Aku Cinta Dia

Aku Cinta Dia
Bab 5. Terpaksa Melakukan Pekerjaan Itu Lagi.


__ADS_3

Tiga Hari Kemudian....


Nessa mendapat kabar dari temannya yang bernama Nisa. Teman nya itu mengabarkan bahwa ada mangsa, seorang pengusaha kaya raya, beristri dua. Namun sangat tampan.


Pria kaya itu sanggup membayar mahal Nessa kalau bisa memuaskannya di atas ranjang. Pria itu sangat maniak **** sekali. Bahkan Nessa kalau bisa memuaskannya, pria itu akan memperistrikannya, menjadi yang ketiga.


Nessa tak mau, dia belum mau menikah. Masih ada keluarga yang harus ditanggungnya.


Nessa bersiap siap untuk menemui langganannya. Setelah pulang dari rumah sakit, Nessa mempercantik dirinya. Langgananny itu minta segera bertemu, yang janjinya malam nanti, jadi dipercepat sore.


Rudi nama pria itu, setelah melihat foto Nessa, Rudi sudah tidak tahan untuk bertemu dengan Nessa. Dia sudah tak sabar ingin membuat Nessa menjerit nikmat. Sungguh pria yang maniak sek. Melihat foto saja sudah bernafsu.


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, Nessa sudah selesai mempercantik dirinya. Mereka akan bertemu di sebuah hotel bintang lima di Medan. Sebenarnya Nessa tak ingin melakukan pekerjaan ini lagi. Namun dia terpaksa melakukannya. Adiknya membutuhkan biaya sangat banyak.


***


Dua puluh lima menit kemudian.


Nessa telah sampai di depan hotel tempat dia dan langganannya akan berbuat dosa. Dipandanginya gedung hotel itu, benar benar sangat mewah sekali. Sedikit bedebar, Nessa menetralkan detak jantungnya. Setelah netral, Nessa memasuki area hotel.

__ADS_1


Menanyakan kamar nomor 1234 kepada receptionist, setelah mendapatkan nomor itu. Nessa bergegas menuju lantai lima hotel dimana kamar 1234 berada.


Nessa menekan tombol lift dan menunggu lift terbuka, setelah terbuka, Nessa masuk kedalam dan pintu lift tertutup.


Sedangkan lift sebelahnya, telah keluar seorang pria yang gagah dan tampan. Dia adalah Bagas, kebetulan sekali Bagas baru saja selesai meeting dengan klien barunya. Dokter Rafi mempercayakab Cafe dan Restonya kepada Bagas.


Bagas melihat seseorang yang dikenalnya masuk kedalam lift sebelah. "Seperti Nessa. Buat apa dia kesini." gumam Bagas.


Bagas mengangkat bahunya. Dia berpikiran positif saja. Mungkin dia ingin bertemu dengan temannya. Bagas terua berjalan menuju parkiran. Sampai di parkiran Bagas sepertinya melupakan sesuatu.


"Ponselku kemana?" gumam Bagas. Sambil mencari di saku celananya.


Mau tak mau Bagas kembali kedalam hotel dan menuju restoran kembali.


Menaiki lift kembali, tanpa sengaja Bagas melihat Nessa. "Mau kemana anak itu sebenarnya." gumamnya.


Bagas melihat Nessa menuju sebuah kamar, kamar itu kamar VVIP. Kamar mewah. Apakah ada teman Nessa sekaya itu pikirnya.


Jiwa kepo Bagas meronta, dia mengikuti Nessa. Wanita itu mengetuk pintu kamar, pintu terbuka. Betapa terkejutnya Bagas, seorang pria yang hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggang nya. Pria itu langsung menarik Nessa kedalam dan menutup pintu kamar dengan kasar.

__ADS_1


Bagas tertegun menatapnya. Apakah Nessa kembali seperti dulu?


Bagas menatap nanar kamar tersebut. Sungguh aneh sekali, pria itu tak rela Nessa melakukan itu lagi. Bagas sungguh tak rela. Bagas marah.


Bagas mengepalkan kedua tangannya geram. "Nessa..."


Bagas sengaja menunggu diparkiran luar hotel. Dia ingin menunggu Nessa sampai keluar dari hotel.


Sejam....


Dua jam...


Tiga jam...


Sampai angka kelima, barulah Nessa keluar dari hotel itu. Hari sudah sangat gelap, jam sudah menunjukan pukul sembilan malam.


Bagas memperhatikan Nessa, dilihat dari penampilannya Nessa begitu lesu sekali. Bayangkan lima jam Bagas menunggu.


Bagas sangat sedih sekali melihat Nessa seperti itu. Dia sungguh tak tega.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2