Aku dan Dirimu

Aku dan Dirimu
Adit & Dania III


__ADS_3

Gubrak....!!!!!


Terdengar suara benda jatuh dari dalam kamar Dania. Adit bergegas masuk ke ruang itu dan mendapati Dania sedang meringis kesakitan karena terjatuh dari kasurnya. Adit dengan sigap langsung mendekati gadis itu dan mengangkat tubuh kecil Dania.


"Aww, sakit.." ringis Dania kesakitan.


"Apa yang kau lakukan, kenapa kau bisa terjatuh" ucap Adit panik sambil memperhatikan lutut gadis itu yang memar.


"Aku hanya ingin ke kamar mandi, aku ingin pipis" ucapnya lugu.


Adit menarik nafas panjang, kemudian mengangkat tubuh Dania lagi.


"apa yang paman lakukan, turunkan aku"! Teriaknya histeris karena Dania tau Adit sedang menuju ke kamar mandi.


"Jangan berteriak, diamlah."


"Paman apa kau mesum! aku tak ingin ke kamar mandi lagi! kau pergilah!" Dania masih berusaha meronta.


Adit menurunkan Dania saat berada di kamar mandi. Adit menatap lekat gadis itu.


"Hei gadis kecil, aku bukan pamanmu, berhenti memanggilku seperti itu dan aku bukan pria mesum, aku akan tunggu di depan, jika kau sudah selesai panggil aku" Ucap Adit dan ia pun keluar dari dalam kamar mandi.


Dania hanya menatap punggung pria yang sudah berjalan keluar itu. Wajahnya terlihat memerah menahan rasa malunya.


"Ahh, memalukan sekali" gumamnya dalam hati.


Tak lama berselang, terdengar suara dari balik pintu.


"hmm, paman aku sudah selesai" ucap gadis itu dari balik pintu. Wajahnya kembali memerah saat Adit sudah membuka pintu dan masuk kedalam.


"pegangan yang erat, aku tak mau bertanggungjawab jika kau jatuh lagi"  ucap Adit


"gak iklas banget sih" ucap gadis itu pelan namun wajahnya memerah saat Adit kembali mengangkat tubuhnya. Dania menatap pria itu lekat.


"Hmm, aku baru memperhatikannya, ternyata paman, dia sangat tampan" gumamnya dalam hati.


"Apa aku begitu tampan, apa kau sudah puas menatapku gadis kecil?" ucap Adit membuat Dania tersentak dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.

__ADS_1


"Pede banget sih, itu wajah paman ada kotorannya" ujar gadis terbata, yang membuat Adit tertawa tergelak karena melihat ekspresi yang ditunjukan Dania.


"Dia imut" gumam Adit dalam hati.


Adit menurunkan Dania di kasur kemudian menyodorkan selembar tisu pada Dania. Dania menatap pria itu ragu namun tetap mengambil tissu yang Adit berikan.


"Bersihkanlah?" ucap Adit lagi.


"Bersihkan??" ucap Dania mengulang kembali ucapan Adit karena bingung.


"Bukankah kau bilang wajahku ada kotorannya?" ucap Adit tersenyum menggoda.


"AH, oh itu..." Dania salah tingkah.


Adit memejamkan matanya dan mencondongkan wajahnya ke arah Dania. Dania menjadi semakin salah tingkah namun ia mencoba pura-pura mengusap-usap wajah Adit yang sebenarnya tak kotor.


"Su...sudah paman" ucapnya terbata.


"Sudah ya" Adit kembali  membuka matanya menatap gadis dihadapannya itu dengan tatapan hangat, sontak membuat Dania gugup dan salah tingkah.


"Pa...paman kau terlalu dekat" ujarnya pelan. Adit hanya tersenyum melihat tingkah gadis kecil dihadapannya itu.


Dania langsung menatap kakinya yang biru karena terjatuh tadi.


"Ah, aku bisa mengobatinya sendiri"


Mendengar ucapan Dania, Adit langsung merebahkan tubuh Dania ke kasur, yang membuat gadis itu kaget.


"Apa yang paman lakukan..."ucap Dania panik.


"Diamlah, aku hanya ingin mengobatinya" ucap Adit lagi. Kemudian mulai mengobati kaki Dania yang memar.


"Paman...."


"Hmmm..."


"Apa kau benar-benar suamiku?

__ADS_1


"Hmmm.."


"Paman, dimana keluargaku yang lain, ku dengar aku sudah cukup lama dirawat disini, tapi aku tak melihat siapapun datang menjengukku"


Adit menatap gadis itu sesaat kemudian melanjutkan mengobati kaki Dania.


"Aku tak memberitahu mereka" ucapnya lagi.


"Kenapa?"


"Karena kaupun takkan ingin mereka tau?"


"Kenapa? maksudku, kenapa aku tak ingin mereka datang."


"Aku tak bilang, kau tak ingin mereka datang, aku hanya bilang kau tak ingin mereka tau, karena kau gadis yang baik, tak ingin membuat mereka kwatir".


"begitukah?, tapi aku sekarang bahkan tak mengingat mereka".


Adit berhenti mengobati kaki gadis itu.


"Sudah selesai, kau tidurlah".


"Ah, iya terima kasih paman".


"Jika kau perlu apapun, kau bisa memanggilku, aku ada diluar" ucap pria tampan itu.


"Apa kau menunggu ku di luar?"


"Tentu saja, kau tak mengijinkanku disini?".


Dania merasa bersalah setelah mendengarnya.


"Kenapa kau tak pulang dan beristirahat saja paman?"


Adit menoleh pada gadis itu "apa menurut aku bisa beristirahat?"


Dania hanya terdiam, saat mendengar ucapan Adit, namun ia juga masih belum terbiasa dengan situasi saat ini, dan masih canggung berada diruangan yang sama dengan pria itu.

__ADS_1


"Istirahatlah, tak perlu memikirkan apapun".


"Terima kasih paman" ucap gadis itu dan Adit berlalu keluar dari kamar itu.


__ADS_2