
Hanya butuh waktu 20 menit ambulance yang membawa Dania tiba di Rumah Sakit, tanpa hambatan sedikitpun, bahkan tak ada satupun kendaraan yang berlalu lalang saat sedang di perjalanan. Semua tim Medis sudah bersiap melakukan perawatan pada Dania. Ruang Operasi sudah dipersiapkan sedari tadi.
"Harap menunggu di luar pak" Ucap perawat yang melihat Adit memasuki ruang Operasi.
"Tapi saya suaminya sus, saya ingin mendampinginya disana" Ucap Adit menjelaskan.
"Maaf pak tidak bisa ini sudah prosedur Rumah Sakit, jika bapak seperti ini, itu hanya akan menghambat dan memperlama proses pengobatan untuk ibu Dania, lebih baik bapak menunggu di depan dan berdoa untuk keselamatan ibu Dania, permisi pak" Sambil menutup pintu ruang operasi.
Adit menunggu didepan kamar operasi dengan perasaan cemas, ia takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Dania.
" Tuan.." sapa pria parubayah yang sudah tak asing bagi Adit. ya ajudan setianya pak Hans.
" Terima kasih Hans, berkatmu Dania bisa mendapat pertolongan segera mungkin. "Ucap Adit dengan wajah yang masih penuh raut kuatir.
"Tuan, untuk perjaga-jaga saya akan tempatkan penjaga di daerah Rumah Sakit, karena pemblokiran jalan tadi, cepat atau lambat media akan mencari tau, apalagi init terkait dengan akses umum dan keluarga Hermawan.
"Lakukanlah yang terbaik Hans, kau sudah cukup lama bersamaku, kau mengetahui apa yang aku inginkan, dan sebisa mungkin blokir akses media untuk saat ini, jangan sampai berita tentang Dania diketahui oleh media, aku tak ingin dipersulit dengan masalah ini, kau bisa lakukan apapun, bahkan jika kita perlu mengeluarkan dana untuk membungkam mereka, maka lakukan saja." Perintah Adit.
"Baik tuan" Menundukkan kepala.
__ADS_1
"Apa oma sudah berangkat ke Inggris?"
"Pagi ini nyonya sudah berangkat ke Inggris tuan".
"Itu lebih baik, setidaknya oma tidak mengetahui keadaan Dania saat ini, jika tidak itu akan berakibat pada kesehatan oma juga karena memikirkan Dania."
"Hans...." Ucap Adit lirih
"Ya Tuan..." Ucap Pak Hans menanti lanjutan ucapan Adit.
"Apa kau pernah menyesal?"
"Setiap manusia pasti pernah merasakan yang namanya penyesalan tuan, dan jika kita sebagai manusia merasakan penyesalan bukankah itu anugrah??"
"Benar, bukankah itu lucu tuan, tapi setidaknya pada saat kita memiliki rasa sesal atau penyesalan kita menyadari kekeliruan kita, dan beralih pada kebenaran. ya setidaknya kita masih punya kesempatan memperbaiki diri". Hans
"Memperbaiki diri? masihkah aku punya kesempatan itu? Adit. Lirih.
"Nona Dania akan baik-baik saja tuan, dan selama nona baik-baik saja selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri." Hans.
__ADS_1
Tersenyum kecil. "Terima kasih Hans dan ku harap dia akan baik-baik saja" Adit.
"Iya Tuan" Hans.
"Hans, bisakah kau membantuku lagi, Adik Dania, dan keluarganya, bisakah kau mencari tau mereka ada dimana saat ini, bukankah lucu sekali, aku bahkan tak tau keluarga istriku ada dimana."
"Baik tuan, saya akan cari informasi mengenai keluarga nona Dania, dan tuan mohon maaf jika saya bertanya tapi apa yang anda ingin lakukan dengan keluarga nona Dania" Hans
"Aku hanya ingin mengenal mereka lebih jauh, karena aku ingin lebih mengetahui banyak hal tentangnya." Adit
"Maaf tuan, tapi saya pernah mencari tau saat dulu tuan ingin informasi mengenai nona Dania, dan sepertinya keluarga dari nona Dania tidak mengetahui bahwa nona Dania sudah menikah dengan tuan Adit, karena nona Dania hanya berkata dia mendapat pekerjaan dengan gaji yang lumayan sebagai pembantu rumah tangga."
"Apa? Tapi kenapa?
"Mungkin saat itu nona Dania tidak ingin adiknya merasa bersalah karena nona harus terpaksa menikah dengan anda tuan" Hans.
"Baiklah Hans, aku mengerti, aku hanya ingin mengenal mereka perlahan, dan bukankah kau pernah bilang kalau Dania besar di panti asuhan??"
"Iya benar tuan"
__ADS_1
"Baiklah aku mengerti cari tau segala hal yang bisa kau dapatkan tentangnya.
"Baik tuan" . "Saya permisi tuan" . Hans. Berlalu pergi.