Aku Cinta Dia

Aku Cinta Dia
Bab. 90


__ADS_3

"Selamat pagi sayang..." sapa Bagas.


"Duduklah mas, sarapannya sudah siap." seru Tika acuh.


Bagas menghela nafasnya. Dia masih melihat sang istri masih jutek kepada dirinya.


Hening...


Hening...


Keduanya makan dengan hikmat. Tak ada suara, hanya suara sendok yang terdengar. Beberapa menit kemudian. Keduanya telah menyelesaikan makan mereka.


Tika, membersihkan meja makan. Tanpa ada suara yang keluar dari mulutnya.


Bagas bingung, harus bagaimana. Perlahan dia mendekati sang istri, ia bermaksud untuk menjelaskan semuanya.


"Sayang...Mas...." ucapan Bagas dipotong.


"Aku, lagi sibuk Mas. Nanti saja." ucap Tika datar.


Bagas menghela nafasnya. Bagas tak ingin berlarut. Ditariknya lengan sang istri dan membawa sang istri keruang keluarga.


"Mas lepas?!" bentak Tika.


Bagas melepasnya. "Dengarkan aku dulu sayang. Mas, bisa jelaskan semuanya. Ini, tak seperti yang kamu pikirkan." jelas Bagas.


Dada Tika serasa sesak. Mengingat tadi malam, suaminya diantar pulang oleh seorang perempua dalam keadaan mabuk. Dan, lebih menyakitkan lagi. Di tubuh sang suami, ada bekas kismark.


"Aku, mau pulang saja ke Jakarta." ucap Tika pada akhirnya.

__ADS_1


Bagas semakin frustasi. Mana bisa seperti itu. Bagas berani bersumpah, dia tidak megenal wanita yang mengantarnya. Benar, Bagas berciuman dengan gadis itu. Tapi, dalam penglihatannya itu adalah istri tercintanya.


"Sayang, tadi malam mas, memang ke Klub, rekan kerja mengajak kesana. Mereka memaksa mas minum. Maaf sayang. Mas, sampai mabuk. Tapi, mas berani bersumpah. Mas gak kenal perempuan itu." jelas Bagas.


"Terus, kenapa ada tanda itu Mas?!" bentak Tika lagi. Hatinya sungguh sakit.


Bagas menelan salivanya. Seingatnya, dia hanya berciuman saja. Itu disebabkan karena Bagas melihat wajah Tika ke wanita itu.


"Mas..."


"Cukup mas...aku, gak mau dengar apa apa lagi." teriak Tika. Tika berlari masuk kedalam kamar.


Bagas menarik rambutnya kasar. Bagas tak mau seperti ini.


***


Di Tempat lain.


"Selamat pagi...Tuan Jimmy." sapa Alisa ramah.


"Hmm..." jawab Jimmy tanpa melihat Alisa.


"Ini, untuk Anda Tuan." Alisa memberikan paper bag.


"Taruk saja disitu." Jimmy menunjuk diatas meja.


Alisa meletakannya sesuai keinginan Jimmy. Jimmy telah selesai sarapan pagi dan pria tampan itu, berniat untuk segera pergi kekantor. Dan, tak lupa dia mengambil paper bag itu. Dan, Jimmy pun membawanya.


"Pria arogan..." gumam Alisa dalam hatinya.

__ADS_1


Alisa menaikan bahunya. Biarkan saja Tuannya seperti itu. Yang penting, sang Tuan mau menerima pemberiannya.


Didalam mobil, Jimmy membuka paper bag yang diberikan oleh Alisa. Sudut bibir Jimmy berkedut. Pria itu tersenyum tipis. Alisa memberikannya, sebuah tali pinggang.


Jimmy menyimpan kembali benda itu. Dan menyimpannya. Mungkin, nanti dia akan memakainya.


***


Ditempat lain juga...


Pasangan Nessa dan Randy, keduanya sibuk untuk mengurus pernikahan mereka. Siang ini, Randy akan membawa Nessa untuk bertemu dengan kedua orang tua Randy.


Nessa berpenampilan sederhana dan sopan. Dia harus terkesan baik.


"Mas...gimana, penampilan aku. Cantikan?" tanya Nessa antusias.


"Banget sayang. " jawab Randy.


Nessa tersenyum manis. "Ya sudah. Ayo mas...nanti kita kesiangan." seru Nessa.


"Baiklah sayangku...kita, pergi sekarang." ajak Nessa.


Keduanya pun pergi menuju rumah kedua orang tua Randy.


Di perjalanan menuju kantornya. Jimmy mendapatkan telpon dari mommy nya.


"Halo mom..." seru Jimmy.


"Halo sayang...bisakah, nanti siang kamu kerumah?" tanya sang mommy.

__ADS_1


"Kenapa mom?" tanya Jimmy penasaran.


__ADS_2