
Lobby Rumah Sakit.....
"Hans, apa kau sudah melakukan hal yang ku minta?"
"Ini Tuan" Sambil menyodorkan semua map pada Adit.
"Jadi bagaimana?"
"seperti yang sebelumnya saya pernah jelaskan tuan, nona Dania sudah tinggal di panti asuhan sejak berusia 3 tahun, sebelum itu nona Dania tinggal bersama ayahnya".
"Ayahnya? oh iya kau pernah bilang ayahnya sudah meninggal"
"Benar tuan, namun ada hal yang menggangu saya terkait ayah nona Dania".
"Maksudmu?"
"Saya sedang memastikan hal ini lebih lanjut, tapi saya rasa tuan harus lihat" Sambil menyodorkan beberapa foto lama dan koran edisi lama.
"Apa ini Hans"
"Lokasi dan waktu kejadian kecelakaan yang menimpa nona Dania dan ayahnya sama persis dengan waktu dan lokasi kecelakaan orang tua tuan muda"
Adit terkejut dengan ucapan Hans, raut wajahnya berubah ketika Hans kembali mengingatkan tentang kecelakaan kedua orang tuanya itu.
"Hans, bukankah kau pernah bilang kalau omma sudah memperhatikan Dania sejak lama? sejak awal omma mengenalkan Dania padaku, aku sudah bertanya-tanya kenapa omma memperhatikan bahkan menyayanginya sampai seperti itu, selidiki lebih dalam tentang ini Hans, dan jangan biarkan Dania mengetahui hal ini dulu".
__ADS_1
"Baik tua, dan maaf tuan, saat saya sedang mendapatkan informasi, sepertinya teman pria nona sedang mencari nona Dania, karena sepertinya untuk beberapa waktu nona Dania tak ada kabar sama sekali dan nomor telponnya pun tidak dapat dihubungi. "
"Pria?? siapa dia? aku tak pernah tau dia punya teman pria".
"Dia sudah seperti kakak untuk nona Dania tuan, namanya Kevin, sepertinya dia sangat mengkuatirkan nona, namun saya tidak mengatakan nona ada di Rumah Sakit."
"Kevin?? sepertinya aku tak asing dengan nama itu? untuk apa dia mengkuatirkan istri orang lain, dasar kurang kerjaan" decak Adit kesal.
"maaf tuan, sepertinya tuan kevin tidak tau perihal pernikahan tuan dan nona" ucap pak Hans menjelaskan.
"ya sudah kau urus semuanya, dan sepertinya besok Dania sudah akan kembali ke rumah, dan aku ingin kau mengurus urusan di rumah."
"Baik tuan"
"iya tuan?" menunggu Adit melanjutkan.
"Tolong bereskan kamar ku, maksudku sofa temanya tidur "
"Saya mengerti tuan".
Adit berlalu meninggalkan Hans yang masih ada di lobby, namun pikiran masih terus berkecamuk tentang kecelakan yang pernah terjadi dulu, apa kaitannya dia dengan Dania.
"Hai gadis kecil? apa kabar mu hari ini" sapa Adit saat pria itu memasuki kamar Dania.
"Kau sudah datang paman? kenapa lama sekali..." ups gadis itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Wah, sepertinya kau sudah menungguku ya?" ucap Adit menggoda.
"Bu..bukan begitu, maksudku, kan biasanya kau sudah datang sebelum aku bangun, yah..maksudku.."
"Aku tau maksudmu" ucap Adit mencela ucapan Dania.
"Tau apa..?? jangan berpikir yang tidak-tidak paman".
"Aku tak berpikir apapun, aku hanya memikirkanmu" ucap Adit sambil mencondongkan wajahnya mendekat ke arah Dania yang membuat gadis itu salah tingkah.
"Ja..jadi kenapa kau begitu lama paman?"
"Hmm...yah kau kan bilang mau pulang ke rumah, ya aku sedikit terlambat karena ingin mengabulkan permintaanmu?" ucap Adit lagi sambil mengangkat dagu gadis itu ke arahnya.
"Ja...jadi aku sudah boleh pulang?"
"Tentu saja..."
"Benarkah?" ucap Dania semangat. Melihat itu Adit hanya tersenyum kemudian mengecup kecil bibir gadis itu, membuat gadis kecil itu kembali terpaku, dan membatu, wajahnya kembali memerah seperti tomat.
"A...apa yang kau lakukan paman" menutup bibirya dengan kedua tangannya.
"Apa lagi tentu saja mengambil hadiah ku?"
"Hadiah a..pa?"Ucap gadis itu lugu yang membuat Adit semakin gemas melihatnya.
__ADS_1