Aku Cinta Dia

Aku Cinta Dia
Bab. 54


__ADS_3

Bagas sudah berpamitan kepada sang istri. Kini pria itu sudah melajukan mobilnya menuju kota Binjai. Awal sekali, Bagas akan ke cabang Cafe and Resto di Binjai.


Bagas di tugaskan untuk mengeceka keuangan disana. Itu semua perintah dari sang Bos. Siapa lagi kalau bukan, Dokter Rafi.


Dokter Rafi sudah mempercayai Bagas sebgai asisten pribadinya.


Dari Kota Medan ke Binjai lumayan memakan waktu satu jam tiga puluh menit. Itu pun kalau tidak macet.


Bagas sengaja tidak melewati tol. Karena Bagas ingin menikmati keramaian.


Tak terasa, Bagas sampai di Cafe and Resto. Dengan gagahnya, Bagas turun dari mobilnya. Seperti biasa, dimana pun Bagas berada, selalu saja menjadi pusat perhatian wanita - wanita cantik.


Memeriksa beberapa laporan cafe. Cukup lama Bagas di Cafe. Pukul dua siang, teringat akan janjinya kepada Nessa. Bagas akan singgah sebentar di rumah Nessa.


***


Randy dan Jihan sudah berdiri di depan pintu rumah Nessa, gadis kecil itu sudah tak sabaran untuk bertemu dengan tante cantiknya.


Nessa sedikit kecewa, kenapa yang datang mereka, bukan Bagas. Nessa menghela nafas berkali - kali, melihat wajah ceria Jihan, Nessa sungguh tak tega melihatnya.


*Tok...tok...tok...


"Assalamualaikum ....Tante...?" sapa gadis kecil itu dengan semangat*.


"Walaikumsalam..." sahut Nessa dari dalam.

__ADS_1


Ceklek...


"Tante...?!" pekik Jihan senang. Gadis kecil itu berhambur kepelukan Nessa.


Dengan sigap, Nessa menggendong tubuh mungil Jihan.


"Princes kangen ya sama tante?" goda Nessa.


"Hihi...iya dunk..." jawab Jihan terkekeh.


Sementara itu, Randy hanya diam menatap dua perempuan berbeda generasi itu. Senang melihat Jihan sebahagia ini. Sudah lama senyum di wajah mungil anaknya itu tak nampak. Ketika bertemu dengan Nessa, senyum itu kembali lagi.


Jihan benar - benar membutuhkan seorang ibu. Jihan adalah hasil perbuatannya dengan seorang wanita yang pernah Randy sewa waktu itu. Ketika dirinya patah hati karena Nessa menolaknya. Randy melampiaskan nya kepada wanita sewaan bernama Rindi. Selama seminggu Randy menyewa gadis itu. Mereka melakukannya tanpa pengaman. Sebulan kemudian, Rindi datang kepada Randy, wanita itu mengatakan kalau dirinya hamil.


Randy bersedia menikahi Rindi. Namun wanita itu belum mau menikah dan punya anak. Dan akhirnya Rindi pergi jauh, sampai sekarang entah kemana.


Randy masih menatap kedua wanita kesayangannya lagi bersenda gurau.


"Waktunya makan siang Ji. Tante, kebetulan sudah masak, jadi...ayo kita makan." Ajak Nessa antusias.


"Ayo tante..." seru Jihan semangat. Keduanya menuju ruang makan. Keduanya hampir melupakan keberadaan Randy.


"Tante...ada papi." bisik Jihan pelan. Gadis kecil itu melupakan papi nya.


Deg...

__ADS_1


Nessa menoleh kearah Randy, mereka berdua saling pandang. Pandangan keduanya sangat dalam. Apalagi Randy, menatap Nessa penuh cinta. Ternyata rasa cintanya untuk Nessa masih ada, dan masih banyak.


"Ehemm..." Randy berdehem menghilangkan kegugupannya.


"Ma...mas, Randy. Ayo makan..." ajak Nessa gugup.


Randy mengangguk, dan berjalan menuju ruang makan, bergabung bersama keduanya. Mereka bertiga makan dengan keheningan.


Sedari tadi, Nessa sangat gelisah. Wanita itu menunggu kedatangan Bagas sang pujaan hati. Nessa berharap, Jihan dan papinya segera kembali pulang kerumah mereka.


"Tante kenapa? Dari tadi, diam aja." Tanya Jihan. Gadis kecil itu memperhatikan tante cantiknya hanya diam saja.


Ternyata Randy juga memperhatikan Nessa. Wanita itu seperti gelisah.


"Hmm...tante gak apa kok sayang..." seru Nessa.


Hari sudah mulai sore, Bagas nya tak kunjung datang. Tapi, baguslah. Karena Jihan dan papi nya masih bersamanya.


Karena kelelahan, Jihan tertidur di sofa ruang tamu Nessa.


"Ma...mas, Randy. Bawa Jihan ke kamar aja. Kasihan tidur disini." Ucap Nessa.


"Gak usah. Saya bawa pulang aja." Seru Randy dingin dan datar. Randy menggendong sang anak, dia ingin pulang.


"Saya pulang..." ucap Randy singkat. Pria itu langsung berlalu tanpa basa basi lagi.

__ADS_1


__ADS_2