
Bagas merasa gelisah, pria itu sedari tadi merasa bersalah kepada sang istri. Kedekatannya dengan Nessa hampir membuat dirinya kebablasan. Kenapa didekat Nessa nafsunya sangat liar.
Bagas berbaring santai di atas ranjangnya. Seharusnya dia jangan seperti itu, itu sama saja mengkhianati sang istri.
Bagas harus berbuat sesuatu, jangan sampai terulang lagi. Dia harus benar - benar menghindari Nessa.
Tika yang baru saja masuk kedalam kamar, melihat suaminya berbaring di ranjang sambil menatap langit - langit kamar. Suaminya sedang melamu.
Dengan perlahan, Tika naik keatas ranjang, mendekatkan tubuhnya ke suaminya.
"Mas...kamu kenapa?" tanya Tika lembut.
"Eh, sayang...ngagetin aja." Bagas benar - benar kaget.
"Kamu kenapa Mas? Dari tadi melamun terus." Tanya Tika penuh perhatian.
"Ya Tuhan...apa aku harus mengatakan yang sejujurnya?" batin Bagas. Memandang wajah cantik sang istri membuatnya tenang. Namun dirinya merasa bersalah.
Tika menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Sang Suami.
"Kamu kenapa sayang..." tanya Tika kepada sang suami.
Bagas menghela nafasnya, "Mas gak apa apa sayang," jawab Bagas. Pria itu memeluk sang istri.
"Gak kenapa - napa, tapi Mas kok ngelamun terus? Apa ada sesuatu Mas?" tanya Tika.
__ADS_1
"Gak ada sayang." Mungkin tidak sekarang Bagas untuk jujur kepada Tika.
Tika menikmati aroma tubuh suaminya yang begitu menenangkannya. Pelukan keduanya semakin erat.
Hari sudah malam, sudah pukul delapan malam lewat lima belas menit. Sepasang insan yang saling mencintai itu, masih berbaring di tempat tidur mereka saling memeluk.
Tak terasa sudah jam sembilan malam. Malam yang dingin, membuat hasrat Bagas meninggi. Pusaka kebanggaannya sudah menulang tinggi di balik boxer nya.
Tika, sang istri sudah memejamkan matanya. Posisi Tika memunggungi Bagas.
Bagas sudah sangat berhasrat, ia semakin mengeratkan pelukaannya di pinggang sang istri. Merapatkan pusakanya ke bokong Tika. Perlahan Bagas menggesek - gesekan pusakanya.
Tidur Tika terganggu. Sesuatu yang mengeras menempel di bokongnya.
"Sshhss..." Bagas meringis.
Tika melihat, sang suami sudah sangat berhasrat. "Kamu, pengen ya Mas?" Tika sangat mengerti keinginan sang suami.
Bagas mengangguk antusias. Benar saja, pria itu sudah tak tahan.
"Bolehkan Yank?" tanya Bagas dengan suara beratnya.
Tika mengangguk dan tersenyum. Dia mengizinkan sang suami menyentuhnya malam ini.
Tanpa menunggu lama, Bagas memulai aksinya. Memberikan kecupan di bibir merah sang istri, menyesapnya, menikmati rasa manis bibir sang istri.
__ADS_1
Puas bermain di bibir, Bagas pindah keleher mulus Tika, memberika tanda cinta disana. Membuat Tika melenguh nikmat.
"Argghh...."
Posisi Bagas kini sudah berada di atas Tika. Bahkan pakaian kedua nya sudah entah kemana. Sudah lepas dari tubuh mereka. Kini keduanya sudah polos.
Bagas masih menikmati setiap inci tubuh sang istri, Tubuh yang membuatnya candu.
Puas bermain, kini saatnya Bagas harus keinti permainan. Membuka lebar - lebar paha sang istri. Menatap begitu indahnya milik sang istri.
Bagas mengarahkan pusakannya ke milik sang istri.
Jleb...
Seluruhnya masuk. Milik Tika menjempit pusaka Bagas. Dan dengan perlahan Bagas bergerak pelan, dan.......(Pikir sendiri ya...😉😉😉)
***
Mentari pagi menyapa. Di Kota Binjai, rumah besar milik Randy kini cukup ramai. Sang kakak datang berkunjung. Kalau sudah datang, rumah sangat ramai. Kakaknya laki - laki nya yang bernama Jimmy itu gemar sekali menggoda keponakannya.
Namun, Jihan sang keponakan sangat senang digoda. Gadis kecil itu sangat menyayangi sang uncle.
Seperti saat ini, keduanya bermain air di kolam renang.
Randy hanya memandang dari atas balkon kamarnya. Kakaknya itu memang begitu menyayangi Jihan. Ketika itu, Jimmy pernah ingin mengadopsi Jihan. Tapi, Randy tak memberikannya.
__ADS_1
Randy tak ingin jauh dari Jihan. Hanya gadis kecil itulah pelipura hatinya.