Aku Cinta Dia

Aku Cinta Dia
Bab 7. Aku Terpaksa


__ADS_3

Nessa masih tak bisa menjawab pertanyaan Bagas. Dia menelan salivanya kasar. Bingung harus mengatakan apa. Haruskah dia jujur kepada Bagas.


Keduanya masih berdiri di pintu. "Katakan Nessa." Seru Bagas datar dan dingin.


Masih diam terpaku ditempatnya, Nessa menundukan kepalanya, wanita itu sungguh sangat malu.


Jantungnya berdebar kencang sekali. Wanita itu ******* ***** ujung bajunya. Rasanya dia ingin menangis saja.


Bagas melihat Nessa begitu takut dan gugup. Perlahan Bagas melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kontrakan. Dan pria itu menutup pintunya.


Berdiri dihadapan Nessa yang tertunduk. Bagas menarik dagu Nessa agar wanita itu menatap Bagas. Matanya sudah mengalir air. Wanita itu menangis.


"Bagas...hiks...aku...aku, terpaksa melakukannya." Ucap Nessa terisak.


Dengan reflek Bagas memeluk Nessa dengan erat. Dipelukan Bagas wanita malang itu menangis terisak. Sungguh sangat memilukan.


Bagas mengelus lembut kepala Nessa. "Aku, terpaksa Bagas...hikss...hiks...aku terpaksa." Ucapnya berulang.


"Kenapa kau melakukannya, ceritalah kepadaku Nessa." Bisik Bagas lirih.


Bagas merenggangkan pelukannya dan memegang kedua bahu Nessa. "Ceritalah kepadaku." Pinta Bagas lagi.


Masih dengan isakannya, Nessa mengangguk. Nessa harus menceritakan keluh kesah nya. Dia butuh teman curhat. Mungkin Bagas adalah orang yang tepat.

__ADS_1


Keduanya telah duduk di sofa, saling berhadapan. Nessa menarik nafasnya dan menghembuskannya. Dan dia pun menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup tutupin lagi. Dia sangat membutuhkan uang untuk pengobatan sang adik dan biaya sehari hari kelurganya. Gaji dari menjadi perawat tak lah cukup.


Sungguh sangat memilukan kisah Nessa. Bagas merasa sangan iba melihat wanita itu. Dulu dia sangat membenci wanita itu. Tapi, sekarang Bagas sungguh sangat tak rela Nessa melakukan pekerjaan kotor itu lagi.


Waktu semakin larut menjelang pagi, tak terasa jam menunjukan pukul dua pagi. Cukup lama Bagas berada di kontrakan Nessa.


"Kau, istirahatlah. Jangan lakukan itu lagi. Kalau kau butuh bantuan, hubungilah aku. Aku pasti akan membantu mu." Ucap Bagas tulus.


"Kuncilah rumahmu, aku akan pulang." Seru Bagas. Pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Berpamitan kepada Nessa.


Bagas telah pergi, Nessa pun sungguh sangat lega setelah menceritakan semuanya kepada Bagas. Dia pun mengunci pintu dan masuk ke kamar untuk beristirahat.


****


Hari ini weekend, Wanita cantik dan sederhana bernama Tika lagi berdandan cantik. Tika ingin kencan buta, dengan kenalannya di medsos.


Sudah cantik. Tika menyambar tas tangannya dan bergegas pergi karena taxi online nya sudah tiba menjemputnya.


Janji temu di cafe. Cafe dan Resto baru. Tempatnya sangat bagus dan cukup mewah.


Tika memasuki cafe dan Resto tersebut. Memilih tempat duduk dia pojokan.


Tika hanya memesan minuman saja. Sambil menunggu Tika memainkan ponselnya. Karena keasyikan bermain ponsel, Tika tak menyadari kehadiran seorang pria yang sudah duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Ehmm..." suara deheman membuat Tika mendongakan kepalanya dan menatap siapa yang berdehem.


"Hai..." sapa orang itu.


"Kak...Kak Bagas. Serunya.


"Kak Bagas disini? Mau makan ya?" tanya Tika gugup.


"Tidak, aku bekerja disini. Cafe dan Resto ini milik Dokter Rafi." Ucap Bagas.


"Oh..." jawaban Tika hanya beroh saja.


"Kau...disini?"


"Aku, ada janji dengan seseorang." Jawabnya singkat.


"Siapa?" tanya Bagas penasaran.


"Permisi...kamu Tika kan?" sapa seseorang yang datang menghampiri mereka berdua.


Tika tersenyum dan mengangguk. "Iya...aku Tika. Kamu, Doni kan?" tanya balik.


Pria yang bernama Doni itu duduk di kursi kosong di samping Tika, posisi mereka sangat dekat.

__ADS_1


Keduanya asyik mengobrol, tanpa memperdulikan keberadaan Bagas yang menatap kesal. Bagas dicuekin. Pria itu cemburu melihat wanita pujaannya bercanda tawa dengan seorang pria, yang lumayan tampan. Bisa terancam posisinya sekarang.


Bersambung....


__ADS_2