
Dimas menyalurkan hasratnya ke Nessa, walaupun Nessa sudah memberontak, Dimas tak peduli sama sekali. Dimas terus mengentakan tubuhnya ke tubuh Nessa. Nessa hanya pasrah saja. Wanita itu hanya mampu menangis dalam diam, sangat sakit sekali. Dimas memperlakukannya bagai binatang.
Tidak hanya sekali Dimas menyatukan tubuhnya, tapi berkali kali. Setelah dia puas, Nessa di biarkannya saja di atas ranjang tanpa sehelai benang pun. Tubuh Nessa rasanya sangat remuk sekali, dia menatap kosong langit - langit kamar.
Dimas sangat puas sekali, rasa wanita itu masih sama seperti dulu, masih legit. Dimas membersihkan tubuhnya di dalam kamarnya, setelah menggagahi tubuh Nessa. Tubuh Dimas sudah segar kembali, dia ingin membaringkan tubuhnya diatas ranjang, beristirahat, besok akan menjalankan misinya.
***
Malam sudah sangat larut, Nessa masih belum beranjak dari baringannya, tubuhnya masih polos, dia tak sanggup untuk bangun. Entah apa yang akan terjadi dengan jalan hidup Nessa kedepannya. Nessa tak ingin pasrah, dia harus pergi dari tempat ini.
Nessa bangun perlahan dari baringannya, dia ingin membersihkan tubuhnya yang kotor. Dengan tertatih Nessa berjalan menahan sakit di bagian bawah tubuhnya, rasanya sangat perih, Dimas sangat brutal menggagahi Nessa.
Didalam kamar mandi, Nessa menyalakan shower, dibawah kucuran air shower Nessa menangis kecang, mengutuk Dimas.
"Bajingan kau Dimas?!! Aku benci...!!!" teriak Nessa terisak.
Cukup lama Nessa menangis di bawah air shower itu. Satu jam kemudian, Nessa selesai mandi, ia pun keluar dari kamar mandi. Jam dinding menunjukan pukul dua belas malam lewat sepuluh, hampir setengah satu.
Nessa membaringkan tubuhnya diatas ranjang, memakai selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.
****
Mentari pagi menyapa pagi, Nessa sudah bangun, tapi masih duduk diatas ranjang, Nessa bersandar di sandaran tempat tidur, jam menunjukan pukul sembilan pagi.
__ADS_1
saatnya akan tiba, tubuh indahnya akan segera dinikmati lagi oleh pria lainnya.
"Bagas, tolong aku..." ucapnya lirih, lagi dan lagi air mata nya bercucuran.
"Bagas ...." gumamnya, dia hanya bergumam memanggil nama Bagas.
Ceklek.....
Dimas masuk kedalam kamar Nesa, melihat Nessa masih belum juga bersiap, dan wanita itu malah menangis, Dimas sangat marah.
"Hei...******?! teriak Dimas.
Nesaa sontak kaget, tubuhnya gemetar melihat Dimas yang marah.
tak ada pergerakan dari Nessa, dengan langkah lebarnya Dimas meghampiri Nessa. Dan....
Krakk....
Dimas menjambak rambut panjang Nessa. Nessa menahan sakitnya. Nessa memandang Dimas penuh dengan kebencian.
Nessa memandang dengan kebencian, sedangkan Dimas menatap remeh kearah Nessa."Percuma kau menangis terus. Aku tak akan kasihan. Cepat kau bersihkan tubuh mu ini. Sebentar lagi, pelanggan mu akan datang." bisik Dimas di telinga Nessa.
Dimas melepaskan jambakannya dari rambut Nessa. Pria itu pun pergi dari kamar itu, membiarkan Nessa menangis.
__ADS_1
Sebelum Dimas keluar dari kamar itu, "Aku tunggu kau dibawah." Ucapnya dingin tanpa menoleh kearah Nessa.
Braakkk....
Suara pintu dibanting sangat kuat oleh Dimas. Setelah Dimas keluar, tangis Nessa pecah.
****
Di Rumah Tika.
Calon pengantin ini lagi berdebar menunggu hari pernikahannya. Sekitar dua minggu lagi menuju halal. Segalanya sesuatunya sudah lengakap, dari pakian pengantin, catering, gedung pernikahan dan yang lainnya telah siap. Tika tinggal menyiapkan mental saja.
Di Rumah Sakit Medan.
Calon Pengantin prianya. Bagas, walaupun pernikahan mereka dua minggu lagi, tapi Bagas masih bekerja, bahkan dia banyak sekali yang harua diselesaikannya, agar nanti dia bisa cuti panjang.
Bersambung.....
Maaf ya....aku baru bisa up hari, karena sudah memasuki tahun ajaran baru, jadi masih sibuk....
Insyallah mulai besok aku update seperti biasa.
Selamat membaca.....
__ADS_1