Aku dan Dirimu

Aku dan Dirimu
Mengulang Lagi


__ADS_3

Dania, mengikuti langkah kaki pria di hadapannya itu dengan langkah hati-hati.


"Paman, disini gelap sekali, apa paman tak salah tempat?" tanya bingung. Adit menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Dania.


"Gadis kecil, hitunglah satu sampai tiga" bisiknya pada gadis kecil di sampingnya itu.


"Apa maksudnya paman?" Tanya Dania Ragu.


"Sekarang mulai" ucap Adit tanpa menjelaskan, dan mau tak mau gadis kecil itu pun mengikutinya.


"Satu, dua, tiga" Tepat setelah Dania mengucapkan kata tiga taman yang gelap itu berubah menjadi taman yang indah, perlahan lampu-lampu hias menerangi taman itu, ditambah keindahan air mancur yang berada di pusat taman, terlebih tepat di hadapan mereka jalan setapak taman itu telah dihiasin lilin-lilin sebagai penerang.


"Wahhhh," ucap gadis itu dengan ekspresi kagum, matanya membelalak tak percaya.


"Indah sekali paman" gumamnya lagi sambil menatap pria yang ada di disampingnya itu, Adit ikut tersenyum melihat ekspresi bahagia Dania, ia mengulurkan tangannya pada gadis itu, dan merekapun melangkah mengitari taman.


"Apa kau yang menyiapkan semua ini paman??"Tanyanya seolah tak percaya.


"Tentu saja aku yang melakukannya".Ucap Adit bangga.


"Hei, kapan paman melakukannya, aku tak percaya" tungkas Dania yang masih terpesona oleh keindahan taman itu.


"Yah tentu saja, bukan aku yang yang melakukannya secara fisik, aku melakukannya dengan memerintah orang lain, bukankah itu hebat?" ucapnya lagi masih dengan nada bangga.


"Yayaya, itu memang keahlianmu paman" ucap Dania seolah meledek.


"Ini belum apa-apa akan ada hal lainnya nanti." ucap Adit sambil menoleh pada gadis di sebelahnya.


"Masih ada lagi???" tanya Dania antusias.


"Wah apa itu!!! teriak Dania saat melihat sebuah rumah pohon yang berada tak jauh dengan mereka, Ia pun langsung berlari ke arah rumah pohon itu.


"Paman!!! apa ini juga paman yang melakukannya?"Tanyanya antusias.

__ADS_1


"Tentu saja!! apa kau suka?"


"Suka sekali, apalagi rumah pohon ini di hias begitu indah" ucapnya kagum.


"Ayo kita naik" ucap Adit sambil mengarahkan Dania, Dania pun mengikuti arahan Adit dan kini mereka sudah berada di rumah pohon itu.


"Aku bisa melihat semuanya dari sini, benar-benar indah" ungkapnya senang.


Adit ikut tersenyum senang saat melihat tawa yang menghiasi wajah gadis di sampingnya itu.


"Apa kau senang? tanya Adit lembut pada gadis itu.


"Tentu saja aku senang paman, ini benar-benar luar biasa, aku benar-benar senang" ungkap Dania dengan wajah berbinar, yang dibalas dengan senyuman lembut Adit.


"Tapi sedikit sayang, karena besok pasti keindahan ini sudah tak ada lagi"


"Kau masih bisa menikmatinya jika kau ingin, lagi pula aku sudah membeli taman ini, kau bisa ke sini kapanpun kau mau, dan aku juga sudah membayar orang untuk menjaga dan membersihkan taman ini" ucap Adit lagi.


"Paman membeli taman ini??!" tanya Dania tak percaya.


"Seluruhnya?" Celoteh Dania sambil memperagakan tangannya.


"Iya" Adit.


"Wahhh, paman benar-benar sangat kaya ya??ucap Dania tak percaya.


"Hei, apa kau baru menyadarinya" ucap Adit sambil menyentilkan jarinya di kening Dania.


"Wahhh, paman benar-benar hebat, ternyata aku menikahi pria hebat, sepertinya aku sudah menemukan alasannya kenapa aku mau menikahi paman" ungkap gadis itu takjub, melihat ekspresi Dania Adit hanya tertawa.


"Yah, aku adalah pria hebat, jadi kau adalah wanita beruntung yang bisa mendapatkan pria hebat"ucap Adit dengan wajah penuh kebanggaan.


"Aku bukan wanita beruntung, tapi aku wanita yang lebih hebat dari paman, karena aku bisa mendapatkan pria hebat" ucap Dania bangga. Adit menatap lekat gadis di sampingnya itu dengan perasaan takjub, melihat ekspresi bahagia dan juga menggemaskan gadis itu, Dania yang menyadari Adit sedari tadi menatapnya pun menjadi salah tingkah.

__ADS_1


"Paman, apa wajahku kotor? atau apa wajahku aneh? kenapa kau melihatku seperti itu" ucap Dania kaku.


"Wajahmu baik-baik saja" jawab Adit dengan masih menatap gadis disampingnya itu.


"Lalu kenapa paman melihatku seperti itu?" ucapnya sedikit salah tingkah sambil mengaruk-garuk pipinya yang sama sekali tak gatal. Adit yang melihat itu, menghentikan tangan Dania.


"Tak ada yang salah dengan wajahmu, kau cantik!" Ucap ADit lembut yang sontak membuat wajah gadis itu memerah dan jantung gadis itu berdebar-debar hebat.


"Ke..kenapa paman tiba-tiba bicara seperti itu, tidak seperti paman saja?" ucapnya terbata dan malu-malu. Adit menggenggam jemari Dania dengan lembut, melihat itu Dania pun menoleh ke arah Adit dengan wajah bersemu merah.


"Dania dengarkan aku baik-baik dan jangan katakan apapun sampai aku selesai mengatakannya, ada yang harus ku katakan, karena jika bukan saat ini, mungkin aku tak punya keberanian untuk mengatakannya padamu." Ucap Adit lembut dengan tatapan lekat pada Dania. Melihat ekspresi Adit yang serius Dania semakin gugup dengan apa yang akan Adit katakan padanya.


"Saat pertama kali aku melihatmu, aku tak menyukaimu, terlebih aku membencimu" Adit terdiam sesaat melihat ekspresi terkejut dari Dania, wajahnya seolah penuh dengan pertanya, namun ia tak mengatakan apapun hanya diam, seolah memberi kesempatan bagi Adit untuk mengatakan semuanya.


"Ya, aku membencimu, gadis kecil yang baru pertama kali aku temui tiba-tiba harus menjadi istriku, aku tak bisa menerimanya, apalagi usiamu yang masih sangat muda. Aku menyakitimu berkali-kali, aku membuatmu menangis juga terluka, namun kau terus mencoba membuatku jatuh cinta padamu, di tempat ini, ya di taman ini, kau pernah menyiapkan kencan untukku, kau menghias taman ini dengan lilin seperti sekarang, tapi aku terlembat datang lebih tepatnya aku sengaja untuk datang terlambat, saat itu hujan turun dengan deras, dan kau masih menungguku disini, saat itu hal pertama yang kau ucapkan saat melihatku bukan kata-kata amarah, tapi ungkapan kekuatiranmu padaku, saat itu untuk pertama kalinya, ada perasaat menusuk di sini, dihatiku, saat itu aku sadar aku sudah menerima dihatiku namun kebodohanku tak menerima itu semua, dan pada akhirnya aku hanya menyakitimu hingga kau mengalami kecelakaan, itupun mungkin karena ku."Ucap Adit mengakhiri ia menatap wajah gadis di hadapannya itu dengan lekat dan juga perasaan bersalah.


"Mengapa kau tak mengatakan apa-apa?" Tanya Adit pada gadis di sampingnya itu. Dania menarik nafas dalam-dalam.


"Gadis itu....benar-benar menyedihkan, dia berusaha membuatmu jatuh hati padanya meskipun dia tau paman tak menyukainya apalagi membencinya tapi dia tak lebih menyedihkan dari paman."


"Maksudmu?"


"Dibanding gadis itu, paman jauh lebih menyedihkan, paman membohongi diri paman sendiri, hanya karena paman begitu angkuh, tak ingin mengakui diri paman sudah jatuh hati pada gadis itu." Adit hanya terdiam mendengar ucapan Dania, dia menyadari apa yang disampaikan Dania benar adanya.


"Kenapa kau berbicara seolah-olah gadis itu orang lain?" tanya Adit pada Dania.


"Karena bagiku, aku tak mengenal gadis itu, aku tak tau harus bereaksi apa, karena aku tak mengingat semua hal itu, apakah jika aku mengingatnya aku akan marah atau tidak, aku tak tau, jadi paman harus menunggu hingga aku mengingatnya."


"Iya....aku pasti akan menunggu, karena aku tau setiap hal punya harga yang harus dibayar."


"Bolehkah aku bertanya satu hal paman??"


"Kau bisa bertanya apapun".

__ADS_1


"Aku yang sekarang dan aku yang dulu, siapa gadis yang kau sukai?".


__ADS_2