Aku Cinta Dia

Aku Cinta Dia
Bab. 89


__ADS_3

Tika membopong sang suami kedalam kamar, berjalan menuju kamar, Tika terus bertanya - tanya dalam hatinya. Sepertinya ada sesuatu antara wanita tadi dengan sang suami.


Sampai didalam kamar, Tika membaringkan tubuh Bagas diatas tempat tidur. Tubuh sang suami bercampur parfum wanita dan alkohol. Dan...


Deg....


Mata Tika memanas, cairan bening memupuk di ujung matanya. Ada tanda merah di leher sang suami. Nyeri hati nya melihatnya.


Tak terasa air matanya menetes. Dia tahu, itu tanda apa. Tanda Kissmark, apa mungkin wanita itu? Ya Tuhan...ada apa ini.


Tika mengganti pakaian Bagas, dengan lelehan air matanya. Sudah selesai, Tika meninggalkan Bagas didalam kamar. Sementara itu, Tika tidur didalam kamar tamu saja. Dadanya terasa sesak, dia ingin menenangkan hatinya.


Mentari pagi menyapa, sinar matahari memasuki ke sela - sela jendela kamar. Bagas mengerjapkan matanya, kepalanya sedikit pusing. Perlahan dia membuka matanya, tangan sebelah kanannya meraba - raba disebelahnya. Bagas mengernyitkan dahinya. Kenapa masih rapi. Apakah dia tidur sendirian, dan kemana istrinya.


Bagas bangun dari tidurnya, mencari keberadaan sang istri. Suasana kamar serasa sepi, tak seperti biasanya. Biasanya sang istri membangunkannya.


Kepala Bagas sedikit pusing, dengan perlahan Bagas berjalan menuju pintu kamar dia ingin mencari keberadaan sang istri.


Namun, sebelumnya. Bagas mencuci mukanya terlebih dahulu, Bagas mencuci bersih mukannya. Namun, dia sedikit terkejut melihat ada tanda merah di lehernya, ada beberapa tanda.

__ADS_1


Bagas teringat akan kejadian semalam. Deg...Ya Tuhan. Bagas memucat. Apakah sang istri sudah melihatnya.


"Shitt..." umpat Bagas. Dia yakin, pasti istrinya telah melihatnya. Dengan gerak cepat Bagas menyelesaikan bersih - bersihnya. Bagas langsung bergegas keluar dari kamar mencari sang istri.


Tempat pertama yang ditujunya adalah ruangan dapur. Namun, nihil. Sang istri tak nampak. Bagas mencari diberbagai sudut ruangan.


Bagas tak menemukannya. Bagas berdebar kencang, apakah istrinya marah. "Kemana kamu sayang?" gumam Bagas. Dirinya frustasi.


Bagas mendudukan dirinya di sofa ruang tamu. Rasanya dia ingin marah atas kebodohannya. "Bodoh...bodoh kamu Bagas! "teriak Bagas kepada dirinya.


Ceklek...


Bagas mendengar suara pintu terbuka, Bagas menoleh, sang istri ternyata ada di kamar tamu.


"Sayang..." Bagas memeluk erat sang istri.


"Mas pikir, kamu entah kemana. Mas cariin kamu." seru Bagas.


"Lepas Mas!" seru Tika dingin dan datar.

__ADS_1


Deg...


Tika melepas pelukan sang suami dan diliriknya tanda merah itu. Tika menetralkan perasaannya.


"Bersihkanlah tubuh kamu Mas." seru Tika, matanya menuju ke tanda merah itu.


Bagas melihat arah mata sang istri. Bagas menelan salivanya kasar. Raut wajah kecewa tampak terlihat di wajah sang istri.


"Sayang...mas bisa jelaskan." seru Bagas.


"Pergilah Mas. Bersihkan tubuh kamu." Tika mendorong dada Bagas dan berlalu dari tempat itu meninggalkan Bagas sendiri.


Bagas menuruti perkataan sang istri. Dia akan mandi dan menghapus tanda itu.


Sementara itu. Tika menyiapkan sarapan untuk suaminya. Walaupun hatinya kecewa kepada sang suami. Tika, tetap menyiapkan keperluan sang suami.


Membuat sarapan kesukaan sang suami seperti bisanya.


Bagas telah selesai. Tanda merah dilehernya tak bisa dihilangkan. Karena terlalu kuat menggosoknya. Tanda itu menjadi semakin merah dan sedikit berdarah. Menimbulkan rasa nyeri. Bagas menahannya.

__ADS_1


"Sshhss..." Bagas meringis kesakitan. Demi sang istri agar tak marah, Bagas rela menahan kesakitan.


"Selamat pagi sayang..." sapa Bagas.


__ADS_2