
Dpkter Rafi sangat panik, asisten terbaiknya mengalami kecelakaan di Bali. Dia harus ke Bali malam ini. Namun, dia harus mengabari istrinya Bagas yaitu Tika.
Seharian penuh Tika hanya didalam kamar saja, rasanya malas untuk kemana - mana dan mengerjakan pekerjaan apa pun. Dia masih galau memikirkan sang suami, kenapa tak ada kabar. Walaupun sebenarnya dia masih kesal dan kecewa kepada sang suami. Namun, hati tak bisa dibohongi, dia sangat merindukan suaminya.
Ponselnya tak pernah lepas dari genggaman nya. Menunggu sang suami tercinta mengchat atau menelpon. Namun tak kunjung ada kabar, dengan berat hati dia meletakan ponselnya diatas nakas kembali, menatap langit - langit kamar. Seketika ponsel Tika berdering, dengan cepat wanita itu mengambil ponselnya dari atas nakas dan langsung mendial tombol hijau dilayar pipih itu.
"Hallo mas...kemana aja kamu, kok gak ada kabar?' Tika terus saja nyerocos tanpa tahu siapa yang menelpon.
"Halo Tik, ini saya Dokter Rafi. Saya mau ngabari...ka...kalau, Bagas....Bagas kecelakaan." Ucap Rafi terbata - bata.
Deg...
Rasanya jantung Tika ingin berhenti, suaminya kecelakaan. "Dok..." Tika tak bisa berucap apa - apa lagi.
"Tika, saya mau menuju kerumah kamu, Kita ke Bali sekarang." Seru Dokter Rafi
Dengan tangan gemetar Tika mengambil tasnya dan memasukan ponsel dan dompetnya saja. Sangkin paniknya, wanita itu tak sempat untuk membawa pakaian. Baju yang dipakainnya saja, baju piyama tidur.
__ADS_1
Berjalan mondar - mandir Tika menunggu Dokter Rafi. Tak berapa lama, suara deru mobil terdengar. Dengan gerak cepat dan berlari Tika membuka pintu rumahnya dan langsung keluar rumah.
Mobil Rafi sudah berhenti di halaman rumah Tika, belum juga Rafi turun dari mobil, Tika sudah masuk dan duduk disamping Dokter Rafi.
"Dokter...kita harus segera ke Bandara. Aku takut terjadi sesuatu dengan Bagas Dok," seru Tika terisak.
Dokter Rafi menghela nafasnya, dengan cepat Rafi mengendarai mobilnya. Karena dari rumah menuju Bandara cukup jauh, jadi butuh waktu satu jam setengah mereka dijalan.
Tepat pukul lima sore, mereka sampai. Tak perlu menunggu waktu keberangkatan, Dokter Ryan telah mengirim jet pribadinya.
Dengan perasaan campur aduk Tika duduk di bangku pesawat. Dia terus berdoa dalam hati, semoga saja sang suami tak apa - apa.
Tika dan Dokter Rafi sampai di Bandara Ngurahrai Bali. Mereka berdua langsung saja naik mobil yang sudah disiapkan oleh Dokter Ryan dan langsung menuju rumah sakit.
Dokter Ryan sudah berada dirumah sakit Bali, dia langsung yang mengatasi Bagas, luka di kepala Bagas cukup serius, Bagas pun dimasukkan ke ruang ICU. Kondisinya kritis.
****
__ADS_1
Jimmy, kondisinya sudah mulai baik, tidak lagi banyak minum kayak kemarin - marin. Namun pria itu masih saja stay di apartemennya. Rasanya keluar malas. Bahkan ponselnya sedari tiga hari yang lalu terus saja berdering, namun pria itu tak memperdulikannya.
Princess ciliknya pun terus menelponnya, pasti princess nya itu sangat mengkhawatirkannya. Ingin menjawab telpon dari princess nya, namun Jimmy masih belum sanggup. Dia harus benar - benar mengeyahkan Nessa dari pikiran dan hatinya, harus merelakannya.
Di Kota Binjai...
Jihan memanyunkan bibirnya, kesal kepada sang uncle yang tak kunjung menjawab telpon darinya. "Uncle Jimmy kemana sih Pi?" tanya Gadis kecil itu
"Mungkin, Uncle Jimmy lagi sibuk sayang." Seru Randy menenangkan sang anak.
"Sibuk mulu. Jihankan, ingin mengenalkan Calon mami Jihan Pi." Seru gadis itu.
Randy membelalakan matanya, 'Calon Mami?' Apakah itu Nessa? Senyuman diwajah tampan Randy terbit seketika, Jihan anak gadisnya ternyata sangat ingin Nessa menjadi mamanya.
"Calon mama kamu siapa?" tanya Randy pura - pura tidak tahu.
"Ih...papi, calon mami aku kan Tante Nessa." Serunya kesal kepada sang papi.
__ADS_1
Randy hanya menanggapi dengan senyuman. Pasti dia akan mewujudnya keinginan sang anak. Menjadikan Nessa menjadi Maminya.