejati, pantang melihat cewek cantik langsung diembat.


"Gak usah teriak - teriak lho!" kesal Jimmy. Kenapa haru teriak - teriak seperti itu. Jimmy tahu, Randy takut akan di tikung olehnya.


Jimmy terus menggoda sang adik. "Tante cantik Jihan pasti sangat cantik ya? Boleh dong." Goda Jimmy.


"Lo jangan macam - macam Kak. Dia milik ku." Seru Randy spontan.


"Kak Jimmy, please jangan ya kak?" mohon Randy. Randy sangat tahu, dia akan kalah pesona dengan sang kakak.


"Ck, nyebelin banget Lo." kesal Jimmy. mana mungkin dia mau milik punya sang adik. Dia hanya menggodannya saja.


"Kak...please." Mohon Randy lagi.


Jimmy menghela nafanya. Menggelengkan kepalanya. "Gue becanda. Sebaiknya kamu, kesini saja menyusul kami." Ucap Jimmy.


Sambungan telpon pun terputus. Randy menghela nafasnya kasar. Dia harus segera menyusul kesana. Dengan cepat dia menyambar kunci mobilnya dan menuju tempat Nessa.

__ADS_1


***


Bagas sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sepertinya minggu depan dia akan ditugaskan keluar kota untuk beberapa hari. Kalau seperti itu, pasti dia akan berpisah sementara dengan sang istri, rasanya Bagas tak sanggup harus berpisah dengan sang istri berhari - hari.


Bagas memutar otaknya, dia harus ke Bali untuk bekerja dan meninggalkan sang istri.


Bagas sungguh frustasi.


Memutar otak bagaimana caranya, Bagas duduk di kursi kebesarannya diruang kerjannya.


Drrt...drt...drt....


Ponsel Bagas berdering, ada nama Nessa di layar pipih itu, Bagas berdecak kesal, kenapa harus dia lagi, mengganggu saja.


***


Nessa kesal, kenapa akhir - akhir ini Bagas sangat susah sekali di hubungi, kemana pria itu. Nessa merindukannya. Nessa dibuat uring - uringan.


Mobil yang dibawa Jimmy sudah berhenti di depan rumah Nessa, mereka menunggu kedatangan Randy. Katanya Randy akan menyusul mereka.


Jimmy dan Jihan menunggu Randy di dalam mobil saja.


"Uncle...kenapa papi lama sekali?" ucap Jihan sebel. Gadis kecil itu sangat sudah tak sabaran untuk bertemu dengan Nessa.


Jihan mengerucutkan bibirnya. "Sabar princes...kita tunggu sebentar lagi ya?" ucap Jimmy.

__ADS_1


Jantung Jimmy berdebar kencang, seperti akan terjadi sesuatu. Jimmy memegang dadanya. "Kenapa jatungku berdebar kencang." Gumam Jimmy dalam hati.


Tok...tok...tok...


Randy mengetuk kaca jendala mobil sang kakak. Ternyata pria itu sudah sampai.


"Cepat banget bro?" kekeh Jimmy. Entah berapa km kecepatan mobil Randy.


Jimmy dan Jihan turun dari mobil dan mereka bertiga akan masuk kerumah Nessa. Namun ketika melangkah, suara ponsel Jimmy berdering.


"Kalian, duluan saja." Ucap Jimmy, pria itu ingin menjawab telpon dulu.


Randy mengangguk. Randy menggandeng tangan Jihan, keduanya berjalan menuju rumah Nessa.


"Assalamualaikum...Tante...?" teriak Jihan antusias.


Nessa tengah asyik duduk santai, terganggu dengan ketukan pintunya.


"Ck...siapa sih?" decak Nessa. Dia pun berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintunya.


Ceklek...


"Tante..." pekik Jihan senang.


Senyum Nessa terkembang, yang tadinya suntuk menjadi semangat karena kedatangan Jihan. Gadis kecil itu sangat menggemaskan.

__ADS_1


__ADS_2