
*Hoek...
Hoek...
Hoek*...
Entah yang keberapa kali Tika muntah - muntah, sampai tak ada yang keluar lagi. Bolak - balik kekamar mandi.
"Ya Tuhan...aku ini kenapa?" gumam Tika lirih.
Mendengar suara orang muntah, Bagas bergerak, tangannya bergerak perlahan. Bagas mengenali suara itu. Itu suara istrinya.
Bagas memaksakan dirinya untuk bangun daj membuka mata, dia harus sadar dan kembali kepelukan sang istri. Bagas ingin meminta maaf kepada sang istri.
"Tika...Sayang..." panggil Bagas pelan.
Didalam kamar mandi, Tika mendengar suara memanggilnya. Tika membersihkan mulutnya dari muntahannya. Dia segera keluar dari kamar mandi, dia mendengar suara suaminya.
Tika membelalakan matanya, suaminya menggerakan tangannya. Tika berjalan cepat menuju ranjang sang suami.
"Mas...mas, kamu sudah sadar, hiks...mas." Tika sangat bahagia akhirnya suaminya sadar juga. Tika menangis haru.
"Sa...sayang..." gumam Bagas lirih.
"Mas," Tangis Tika pecah, tangis bahagia. Tika menggenggam tangan Bagas dan mengecupnya.
"Sa...sayang...."
Tika memencet tombol untuk memanggil perawat jaga. Para perawat langsung berdatangan dan Dokter juga masuk keruangan Bagas.
"Syukur alhamdulilah...Tuan Bagas melewati masa kritisnya." Ucap Dokter.
__ADS_1
"Alhamdulilah..." Tika mengucap syukur.
Bagas membuka matanya, dan menyunggingkan senyumnya kearah Tika, wanita yang sangat dirindukannya.
"Mas, jangan seperti ini lagi. Jangan tidur lama lagi...hiks...hiks..." isak Tika. Dia gak mau terjadi sesuatu lagi dengan suaminya.
"Jangan...nangis sayang." Seru Bagas lemah.
Tika memeluk Bagas dengan erat. Dia sungguh sangat merindukan sang suami.
***
Mentari pagi menyapa, cahaya matahari telah menyinari dunia.
Didalam sebuah kamar, ada sepasang pasangan. Keduanya berpelukan mesra di tidur mereka. Keduanya sangat menikmati pelukannya. Sangat begitu nyaman sekali.
Jimmy dan Alisa tidur disatu ranjang, kedua saling berpelukan, yang mana Alisa menyandarkan kepalanya di dada bidang Jimmy yang polos. Sungguh sangat menenangkan.
Semalam, karena pengaruh alkohol yang diminum Jimmy. Membuat tubuhnya panas, dan akhirnya Jimmy membuka kemeja bajunya. Dengan bertelanjang dada tidurnya akan nyenyak.
Alisa mengerjapkan matanya, rasanya hangat banget. Harum maskulin tercium. Alisa menyukainya. Wanita itu belum sadar akan itu.
Alisa semakin mengeratkan pelukannya. Wajah cantiknya berada di ceruk leher Jimmy.
Jimmy juga tak mau kalah, pria itu juga membalas pelukan yang diberikan oleh Alisa. Keduanya sama sama merasa nyaman.
Sedetik...
Dua detik...
Semenit...
__ADS_1
Dua menit...
Dan....
"Arrgghh...." Alisa menjerit kuat. Wanita itu baru tersadar, bahwasannya yang dipeluknya itu adalah seorang lelaki.
Jimmy sontak kaget, memekakan telinga saja jeritannya.
Alisa bangun dari tidurnya dan terduduk. Begitupun dengan Jimmy, pria itu sontak terduduk.
"Tu...tuan, anda ngapain disini?" tanya Alisa terbata. Kenapa bisa pria ini berada dikamar yang sama dengannya.
"Ck. Ini kamar saya!" Jimmy berdecak kesal. Ini kamar nya, terserah dia mau apa.
Alisa mengedarkan pandangannya di ruangan kamar itu. Alisa menepuk jidatnya, apa dia salah masuk kamar.
Jimmy membaringkan tubuhnya lagi, rasanya masih mengantuk sekali, kepalanya masih sangat pusing akibat minuman kemarin.
Alisa melirik kearah Jimmy, dia pikir, pria ini tak akan ke aparteman ini. Tapi, ternyata salah. Karena kesalahannya masuk kekamar pemiliknya. Alisa turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu, wanita itu segera keluar dari kamar itu.
***
Kembali kerumah Sakit di Bali.
Kondisi Bagas sudah stabil, Bagas kini sudah berada diruang rawat VIP. Ditemani oleh sang istri.
Namun Bagas masih belum bisa turun dari ranjangnya, kaki sebelah kanannya masih terasa sakit dan susah digerakan, tapi dengan terapi beberapa kali, kaki Bagas akan seperti biasa lagi.
Tika sang istri sudah berapa kali bolak balik ke kamar mandi, perutnya terasa mual.
Hoek...hoek...
__ADS_1
Sangat menyiksa...setelah ia membersihkan mulutnya, Tika baru teringat akan suatu hal.
Deg...