
Nessa merasa kedinginan. Bajunya basah, dia menggigil menahan dinginnya.
Bagas sungguh tak tega melihatnya. "Apa kau sangat kedinginan?" tanya Bagas.
Nessa hanya bisa mengangguk. Dia berharap mendapat pelukan hangat dari Bagas, seperti ciuman hangat Bagas waktu kemarin.
"Gas...dingin...banget, " seru Nessa menggil menahan dingin.
Bagas mendekat ke Nessa. Bagas memeluk Nessa, mengurangi rasa dinginnya.
"Aku akan memesan pakaian Nes, kau tahanlah sebentar." Masih memeluk Nessa, Bagas menelpon recepsionis hotel, Bagas meminta tolong belikan pakaian untuknya dan Nessa.
"Kau...buka baju mu Nes. Sementara pakailah bathrobe dulu, pasti ada di dalam kamar mandi." Jelas Bagas.
Nessa masih enggan melepas pelukan Bagas, begitu menghangatkan untuknya.
"Nes...kau dengar aku kan? Nanti kau sakit." Ucap Bagas.
Mau tak mau, Nessa harus melepaskan pelukan hangat itu. Dia mengangguk dan langsung segera kekamar mandi.
Didalam kamar mandi, Nessa tersenyum, pelukan Bagas membuat nya ingin lagi.
Setelah membuka pakaiannya yang basah, Nessa memakai bathrobe nya. Setelah itu dia keluar dari kamar mandi itu. Penampilan Nessa sungguh seksi, bathrobe itu sangat pendek, hanya panjang separuh pahanya Nessa, membuat kaki jenjang nan mulus Nessa terpampang sangat jelas dan juga terlihat dibagian atasnya belahan dada Nessa.
__ADS_1
Bagas menelan salivanya kasar melihat itu semua, sangat indah menurutnya. Namun, Bagas mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Gas...sebaiknya, kau juga menganti baju mu." suruh Nessa.
Bagas mengangguk, pria itu segera masuk kekamar mandi, sungguh meresahkan. Bagas berkali - kali menenangkan debaran jantungnya. Kalau seperti ini dia akan khilaf.
Kini keduanya duduk di sofa kamar hotel. Sambil menunggu baju yang mereka pesan dari karyawan hotel.
Nessa berkali - kali menutup bagian dadanya, bathrobe yang dikenakannya tak cukup untuk menutupi dada Nessa yang cukup besar itu.
Bagas melirik kearah Nessa, apa yang dilakukan wanita itu. Berkali kali Bagas menelan saliva nya, ia dapat melihat dada Nessa dari balik bathrobe.
Suasana kamar hening, kedua insan itu tak ada yang mengeluarkan suara. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing - masing.
"Argh...." Suara Teriakan Nessa, wanita itu sangat takut gelap.
"Nessa...kamu tenanglah." Seru Bagas.
"Aku...takut Bagas." Ucapnya lirih.
Bagas menggeser duduknya agar dekat dengan Nessa. Serasa dekat, Bagas memeluk Nessa, menenangkan wanita itu.
"Tenanglah Nes, ini hanya mati lampu saja." Ucap Bagas.
__ADS_1
"Aku takut gelap Gas." ucap Nessa lirih, wanita itu semakin erat memeluk tubuh Bagas.
Pelukan mereka begitu erat sekali, tubuh keduanya begitu rapat sekali, sangat terasa sekali dua aset milik Nessa menempel di dada bidang Bagas.
Kalau seperti ini Bagas merasa bersalah sekali kepada Tika, Bagas merasa mengkhianati Tika.
Tak berapa lama, akhirnya lampu telah hidup. Keduanya masih berpelukan.
Bagas mulai sadar, kalau lampu telah hidup. "Ness,..." Bagas mencoba melepaskan pelukannya. Namun Nessa enggan melepasnya. Mata Nessa masih tertutup rapat, wanita itu masih takut.
"Nessa, lampunya sudah hidup." Seru Bagas.
Perlahan Nessa membuka matanya. Wajah yang dilihatnya adalah wajah tampan Bagas.
Wajah keduanya begitu dekat, tatapan mereka saling kunci.
Nessa memberanikan dirinya untuk menyentuh bibir Bagas dengan bibirnya.
Cup...
Bibir keduanya bertemu, Nessa mulai menggerakan bibirnya, ******* bibir Bagas, begitu manis sekali. Nessa masih terus **********. Sementara Bagas tak membalasnya.
Lama kelamaan, Bagas terbuai akan ciuman dari Nessa, perlahan dia membalasnya. Keduanya menikmati ciuman itu.
__ADS_1