
Jam Dinding sudah menunjukan pukul tiga pagi.
Sama seperti Tika, Bagas juga tak bisa tidur, pria itu duduk di ruang tv di villa. Mencoba mencari sinyal disana, dia ingin mengabari kekasih nya. Tapi, sinyal sialan tak juga ada. Bagas sangat geram, ingin rasanya dia mencampakan ponselnya itu.
Bagas duduk di sofa besar, disandarkannya tubuhnya di sofa itu, memejamkan mata sejenak, mencoba untuk tidur.
Di Kamar Di Villa.
Nessa sudah membersihkan tubuhnya sedari tadi, kerongkongannya sangat sakit sekali dan kering, dia butuh air untuk diminum. Nessa turun dari ranjang, dia ingin mengambi air minum di dapur Villa.
Ceklek...
Pintu kamar dibuka Nessa, sangat sepi sekali, Nessa mencari dimana dapurnya. Jalan degan perlahan menuju dapur, langkah Nessa terhenti, dia melihat jelas ada sosok pria bersandar di sofa, pria itu adalah Bagas.
Nessa mengurungkan niatnya untuk megambil air minum, dia menghampiri Bagas saja dulu.
Kini Nessa sudah berada di hadapan Bagas, dipandanginya sejenak wajah Pria itu. Sangat tampan sekali.
Nessa duduk di samping Bagas, dia mencoba mengelus pipi Bagas, dengan penuh kelembutan, Nessa mengelusnya.
"Terimakasih Bagas, kau sudah mau menolongku" gumamnya.
Entah apa yang telah merasukinya, Nessa ingin sekali megecup bibir Bagas. Dengan penuh keberanian, Nessa mendekatkan wajahnya ke wajah Bagas,
__ADS_1
Cup...
Satu kecupan mendarat di bibir pria itu. Tak cukup hanya satu kecupan saja.
*Cup...
Cup...
Cup*....
Di kecupan ketiga, Nessa masih belum puas, wanita itu mencoba ******* sedikit bibir itu. Sungguh sangat manis, sementara itu Bagas masih belum meresponnya.
Semenit kemudian, Bagas tanpa sadar membalas ******* itu, keduanya berciuman bibir. Bagas merasakan yang menciumnya adalah Tika, pria itu ternyata bermimpi bertemu dengan sang kekasih.
Bagas masih memejamkan matanya, tiba - tiba Bagas bergumam..."Sayang..." bergumam sambil memejamkan mata.
Deg...
Nessa membelalakan matanya, apa dia tak salah mendengar, Bagas mengucap kata sayang. Apa itu, untuknya atau hanya....
"Sayang..." Bagas masih bergumam.
Bagas membuka matanya sejenak, senyum di wajah tampannya terbit, "Sayang..." Bagas menangkup wajah Nessa dengan satu tangannya. Bagas melihat Nessa sebagai Tika, pria itu mengigau dan bermimpi, dia berciuman dengan sang kekasih.
__ADS_1
"Aku merinduakn mu, sayang..." ucap Bagas lembut. Bagas mencium Nessa kembali, ciuman yang sangat lembut sekali.
Hampir setengah jam keduanya saling *******, lagi - lagi Nessa melepasnya. Mengatur nafasnya sejenak. Kini, posisi Nessa berada diatas Bagas, keduanya berbaring diatas sofa besar itu.
Nessa sangat bahagia, Bagas mengatakan sangat merindukannya dan menciuman lagi. Walupun sebenarnya kata itu untuk Tika. Nessa beranggapan untuknya.
Nessa memeluk erat tubuh Bagas, keduanya tidur bersama di sofa itu sambil berpelukan.
****
Sinar mentari pagi menyapa kota itu...
Kedua insan yang saling berpelukan di atas sofa itu masih terlelap. Padahal matahari sudah bersinar cerah, walaupun begitu udara ditempat itu sangat lah dingin, kota yang dekat dengan kaki gunung.
Bagas dan Nessa masih saling peluk di tidur mereka. Jam dinding sudah menunjukan pukul sepuluh.
Bagas merasa keberatan di dadanya, dia membuka matanya. "Nessa..."
Deg ....
Bagas melototkan matanya, kenapa ada Nessa diatasnya. Dengan perlahan dia ingin bangkit. Dengan perlahan, Bagas menggeser Nessa kesamping sofa.
Kesadaran Bagas masih belum kembali sepenuhnya. Kepalanya sangat pusing sekali, tapi seketika wajah tampannya tersenyum...mimpinya sangat indah, dia berciuman dengan sang kekasih hatinya.
__ADS_1
Bersambung...