Aku Cinta Dia

Aku Cinta Dia
Bab. 49


__ADS_3

Bagas membawa Tika kerumah baru mereka, rumah yang cukup mewah dan besar, Bagas memilih rumah ini karena dia ingin memiliki anak banyak dengan Tika.


Keduanya turun dari mobil, Tika sangat takjub melihat rumah barunya, memiliki halaman depan yang lebar. Mereka berdua berjalan menuju pintu masuk rumah, agar dapat melihat isi dari dalam rumah. Didalam sudah tersedia perabotan rumah, seperti sofa tamu, televisi, meja makan dan lain sebagainya. Bagas benar - benar telah mempersiapkan dengan detail dan lengkap.


Ceklek....


Pintu rumah terbuka...


Tika tersenyum bahagia, ini adalah salah satu rumah impiannya. Sang suami sangat tahu kesukaannya, Keduanya berkeliling didalam rumah, melihat setiap sudutnya, ada tiga kamar didalamnya, kamar utama dan dua kamar tamu. Didalam kamar tersedia tempat tidur dan lemarinya. Rumah itu hanya berlantai satu saja. Bagas tahu keinginan sang istri, tak suka mempunyai rumah yang berlantai dua. Alasannya, nanti capek membersihkannya.


Puas berkeliling, Kini keduanya duduk santai di sofa ruang nonton televisi, posisi duduk, Tika menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.


"Mas...terimakasih ya? Rumahnya sangat bagus." Ucapan terimakasih Tika.


"Untuk istri tercinta, apa pun mas akan selalu berikan." Jawab Bagas, pria itu memeluk tubuh sang istri.


"Aku mencintai kamu mas..." ungkapan cinta Tika.


"Mas...lebih mencintai kamu sayang." Balas Bagas dengan tulus.


"Kamu, mau pindah sekarang Yank?" tanya Bagas.

__ADS_1


"Mau mas, tapi...kita kerumah mama dulu ya mas, kita pamit dulu." Seru Tika.


"Iya sayang...mas juga akan pamit sama mama mas juga."


Sebelum kembali kerumah sang mama, pasangan pengantin baru itu masih duduk santai di sofa ruang televisi sambil berpelukan mesra.


Serasa sudah puas saling memeluk, keduanya pun bergegas pergi dari rumah itu, bertujuan kerumah mama mereka.


***


Di Kota Binjai...


Nessa masih belum berani mengeluarkan suaranya. Dia masih takut dengan pria yang ada di smapingnya ini. Pria yang pernah dia kecewakan.


Jihan, gadis kecil itu, anak dari pria yang bernama Randy itu, sudah terlelap dipelukan Nessa, entah kenapa Jihan sangat nyaman bersama Nessa.


Randy memberhentikan mobilnya di taman tadi, taman tempat mereka jogging.


Nessa mengernyitkan dahinya, dia heran kenapa ketaman ini lagi.


"Turunlah, saya mengantarkan kamu di taman ini saja." Ucapnya datar.

__ADS_1


Nessa menghela nafasnya pelan. Biarlah, toh taman itu tak jauh dari rumahnya.


Nessa ingin memberikan Jihan kepada papa nya, namun Jihan terbangun. "Kita sudah sampai ya tante?" tanya Jihan polos.


"Iya, tante mu ini, akan pulang. Jadi papi antarkan dia ketaman kembali." Bukan Nessa yang menjawab tapi, Randy.


"Tante mau pulang? Terus...aku sama siapa nanti?" sahut Jihan sendu. Gadis kecil itu tak ingin berpisah dari.Nessa.


Jihan cemberut, menekuk wajah imutnya. Sang papa tetap kekeh dengan pendiriannya, Randy tetap ingin Nessa pulang.


"Jihan mau sama tante!!" teriak Jihan yang mulai matany berkaca - kaca.


"Saya mohon, turunlah. Tinggalkan anak saya." Ucap Randy datar dan dingin.


Karena tak ingin ribut, Nessa turun dari mobil, Jihan sudah diberikan kepada Randy.


Gadis kecil itu sangat sedih sekali, dia masih ingin bersama Nessa. Nessa juga sungguh tak tega melihat wajah Jihan yang sedih.


Brakk....


Nessa menutup pintu mobil, daj juga Jihan sudah berpindah di jok samping tempat Nessa duduk tadi.

__ADS_1


Setelah itu, Randy melajukan mobilnya.


__ADS_2