
Uhuk...uhuk...Alisa tersedak.
"Kamu siapa?!" tanya Jimmy sekali lagi dengan suara yang sedikit tinggi.
Alisa sontak berdiri dan melebarkan matanya. "Tu...tuan, saya...saya Alisa." Seru Alisa terbata karena takut.
"Alisa?" tanya Jimmy, benar - benar lupa Jimmy.
Hening...
Hening...
Hening...
Dua menit kemudian, Jimmy memijit dahinya. Astaga, dia melupakannya. Padahal dia yang membawa gadis itu.
Jimmy menghela nafasnya. "Ck. Maaf."
Alisa masih saja diam menunduk. Tatapan mata Jimmy tadi sangat menakutkan.
Jimmy perlahan mendekat, pria itu melihat begitu banyak makanan diatas meja makan.
"Kau, memasak?" tanya Jimmy.
"Iya...tapi, ini masakan semalam Tuan. Saya hanya memanaskannya lagi. Tapi, masih enak kok Tuan." Ucap Alisa.
Jimmy mendudukan bokongnya di kursi dan ingin menikmati makanan itu. Jimmy mengambil piring kosong, dan menyendokan nasi ke piringnya dan juga mengambil beberapa lauk.
Jimmy makan dengan santainya tanpa memperdulikan Alisa yang masih terdiam berdiri.
Alisa hanya memperhatikan Jimmy makan. Sangat lahap, apakah masakannya enak atau gimana. Tapi, dilihat dari lahapnya makan Jimmy, itu berarti masakan Alisa enak.
"Ternyata masakannya enak juga. Walaupun masakan semalam." gumam Jimmy dalam hati.
__ADS_1
Jimmy selesai makan. Pria dingin itu bangkit dari duduknya dan ingin segera berangkat kerja. Tanpa memperdulikan adanya Alisa di dekatnya.
Langkah Jimmy berhenti, "Tuan..." langkah Jimmy terhenti Alisa memanggil.
Berhenti tanpa menoleh. "Tuan, saya...boleh, pinjam duit Tuan?" ucap Alisa. Dia ingin mencari pekerjaan saja. Tak enak kalau menumpang saja.
Perlahan Jimmy membalikan tubuhnya. "Untuk apa?" tanyanya datar.
"Saya...ingin bekerja Tuan." Jawab Alisa.
Jimmy menghela nafasnya. "Kau, bisa bekerja di aparteman ini. Bersihkan seluruhnya dan memasak. Nanti aku akan menggaji mu." Seru Jimmy. Seperti itu adalah pekerjaan yang cocok untuk wanita itu. Kalau saja dia bekerja diluaran. Bukannya dirinya itu dikejar oleh orang jahat? Jadi, untuk apa bekerja.
Setelah mengatakan itu, Jimmy langsung keluar dari aparteman. Karena, sudah sangat terlambat sekali untuk dia mengikuti rapat pentingnya.
Alisa tak bisa berkata - kata lagi. Memang benar yang dikatakan oleh Jimmy, tempat ini dia akan aman dari kejaran orang - orang jahat itu. Tak apalah, dia bekerja sebagai pelayan di aparteman ini. Yang terpenting akan menghasilkan uang.
***
Hubungan antara Randy dan Nessa semakin baik saja, keduanya sudah seperti suami istri saja. Urusan ranjang pun mereka sering melakukannya. Hubungan sedekat itu, namun Nessa masih belum ingin menikah. Entah apa yang ditunggu Nessa. Randy sudah sangat mencintai Nessa, perhatian, sayang, kurang apalagi.
Jauh dalam lubuk hati Nessa, ia masih berharap kepada Bagas. Wanita itu sangat merindukan Bagas. Lama sudah ponsel Bagas tak aktif. Kemana pria itu.
Kini, Nessa, Randy dan si cantik Jihan. Mereka bertiga lagi berlibur ke Bali. Kebetulan Randy ada perjalan bisnis di Bali. Sudah dua hari mereka di Bali.
Mereka tinggal di Villa mewah milik keluarga Randy, tepatnya milik sang kakak yaitu Jimmy. Rencananya di Bali sampai seminggu. Yang paling antusias disini adalah si cantik Jihan. Gadis kecil itu senang sekali bisa berlibur bersama Nessa. Sekarang, Jihan memanggil Nessa dengan sebutan Mami. Jihan ingin Nessa menjadi Mami nya.
"Mami..." panggil Jihan pelan.
Nessa menoleh. "Eh...princess udah bangun?" Nessa lagi sibuk memasak cemilan untuk Jihan dan Randy.
"Mami, lagi buat apa?" tanya Jihan.
"Mami buat Donat sayang. Kamu sukakan?" seru Nessa.
__ADS_1
Jihan mengangguk antusias. Jihan akhirnya duduk manis di kursi makan sambil menunggu donat selesai.
Sejam kemudian. Donat pun selesai. Siap untuk dimakan.
"Wah...donatnya sudah siap Mi? Pasti enak." Seru Jihan antusias.
Keduanya menikmati Donatnya. Selagi menikmati Donat. Terdengar suara langkah kaki menuju dapur.
Tap...tap...tap...
"Ehm..." suara deheman terdengar.
Kedua wanita berbeda usia itu menoleh.
"Lagi apa Ni, kesayangan Papi." Sapa Randy yang baru pulang dari kantor.
"Sini Pi, Jihan sama Mami lagi makan donat. Mami yang buat Lo Pi." Seru Jihan.
Randy berjalan mendekat. Sebelum duduk, Randy mencium dahi kedua wanita kesayangannya.
Cup...
Cup...
"Mami, buat Donat?" tanya Randy.
"Iya Pi. Enak Lo Pi." Jawab Jihan.
Randy mencobanya. Sangat enak sekali, wanitanya itu memang pintar masak.
"Enak banget. Kamu, pintar banget buat donat sayang." Seru Randy lembut.
Nessa hanya membalas dengan senyuman. Dia senang, kalau kedua orang yang begitu berarti dihidupnya menyukai masakannya.
__ADS_1