Aku Cinta Dia

Aku Cinta Dia
Bab. 66


__ADS_3

Setelah menerima telpon itu, Tika banyak melamun. Seketika rasa percaya terhadap suami berkurang. Rencana untuk pergi ke Bali menjadi tak semangat. Mendengar kata 'Gas, aku merindukan kamu. Kemana aja kamu', kata itu yang selalu terngiang.


Bagas yang baru saja masuk kedalam kamar, mendapati sang istri lagi berdiri di depan jendela melihat luar. Istrinya sedang melamun. Bagas tahu apa yang dilamuni sang istri.


Bagas menghela nafasnya, Bagas menghampiri sang istri. Mendaratkan tangannya ke pinggang sang istri, memeluknya erat.


"Kamu masih marah sayang?" bisik Bagas lirih.


Tika hanya diam, rasanya malas untuk membalas ucapan suaminya.


"Yank...mas gak ada hubungan apa pun dengan Nessa. Mas hanya membantunya saja." Ucap Bagas menjelaskannya lagi.


Pelukan nya semakin erat. Hening...Tika masih membisu.


"Pakaian kamu sudah selesai disusun mas?" tanya datar.


"Uda Yank, punya kamu udah juga kan?" tanya Bagas balik.


"A..aku, gak jadi ikut mas. Aku disini saja menunggu kamu." Seru Tika.


Deg....


Bagas melepas pelukannya, dan membalikan tubuh sang istri menghadapnya.


"Maksud kamu apa sayang? Kamu gak jadi ikut?" tanya Bagas.


"Iya mas. Kamu aja." Jawabnya datar, tanpa menatap wajah sang suami.

__ADS_1


Bagas sangat kecewa. Tapi, ini juga salah dirinya, seharusnya dari awal dia jujur kepada istrinya.


Bagas menghela nafasnya. Pria itu duduk di sofa dalam kamar mereka. Kenapa jadi seperti ini?


Suasana kamar jadi hening. Hari sudah mulai sore, jam dinding sudah menunjukan pukul tiga sore. Satu jam lagi, jadwal terbang akan tiba.


Bagas menatap jam di dinding. Jadwal ke Bali tak bisa dirubah. Mau tak mau Bagas harus pergi sendiri.


Sudah setengah empat, Bagas masih berada dirumah. Ia sengaja mengulur waktu, agar sang istri berubah pikiran.


Tak ada respon juga. Bagas sepertinya harus bersabar dan mengalah. Sudah waktunya, dia harus pergi. Diambilnya kopernya dan menyeretnya keluar dari kamar.


Bagas menuruni tangga, pria itu melihat sang istri duduk di sofa ruang tamu dengan wajah datarnya.


"Yank...mas pergi, jaga diri dirumah. Nanti, setelah mas sampai di Bali, mas kabari." Ucap Bagas panjang.


Mobil jemputan Bagas telah datang. Pria itu bergegas jalan keluar. Bagas menoleh kebelakang, ternyata sang istri tak mengantarnya sampai depan.


Bagas menghela nafasnya kasar, akhirnya Bagas melanjutkan jalannya. Kini pria itu sudah berada di dalam mobil jemputannya.


***


Nessa, masih memegang ponselnya, mencoba menelpon Bagas lagi. Namun, nomornya telah di blokir oleh Bagas.


Nessa bertanya - tanya, kenapa jadi begini. Kenapa Bagas menjauh.


Ponsel Nessa berdering, dengan gerak cepat Nessa menjawabnya, dia berharap kalau itu dari Bagas.

__ADS_1


"Hallo tante Nessa." pekik Jihan di sebrang sana.


Huh. "Iya...halo princes." Sahut Nessa.


"Tante, boleh gak, malam ini aku bobok dirumah tante lagi?" ucap Nessa.


Nessa menghela nafasnya. "Boleh sayang." Jawabnya.


"Terimakasih tante " seru Jihan antusias.


Sambungan telpon pun putus. Jihan begitu senang, gadis kecil itu bisa tidur dirumah tante cantiknya.


Dan, ternyata. Jihan yang ingin tidur dirumah Nessa lagi, atas dorongan sang papi. Randy juga ingin menginap dirumah Nessa lagi. Randy sudah merindukan wanita itu. Padahal, baru kemarin mereka bertemu.


Randy tersenyum bahagia. Bisa bertemu dengan sang pujaan hati lagi.


***


Di Kota Medan.


Di apartemen mewah milik Jimmy, pria itu lagi menikmati kesendiriannya, pria itu hanya ditemani oleh botol minuman. Sudah banyak botol minuman yang kosong.


Pria itu sudah mabuk berat. Hanya minuman yang bisa menemaninya. Pria itu ingin melupakan Nessa. Merelakan Nessa bersama sang adik.


Jimmy menangis tersedu, seorang cassanova menangisi seorang wanita. Seharusnya wanita yang menangisinya.


"Nessa, aku mencintai mu." racau Jimmy.

__ADS_1


Terlalu berat mabuk Jimmy, dia sangat lelah, akhirnya memejamkan matanya dan terlelap.


__ADS_2