
Pagi itu Dania mengobrol banyak dengan Kevin, hal-hal mengenai masa kecil Dania, Adik juga keluarganya di panti asuhan.
"Jika aku kesana akankah mereka menerimaku? aku bahkan tak mengingat mereka, mereka semua pasti kecewa padaku" ucap gadis itu dengan raut wajah sedih.
"Jika kau memang ingin kesana, aku bisa membawamu kesana, mereka akan sangat senang melihatmu kembali kesana" Balas Kevin lembut, sambil mengusap lembut rambut gadis itu. Dania memandang ke arah Adit, dan Adit paham maksud dari tatapan gadis itu padanya.
"Pergilah jika kau ingin pergi ke sana, tapi tidak sekarang.." Adit.
"Tapi aku ingin kesana sekarang paman?"
"Kita akan kesana besok, aku akan selesaikan pekerjaan hari ini, dan mengantarmu besok" ucap Adit memberi pengertian.
"Aku bisa mengantar Dania kesana sekarang, anda bisa fokus pada pekerjaan anda, jadi Dania tak perlu merepotkan anda, benarkan Dania?" Ujar Kevin pada Adit. Adit yang mendengar ucapan Kevin merasa kesal dengan pria itu seolah ada yang mencoba merebut sesuatu darinya.
"Benar paman, aku bisa pergi dengan kak Kevin, paman tak perlu kuatir, karena kak Kevin adalah keluargaku" ucap gadis itu mencoba memohon pada Adit, dan membuat Adit yang mendengarnya semakin dan semakin kesal, karena merasa gadis itu tak memahami perasaannya, namun ia tak bisa menolak ke inginan gadis itu, karena dia tau dan paham bahwa Dania benar-benar ingin pergi kesana.
"Terserah kau saja" ucap Adit akhirnya dan ia pun segera beranjak meninggalkan Dania dan Kevin, melihat sikap Adit seperti itu membuat Dania merasa bersalah namun ia benar-benar ingin mengetahui semua hal tentang dirinya.
........
Di luar, pak Hans sudah menunggu Adit untuk ke kantor. Melihat sosok yang ia tunggu telah muncul, Hans pun membukan pintu untuk Adit.
"Kita berangkat sekarang Hans" ucap Adit sambil melonggarkan dasi yang ia kenakan sekarang.
"Apa kita tidak menunggu nona Tuan?" Tanya Hans heran. Belum sempat Adit menjawab gadis yang mereka bicarakan sedang mengetok-ngetok kaca jendela mobil Adit. Adit yang menyadari itu langsung keluar dan menghampirinya.
"Ada apa?" ucap Adit dengan nada datar, ia masih kesal dengan pilihan Dania yang memilih diantar Kevin di banding menunggunya.
"Hari ini paman selesai kerja jam berapa?" Tanya gadis itu ragu.
"Entahlah aku tak yakin" jawab Adit seadanya.
"Hmm, begitu ya,.." Kecewa. Melihat reaksi Dania kecewa dengan sikapnya, Adit pun berusaha mengalah.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" ucapnya lembut sambil menatap gadis dihadapannya itu. Melihat sikap Adit sudah kembali lembut, gadis itupun akhirnya tersenyum lembut.
"Bisakah paman selesai sore nanti?"
"Memangnya kenapa?" tanya Adit bingung.
"Aku ingin pergi ke panti bersama paman, jadi bisakah paman selesaikan pekerjaan paman lebih cepat?" ucap gadis itu ragu, mendengar apa yang di katakan istrinya tersebut, Aditpun akhirnya tersenyum senang namun juga bingung.
"Bukannya kau bilang tadi akan pergi bersama pria itu?" Ucap Adit kesal, mengingat kejadian tadi.
"Aku memang ingin sekali pergi kesana secepatnya, tapi aku juga ingin pergi bersama paman, karena seperti apa yang di katakan kak Kevin, di sana tak ada yang tau bahwa aku sudah menikah, jadi aku juga ingin membawa paman kesana, karena paman adalah suamiku,, dan..." belum sempat gadis itu menyelesaikan ucapannya Adit kembali mengecup lembut bibir gadis itu, hingga membuat Dania tersentak kaget dan terdiam sesaat.
"Aku sudah paham, aku akan selesaikan secepatnya, jadi tunggu aku, aku akan kesana bersamamu" ucap Adit lembut sambil membelai lembut rambut istrinya itu. Mendengar ucapan pria itu Dania pun membalas dengan senyuman lembut.
"Aku berangkat sekarang, udara diluar dingin, kau masuklah ke dalam" ucap Adit lagi sambil membelai lembut rambut Dania, dan ia bergegas kembali ke mobil, namun kali ini tangan gadis itu menahan langkah Adit, Adit terlihat sedikit bingung dengan sikap gadis itu.
"Paman juga semangat kerjanya" ucap gadis itu lembut dan mendaratkan ciumannya di pipi pria tampan itu. Aditpun akhirnya tersenyum senang ia pun bergegas kembali ke mobil dan berangkat.
Di mobil Adit masih terlihat senyum senyum sendiri mengingat sikap menggemaskan Dania pagi ini.
"Iya, sepertinya hari ini aku akan pergi ke panti asuhan tempat Dania di besarkan".
"Tuan ingin kesana?"
"Iya, memangnya kenapa Hans"
"Tidak apa tuan, saya turut senang, jika anda senang, tapi sepertinya anda harus menunda untuk pergi kesana tuan, karena jadwal tuan hari ini sangat padat, dan banyak pertemuan penting yang harus tuan datangi" ucap Hans menjelaskan.
"Untuk pertemuan-pertemuan dengan klien tolong kau yang pergi mewakiliku Hans, dan untuk masalah lainnya, minta semua tim devisi untuk meeting pagi ini".
"Baik tuan".
......
__ADS_1
Di kediaman Adit, Dania dan Kevin masih berbincang-bincang.
"Oh iya kak, bagaimana aku yang dulu?"Dania
"Hmm kau yang dulu tetap sama seperti sekarang, ceria dan juga lembut".Kevin
"Benarkah? bagus deh kalau memang aku tak berubah, tapi pasti kakak kecewa ya, aku tak bisa mengingat semuanya."
"Aku memang sedih saat mengetauhi kau hilang ingatan, namun aku juga senang karena kau baik-baik saja, tapi kenapa kau bisa sampai kecelakaan, kau bukan orang yang sembrono di jalanan, karena aku tau, kau sangat berhati-hati saat berada di jalanan."
"Hmm, aku juga tak tau kak, kenapa aku bisa kecelakaan, karena saat aku bangun aku sudah berada di Rumah Sakit dalam keadaan tidak mengingat apapun."
"Tak apa Dania, kau bisa mencoba mengingatnya pelan-pelan, apa kau benar tidak mau ikut denganku sekarang ke panti? anak-anak pasti senang melihatmu lagi".
"Aku benar-benar ingin pergi kak, tapi aku ingin menunggu paman, jadi kami bisa ke sana bersama".
"Sepertinya, dia benar-benar orang yang berarti untukmu."ucap Kevin lirih.
"Apa? Ah, paman, saat aku bangun dan aku tak mengenal siapapun bahkan diriku, dia orang pertama yang mengulurkan tangannya untukku."
"Begitu ya...jika saat itu yang pertama kau temui adalah aku, apa kau juga akan memilihku dibanding dia?".
"Maksud kak Kevin?"
"Hahaa, lupakanlah, sepertinya aku harus pergi sekarang, jika nanti aku ingin bertemu denganmu lagi, apa kau tak keberatan?"
"Tentu saja, kapanpun kak Kevin mau, aku dan paman akan usahakan untuk tetap bisa pergi?"
"Paman??...hah" Ucap Kevin lirih. "Jaga dirimu baik-baik Dania".
"Kak Kevin juga, hati-hati dijalan kak".
Kevin pun akhirnya pergi meninggalkan Dania. Ada perasaan kecewa saat dia keluar dari rumah itu.
__ADS_1
"Sepertinya bukan aku lagi yang di hatimu.." gumamnya lirih.