
Bagas masih menunda kepergianya ke Cafe, pria itu mengantar Nessa kerumah sakit terlebih dahulu.
"Terimakasih ya Gas," ucap Nessa.
"Hmm..." jawab Bagas singkat. Bagas langsung melesat kan mobilnya.
Nessa bernafas lega, Bagas tak terlalu banyak tanya kepadanya. Nessa bersumpah kemarin adalah terakhir dia meminta duit kepada Bagas, tak ingin menyusahkan Bagas lagi.
Nessa memasuki area rumah sakit, semenjak kejadian waktu itu, masih banyak suster - suster yang lain menatap jijik kepadanya.
Nessa tak lagi memperdulikan tatapan jijik orang orang, yang terpenting dia sudah bertobat.
***
Waktu makan siang tiba, seperti biasa Tika membawa bekal nya. Dia akan memakannya di kantin rumah sakit.
Tika berjalan dengan santai sambil membawa bekalnya. Ternyata kantin rumah sakit sudah ramai, untungnya ada satu bangku yang kosong.
Dengan langkah cepat Tika berjalan untuk lekas sampai ke kursi itu. Huh. Akhirnya dapat juga, Tika menundudukan bokongnya dengan santai, meletakan bekalnya dan dengan perlahan membukanya. Sayang sekali, calon suami tercintanya tak bisa menemaninya makan siang, alhasil Tika makan sendiri.
__ADS_1
Ketika dia ingin menyuapkan suapan pertama dalam mulutnya, tiba - tiba suara seseorang menghampirinya.
"Boleh aku duduk disini?" tanya Nessa. Ya, orang itu adalah Nessa.
Kali ini dia membeli makanan di kantin, dirinya tak sempat memasak.
"Boleh Nes, silahkan. Kita makan bersama." Ajak Tika ramah. Hanya Tika sajalah yang bersikap ramah kepada Nessa.
Kedua wanita cantik dan berprofesi sebagai suster itu makan bersama. Tak ada suara yang terdengar, keduanya menikmati makanan mereka.
"Nes, biasanya kamu juga bawa bekal. Hari ini kenapa tidak?" tanya Tika setelah menyelesaikan makannya.
"Iya Tik, aku tak sempat." Jawab Nessa.
"Terimakasih Tik, aku gak mau ngerepotin kamu. Hari ini, aku memang gak sempat memasak." Jawab Nessa jujur.
Tika menjawab dengan senyuman. Keduanya kembali keruangannya. Berjalan bersama menuju ruangan.
****
__ADS_1
Pekerjaan Nessa telah selesai, waktunya dia pulang. Melihat sisa uangnya di dompet, rasanya sayang sekali untuk naik taxi, jadi, Nessa memutuskan naik angkot saja. Menunggu angkot di halte rumah sakit sepertinya tak akan lama, karena banyak angkutan umum yang lewat.
Hari cukup panas, walaupun senja sudah tiba. Satu menit, dua menit, tiga menit, bahkan sampai lima belas menit kemudian, angkot yang di tunggu datang juga.
Angkotnya tak ramai, ketika kaki Nessa ingin menaiki angkot itu, ada sebuah tangan menariknya paksa dan menyeret Nessa untuk naik kedalam mobil orang itu.
"Lepaskan! Jangan bawa aku! Toloonngg...!!" teriak Nessa. Namun sayang orang - orang sekitar tak ada yang peduli.
"Lepaskan gue, Dimas. Tolong, jangan paksa gue." Ucap Nessa memohon, bahkan air mata Nessa sudah mengalir dari matanya. Nessa terus memberontak.
Bagas melajukan Mobilnya dengan kecepatan tinggi, Bagas sudah terlambat untuk menjemput sang calon istri. Seperti biasa, kota Meda kalau disore hari akan macet. Karena dijam jam sore seperti ini, banyak karyawan berpulangan kerja.
Mobil Bagas sudah hampir sampai, sudah memasuki kawasan rumah sakit. Tanpa sengaja Bagas melihat Nessa yang ditarik paksa oleh seseorang pria, pria itu sangat kasar sekali kepada Nessa.
Bagas menepikan mobilnya, dan ingin menyelamatkan Nessa, dengan segera Bagas membuka pintu mobilnya, ketika kakinya melangkah, sayang sekali, pria itu berhasil membawa Nessa masuk kedalam mobilnya dan membawa Nessa pergi.
"****..."Bagas kesal, dia kalah cepat.
Ingin menolong Nessa, mengejarnya. Tapi, Tika lebih penting. Dengan terpaksa Bagas hanya memandang mobil itu membawa Nessa.
__ADS_1
"Semoga Lo, gak apa apa Nes." Gumam Bagas.
Bersambung....