Aku Cinta Dia

Aku Cinta Dia
Bab. 50


__ADS_3

Nessa diam terpaku, menatap mobil Randy yang sudah jalan menjauh. Kenapa harus bertemu denga nya lagi. Sungguh Nessa tak sanggup, Randy pria yang baik dan penyayang. Randy ingin menikahi Nessa, berjanji memberikan kebahagian untuknya. Nessa menolak, menurutnya Randy terlalu baik. Orang baik jodohnya orang baik juga.


Nessa menghela nafasnya, sebaiknya dia kembali kerumah saja. Hari sudah siang, matahari pun mulai menampakan sinarnya. Dirumah nanti, Nessa akan mandi dengan air dingin.


Sementara Di dalam Mobil...


Randy mengeratkan genggamannya di setir mobilnya, dia sungguh tak suka bertemu dengan Nessa, wanita yang menolaknya, padahal dulu Randy tulus mencintainya.


Randy melirik kesamping, dia melihat sang anak menekuk wajahnya. Bibirnya di majukannya, gadis cilik itu sedang merajuk, karena tak dibolehkan ikut dengan Nessa.


"Kok, mukanya ditekuk gitu? Nanti cantiknya hilang lo." Rayu Randy kepada sang anak.


"Papi jahat! Aku mau sama Tante Nessa!" Seru Jihan masih kesal kepada sang papa.


Randy menarik nafasnya, kalau seperti ini akan susah sekali membujuk anak gadisnya ini. Jihan, gadis kecilnya kalau sudah menginginkan sesuatu harus ada.


Mungkin Randy akan mengalah kepada sang anak.


"Sayang...kan masih ada hari esok, besok papi akan bawa kamu ketemu sama tante Nessa." Seru Randy berjanji.


Jihan berpikir sejenak, sebenarnya dia ingin sekarang juga. Akhirnya Jihan menurut.

__ADS_1


"Papi janji?" seru Jihan.


Randy mengangguk antusias. Tak apalah besok dia akan bertemu dengan wanita masa lalunya.


***


Pengantin baru sudah berkumpul kembali dengan keluarga mereka, keduanya akan berpamitan untuk pindah kerumah baru mereka.


Papa dan mama Bagas setuju, kalau anak dan mantunya mau mandiri. Sama halnya mama nya Tika, setuju saja, namun sang mama bersedih, karena rumah akan sunyi.


Seluruh keluarga mendoakan pengantin baru itu agar selalu bahagia.


Deg....


Bagas menelan salivanya. Itu Nessa, apa dia harus menjawab telponya.


Akhirnya, Bagas menjawabnya, pria itu menjawab telponnya di taman belakang rumah. Agar tak ada yang mendengar.


"Hallo..." seru Bagas.


"Bagas...ya ampun, susah banget ya nelpon kamu." seru Nessa.

__ADS_1


"Ada apa Nes?," tanya Bagas to the point.


"A...aku, hanya ingin, mengundang kamu untuk makan malam dirumah." Ajak Nessa.


"Untuk minggu ini, aku gak bisa Nes, maaf." Ucap Bagas.


"Ya...kapan, kamu bisa aja Gas, aku juga gak maksa kok." Ucap Nessa.


"Baiklah Nes, aku tutup ya. Aku lagi sibuk." Ucap Bagas.


Belum Nessa menjawab 'iya' panggilan nya sudah di putus oleh Bagas.


Nessa hanya menatap nanar ponselnya, dadanya terasa sakit sekali, jelas sekali, semenjak kejadian di kamar hotel itu, Bagas sedikit menjauhinya.


Nessa meletakan ponselnya di atas nakas kamarnya. Tubuhnya sudah fresh kembali, sepulang dari jogging tadi, Nessa langsung mandi.


Ingat jogging tadi, Nessa teringat akan Randy. Tatapan pria itu begitu dingin kepadanya, sebenarnya Nessa sangat merasa bersalah kepada Randy, lumayan banyak uang yang diberikan Randy untuk Nessa, pria itu mengatakan untuk membantu keluarga. Awalnya Nessa sangat senang, dan bisa dimanfaatin.


Nessa memberi harapan kepada Randy, agar keuangannya terus mengalir, pria itu juga meminta Nessa berhenti dari pekerjaan malamnya, berhenti menjajakan tubuhnya, karena Randy sanggup memberikan Nessa apa pun.


Tapi, sayang sekali, ketika itu Nessa kalah dengan nafsunya. Nessa berkencan dengan seorang pria kaya dan Randy mengetahuinya. Ketika itu Randy sangat marah sekali.

__ADS_1


__ADS_2