Aku Cinta Dia

Aku Cinta Dia
Bab. 12


__ADS_3

Pasangan baru jadian itu dalam perjalanan pulang ke Medan. Liburan sehari yang sangat menyenangkan. Bagas dan Tika mencap tempat indah itu akan dijadikan tempat paling special untuk mereka. Keduanya akan kembali lagi kesana.


***


Nessa masih bingung harus mencari uang sejumlah lima juta, menelpon Bagas sedari tadi tak ada jawaban. Sepuluh kali Nessa menelponnya.


Wanita itu mencoba lagi. Bagas tak jua menjawabnya.


"Apa aku harus menghubungi Mas Hamid?" hanya nama Hamid yang terlintas. Hamid adalah mantan sugar daddy Nessa.


Nessa mencari nama Hamid. Nessa menekan tombol hijau, Panggilan dijawab. Namun, dengan cepat Nessa memutusnya. Yang menjawab adalah seorang wanita. Pasti itu adalah istri dari Hamid.


Nessa sangat frustasi sekali. Mau tak mau Nessa harus menelpon temannya lagi yang bernama Nisa.


"Hallo...Nisa," ucap Nessa.


"Iya Nes, ada apa? Lo butuh uang lagi?" tanya lagi.


"I...iya Nis, aku boleh pinjam uang Lo?" tanya Nessa.


"Lo butuh berapa? Gue ada cuma tiga juta." Ucap Nisa jujur.


Nessa menghela nafasnya. Dia butuh dari itu. "Gue butuh lebih dari itu." Ucapnya pelan.


"Gue gak ada Nes, gue juga baru bayar kontrakan dan Pacar gue minjam duit gue."


"Nis, bantu gue."


"Lo bisa hubungi Tuan Edward. Bukannya kemarin kalian bertemukan? Apa Lo mau gue yang hubungi?" tanya Nisa.

__ADS_1


"Gue, gak mau lagi." bisiknya. "Ya udah Nis, gue cari pinjaman aja."


****


Di dalam mobil menuju Medan, pasangan baru itu sangat bahagia, tangan mereka saling genggam.


"Kamu hari ini gak usah berkaja aja sayang. Nanti kamu capek. Biar kakak nanti izin lagi sama Dokter Rafi." Seru Bagas.


"Hmm...izin aku banyak kak. Nanti Dokter Rafi marah Kak." Ujar Tika.


"Gak sayang, Dokter Rafi gak akan marah. Kamu istirahat dirumah aja ya?" seru Bagas.


"Tapi kak...."


"Pokonya kamu harus istirahat." Ucap Bagas maksa.


Tika mengrucutkan bibirnya. Ternyata kekasihnya ini pemaksa.


Tika mengangguk. "Iya kak."


Beberapa jam kemudian mereka sampai di Medan. Bagas langsung mengantar sang kekasih kerumahnya.


Bagas turun dari mobil dan setelah itu membukakan pintu untuk sang kekasih.


"Terimakasih kak."


Bagas hanya mengantar sampai pintu rumahnya saja. Karena Bagas akan langsung kerumah sakit.


"Istirahat ya sayang. Kakak langsung kerumah sakit ya? Nanti malam kakak main kerumah kamu ya?" ucap Bagas.

__ADS_1


"Iya kak. Hati - hati dijalan kak."


"Iya sayang." Bagas mengecup dahi Tika dengan sayang.


****


Nessa masih bingung harus kemana lagi dia akan mencari pinjaman. Bahkan sudah beberapa rumah teman nya dia datangi. Tak ada hasil yang di dapat.


Lelah rasanya, "Hiks....kemana lagi, aku cari." keluhnya.


Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalan kota Medan Cukup ramai. Selama di Villa bersama sang kekasih. Bagas melupakan ponselnya. Ponselnya dia letakan di dalam dasbord mobil.


Dilihatnya banyak sekali panggilan tak terjawab. Dari Dokter Rafi, ibunya dan yang paling menyita perhatiannya adalah panggilan dari Nessa, ada 20 panggilan.


Hanya panggilan dari Nessa yang Bagas respon. Dia menekan tombol panggilan untuk menelpon Nessa kembali.


Tut....tut...tut...


Sekian detik, terjawab.


"Hallo....Bagas...hiks..." isakan Nessa terdengar.


"Nessa. Hei, kamu kenapa?" seru Bagas khawatir.


"Bagas...tolong aku..."


"Kamu dimana?"


Bagas langsung menuju tempat Nessa. Kenapa lagi wanita itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2