Aku Cinta Dia

Aku Cinta Dia
Bab. 55


__ADS_3

Pukul lima sore. Randy dan Jihan pun sudah pulang. Namun, Bagas tak kunjung datang juga. Padahal Nessa sudah masak banyak. Mau diapakan makanan sebanyak itu.


Nessa menghela nafasnya pelan, memandang banyaknya makanan di atas meja makan. Walaupun ada yang sudah dimakan oleh Jihan dan Papinya. Makanan itu masih banyak tersisa. Mau tak mau, Nessa akan memberikannya lagi ke tetangganya.


Ketika Nessa membereskan makanan diatas meja makannya, suara deru mobil terdengar. Mobil itu berhenti di halaman rumahnya. Nessa sangat tahu, itu mobil milik Bagas, pria yang sedari tadi dia tunggu kedatangannya.


Dengan senyum bahagia, Nessa dengan langkah lebarnya menuju pintu dan membukakan untuk Bagas.


Kreekk....


"Bagas...." seru Nessa sumringah.


"Hai Nes." sahut Bagas datar. Jujur saja, setiap bertemu Nessa, Bagas teringat akan kejadian di hotel waktu itu.


"Masuk Gas." suruh Nessa.


Bagas melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam. Bagas mendudukan bokongnya di sofa ruang tamu.


"Gimana kabar kamu Nes?" tanya Bagas basa - basi.


"Aku baik Gas, kamu gimana? Kenapa setiap aku nelpon tak pernah dijawab." Tanya Nessa.


"Maaf Nes, aku sibuk." Jawab Bagas. Pria itu masih enggan untuk mengatakan kalau dirinya sudah menikah. Entah apa maksud Bagas.


"Berarti, aku ganggu ya Gas. Maaf ya?" ucap Nessa tak enak hati.


"Tak apa Nes."


Hening...


Beberapa saat hening...


Bingung apa yang harus dikatakan lagi. Nessa langsung saja menawarkan Bagas untuk makan.

__ADS_1


"Gas, kau sudah makan?" tanya Nessa antusias.


"Aku, masak banyak Gas. Aku masak makanan kesukaan kamu." Seru Nessa.


"Tak perlu repot - repot Nes."


"Gak apa Gas. Ayo makan." Ajak Nessa.


Sepertinya tak ada salahnya untuk makan masakan Nessa.


Kini keduanya sudah duduk di kursi makan diruang makan.


"Kau, ingin makan yang mana Gas?" tawar Nessa antusias. Wanita itu akan melayani Bagas dengan baik.


Bagas melihat satu persatu makanan itu, sangat banyak. Membuatnya bingung. Pada akhirnya, Bagas menjatuhkan pilihan dengan menu, udang asam manis.


"Udang saja Nes," jawab Bagas.


Dengan senang hati Nessa mengambilkannya untuk Bagas. Bak, seorang istri yang melayani suami.


Nessa sungguh sangat Bahagia, masakannya disukai oleh Bagas. Senyum manis menghiasi wajah cantiknya.


"Kau, sangat tampan Gas." Gumamnya dalam hati.


Suapan terakhir, Bagas telah selesai makannya.


"Masakan kamu sungguh enak Nes." Ucap Bagas jujur.


"Terimakasih...Kau boleh datang kapan pun kau mau Gas. Aku akan masak untuk kamu." Seru Nessa.


Setelah selesai makan, Bagas dan Nessa pindah duduk di ruang televisi. Keduanya mengobrol santai. Tanpa mereka sadari, duduk mereka sangat dekat sekali.


Nessa memperhatikan wajah Bagas. Tiba - tiba, Nessa mengangkat tangannya dan menyentuh sudut bibir Bagas.

__ADS_1


"Maaf Gas, ada nasi di mulut kamu." Seru Nessa. Nessa menyentuh bibir Bagas dengan sangat lembut. Bibir inilah yang membuatnya jatuh cinta.


Tiba - tiba, wajah keduanya sangat dekat. Satu senti lagi, bibir keduanya bersentuhan. Kalau saja ponsel Bagas tidak berdering, mungkin mereka berdua sudah berciuman.


Kring....kring....kring...


Bagas sontak terkejut. Pria itu langsung menjauh, dia segera menjawab telponnya. Ternyata sang istri yang menelponnya. Seketika rasa bersalah menghampirinya.


"Hallo Mas...?" sapa Tika disana.


"Ha...halo sayang," jawab Bagas gugup.


"Kamu kenapa Mas? Kamu baik - baik saja kan?" tanya Tika khawatir. Sepertinya suaminya ada masalah.


"Mas, gak apa sayang." Jawab Bagas.


"O...mas kok lama banget pulang. Uda mau malam lho mas. Mas kemana?," begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan sang istri.


"Ini mau pulang kok Yank...sekitar satu jam mas nyampe rumah." Jawab Bagas.


Setelah ngobrol di telpon dengan sang istri, Bagas segera beranjak ingin pulang kerumah. Tadinya Bagas tak ingin berpamitan dengan Nessa. Namun wanita itu menghampirinya.


"Gas...mau kemana?" tanya Nessa. Wanita itu melihat Bagas buru - buru mau kekuar.


Langkah Bagas terhenti, dan dia membalikan badannya menghadap Nessa.


"Maaf Nes, aku harus pulang." Ucap Bagas.


Nessa mendekati Bagas, sampai jarak mereka begitu dekat. Menjinjitkan sedikit kakinya karena Bagas lebih tinggi darinya.


Cup...


Satu kecupan mendarat di pipi Bagas. Membuat pria itu menegang seketika.

__ADS_1


"Hati - hati dijalan ya Gas." Bisik Nessa lembut.


__ADS_2