
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, keheningan malam membuat kebekuan suasana didalam mobil semakin membeku.
Pak Hans yang menyetir sesekali menatap keadaan di bangku belakang mobil melalui spion.
Adit hanya membisu selama perjalanan, tapi sepertinya pikirannya sedang melayang memikirkan tingkah gadis disebelahnya tadi, yang membuatnya begitu terkejut.
"Apa setelah pingsan dia jadi kehilangan akal sehatnya" berdecak didalam hatinya.
Mobil berhenti disebuah restoran mewah.
"Wah tempat ini bagus sekali, apa pakaianku cocok masuk kesini" bergumam sambil memandangi pakaian yang dikenakan. Pak Hans membukakan pintu pada Adit, yang diikuti langkah kaki Adit keluar dari mobil, aku bergegas keluar dari mobil sebelum pak Hans membukakan pintu untukku, mata Adit menatap pekat padaku.
"Kemari kau! ucapnya.
Aku berjalan melangkah mendekatinya, dan berhenti tepat selangkah dari jaraknya. Dia meraih tanganku, merangkulku sambil berjalan memasuki restoran itu dan Pak Hans menunggu diluar.
"Selamat malam, mari saya antarkan ke meja anda tuan dan nyonya" ucap pelayan yang menyambut didepan resto.
Kami duduk didekat jendela, aku benar benar tabjub dengan pemandangan diluar resto ini, dari jendela kaca aku bisa melihat sebuah taman buatan kecil dihiasi dengan kelap kelip lampu lampu bervariasi warna.
"indah sekali" gumamku.
Setelah memesan makanan, kami hanya terdiam satu sama lain. Tak bicara. Sesekali kulihat dia menatapku, dan mata kami bertemu. Aku benci keheningan ini.
__ADS_1
"Ah iya kak, maksudku tuan, disini sangat indah ya?"
"Hmmm", terdengar suara darinya.
"Apa anda sering kemari?"
Dia menatapku lagi, dan membuatku tertunduk. Disandarkannya tubuhnya di sofa duduknya.
"Jadi apa maumu gadis kecil?" ucapnya tegas tanpa ekspresi dan terus menatapku.
"Apa maksud tuan?"
"Kau mengerti maksudku, jadi jangan membuatku mengulanginya lagi?"
"Kita tak sedang punya hubungan untuk saling mendekatkan diri?".
Aku terkejut dengan ucapannya, meskipun aku sudah sering mendengarnya.
"emmmm... tapi saya ingin dengan dengan anda tuan" Berusaha memberanikan diri, meski tangan sudah gemetar keringat dingin.
Kulihat wajah dan ekpresinya terkejut dengan ucapanku tadi.
"Sepertinya kau benar benar kekurangan gizi, otakmu sudah tidak waras".
__ADS_1
"Saya sadar dengan ucapan saya tuan, karena meski anda suka atau tidak, saya adalah istri anda, dan saya ingin dekat dengan suami saya, bukankah itu wajar?"
"Hahahahaha, apa kau bercanda! Sepertinya otakmu sudah benar benar rusak. Dengarkan aku Dania, kau istriku hanya diatas sebuah kertas dan kau paham itu jangan meminta lebih. Datar tanpa ekspresi.
"Saya akan membuat anda menyukai saya, jadi tolong beri saya kesempatan".
"Hei, ku beri tau kau satu hal, aku tak akan pernah menyukaimu apalagi mencintaimu" datar sambil mengangkat daguku dengan tangannya.
"Jika tuan begitu yakin tidak akan menyukai saya, beri saya kesempatan untuk saya, jika saya gagal, saya tidak akan menganggu tuan."
"Kau pikir aku punya waktu bermain main denganmu gadis kecil"
"Tuan hanya takut kalau tuan menyukaiku"
"Hahahaha...baiklah, kesempatan apa yang kau inginkan!
"Beri saya 10 kali kesempatan berkencan dengan anda".
Matanya kembali menatapku lekat.
"Baiklah, tapi jika kau gagal aku takkan menunggu 1 tahun untuk menceraikanmu, dan kau harus bertanggungjawab sendiri dengan omma."
"Benarkah? benarkan tuan mau berkencan denganku" tertawa senang dan tanpa sadar menggenggam tangan Adit.
__ADS_1