
Bagas membawa Nessa jauh dari kota Brastagi. Selama perjalanan Nessa menceritakan semuanya, dari awal. Dia telah di bawa paksa oleh Dimas, mantan kekasihnya. Dan bahkan telah dijual olehnya.
Bagas sungguh sangat kasihan melihat Nessa, jadi, selama ini dia tak pernah kelihatan, ternyata telah diculik oleh mantan kekasihnya.
Villa yang dituju Bagas lumayan jauh, hari sudah sore menjelang malam, mereka belum sampai. Tepat pukul delapan malam, mereka sampai di sebuah Villa.
"Ini, villa siapa Gas?" tanya Nessa.
"Ini, villa Dokter Ryan. Sementara kau disini dulu." Seru Bagas.
Bagas membawa Nessa masuk kedalam. Jauhnya perjalanan membuat keduanya sangat kelelahan.
Nessa sangat takjub melihat kemegahan villa itu. Kamar yang ditempati Nessa saat ini pun sangat besar.
Bagas ingat akan janjinya kepada Tuan Darma. Dia mengambil ponselnya dari saku celananya. Memberikan kabar kepada Tuan Darma, bahwasannya, dia meminta maaf untuk hari ini. Keduanya tak bisa bertemu karena ada sesuatu hal yang penting. Untung saja Tuan Darma dapat mengerti, dan Bagas juga memohon untuk akan dilakukan pertemuan di lain waktu.
Bagas menghela nafasnya kasar, kenapa jadi seperti ini. Sungguh malang nasib Nessa.
Malam sudah sangat larut sekali. Jimmy sangat murka, Nessa nya melarikan diri darinya. Dia sudah membayar mahal untuk Nessa, orang pertama yang akan kena dampak kemurkaannya adalah Dimas, mantan kekasih Nessa.
__ADS_1
Bugh...bugh....
Pukulan bertubi - tubi Jimmy layangkan diwajah tampan Dimas. "Brengsek!! Dimana Nessa?!!" teriak Jimmy membabi buta.
"Argh...a...aku....a..aku tidak...tahu." Seru Dimas kesakitan. Sekujur tubuhnya di penuhi luka pukulan.
Jimmy mencekik leher Dimas dengan kuat.
"Kau dengar, kalau aku tidak dapat menemukan Nessa, kau akan mati ditanganku." Seru Jimmy mengancam.
Dimas sudah kehabisan pasokan udara, cekikan di lehernya membuatnya sesak. Wajahnya sudah pucat pasi.
"Kalau dalam seminggu ini, kau tidak memberikan Nessa, nyawamu yang akan jadi taruhannya!" Jimmy melayangkan ancaman lagi kepada Dimas.
Sebelum Jimmy pergi dari tempat Dimas, satu pukulan keras ia layangkan diwajah tampan yang sudah babak belur itu.
Bugh....
Dimas mengerang kesakitan, wajah dan seluruh wajahnya sangat sakit sekali.
__ADS_1
Dipukul, di tendang, di pijak - pijak, seperti itulah Jimmy menghajarnya.
Kini Dimas masih telungkup di lantai dengan banyak darah yang ia keluarkan, tubuhnya tak sanggup untuk bangkit. Kini dia sangat marah dengan Nessa.
"Sialan kau ******. Tak akan ku maafkan kau." Ucap Dimas geram.
****
Di Kota Medan....
Sedari tadi, Tika sangat gelisah, wanita cantik itu menunggu kabar dari sang kekasih hatinya. Tika sangat takut, kenapa ponselnya Bagas tak aktif. Hanya siang tadi mereka berdua berkabar, setelah itu tak ada kabar lagi.
Tika berjalan mondar - mandir di dalam kamarnya sambil memegang ponselnya. "Ya Tuhan...kemana kamu kak." gumamnya.
Tika mencoba lagi dan lagi, mencoba menelpon Bagas, namun masih sama. Ponsel Bagas masih belum aktif.
Waktu sudah sangat larut sekali, bahkan hampir pagi. Tika masih belum bisa tidur, padahal kepalanya sudah sangat pusing sekali. Jam dinding sudah menunjukan pukul tiga pagi.
Satu tetes air mata jatuh dari wajah cantik Tika, dia sungguh sangat takut sekali. Takut terjadi sesuatu kepada calon suaminya.
__ADS_1
Bersambung...