
Siang ini, Nessa akan bertemu dengan kedua orang tua Randy. Bulan depan nanti, mereka berdua akan melangsungkan pernikahan.
Nessa sangat gugup, apakah kedua orang tua Randy akan menyukainya.
"Sayang?" panggil Randy lirih. Randy dapat melihat sang kekasih sangat gugup.
"Mas....aku gugup." bisik Nessa.
"Tenang sayang...Mommy dan Daddy pasti menyukai kamu."
Nessa benar - benar gugup sekali. Dia tak tahu harus bagaimana. Pikiran negative selalu terlintas. Apakah mama dan papa sang kekasih menyukainya.
***
Jimmy, diminta untuk pulang kerumah. Mommy nya ingin dia hadir, karena sang adik akan memperkenalkan calon istrinya kepada mereka. Mommy Jane, sangat senang sekali, dia akan mempunyai menantu.
"Mommy, harap kamu pulang ya Nak. Kita akan lihat, bagaimana calon adik kamu. Kata Randy, sangat cantik. Mama sangat penasaran sayang." seru Mommy Jane. Wanita itu sangat antusias.
Jimmy menghela nafasnya. Apa dia harus menuruti apa kata sang Mommy. Tapi, kalau dia hadir disana, akan membuatnya sakit hati.
"Jimmy akan usahakan Mom." hanya itu jawaban sang anak. Setelah itu, panggilan telpon itu terputus.
__ADS_1
Jimmy, memejamkan matanya. Menyandarkan tubuhny di kursi kerjanya.
'Nessa' kenapa harus Nessa, dia sangat mencintai Nessa.
"Aarrgghhh......" Jimmy menjerit kuat didalam ruangan kerjannya.
Diluar, Alisa sangat kaget, mendengar suara teriakan dari dalam ruang kerja Jimmy.
"Tuan Jimmy, kenapa ya?" gumamnya. Jiwa kepo Alisa meronta. Dia ingin mengetahui kenapa. Perlahan dia mendekati ruangan kerja Jimmy.
Tok...tok...tok...
"Tuan...anda baik - baik saja kan?" Alisa mengetuk pintu ruanga kerja Jimmy.
"Tuan Jimmy!" panggil Alisa lagi. Namun tak kunjung ada jawaban. Alisa menghela nafasnya. Biarlah sang Tuan didalam. Dia harap baik - baik saja.
Alisa kembali kedapur, dia mencoba memasak saja. Memasak untuk makan malam nanti.
***
Sementara itu di tempat lain.
__ADS_1
Dirumah Bagas dan Tika. Keduanya masih perang dingin. Tika masih marah dan kecewa dengan Sang suami. Hatinya masih sakit.
Bagas semakin frustasi saja dibuatnya. Bagas benar - benar tak mengenal wanita yang mengantarnya kemarin.
Sudah seminggu, Tika mendiaminya. Bagas terus meminta maaf kepada Tika. Dia tak mau kehilangan Tika. Dan, apalagi didalam perut Tika ada buah cinta mereka berdua.
Bagas harus bergerak, dia harus meluluhkan hati sang istri. Meminta maaf kepada sang istri.
Ceklek....
Pintu kamar dibuka oleh Bagas, pria itu memberanikan dirinya untuk masuk kedalam kamar yang ditempati sang istri sekarang. Tika, istri tercintanya sekarang ini tidur dikamar tamu.
Bagas merasakan sesak mendalam. Sudah berhari - hari dia didiami oleh sang istri. Bagas sadar, ini adalah kesalahannya. Seharusnya dia menolak ajakan teman - temannya ke club.
Perlahan Bagas berjalan mendekati ranjang sang istri. Bagas duduk di pinggir ranjang. Menatap nanar kearah sang istri yang sedang tertidur. Dipandanginya wajah cantik istrinya itu.
Bagas mengulurkan tangannya kewajah sang istri. Di elusnya pipi mulus Tika.
"Yank...sampai kapan kamu menghukum mas seperti ini. Mas, rindu kamu." bisik Bagas lirih. Pandangan Bagas pindah ke perut sang istri. Didalam sana ada calon anak mereka.
Bagas mengelus perlahan perut Tika.
__ADS_1
"Nak, maafin papa. Mama kamu ngambek sama papa. Bilang sama mama, udahan ngambeknya. Papa sayang sama kalian." Bagas sangat frustasi sekali. Dia tak ingin berlarut - larut seperti ini.