
"Aku tak mengerti tentang semuanya, aku tak tau apa yang sudah ku lakukan benar atau tidak, aku tak bermaksud menyakiti siapapun, aku tak berniat melukai siapapun, tapi kenapa, kenapa semua jadi seperti ini, aku hanya tak ingin menjadi anak durhaka, aku hanya tak ingin ayahku membenciku karena menikah dengannya, tapi kenapa justru dia yang terluka.."gumam Dania di dalam hatinya sambil meremukkan tangannya di dadanya, ia merasakan sesak di sana, saat keluar dari Rumah Sakit, air matanya tak henti-hentinya mengalir.
"Maafkan aku....apa yang harus aku lakukan paman, apa yang harus aku lakukan" teriaknya lagi meski tak bersuara, air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
Di Rumah Sakit.....
"Tuan...maafkan saya karena mengingkari perkataan saya pada anda, padahal saya sudah berjanji untuk tidak memberitahukannya pada nona Dania, tapi saya juga tak bisa membiarkan anda seperti ini terus, saya berhutang terlalu banyak pada keluarga anda, dan satu-satunya hal yang bisa saya lakukan untuk membayarnya hanya dengan menjaga dan melindungi anda, meski nantinya anda akan kesal bahkan mengusir saya, saya akan menerimanya, asal anda bisa baik-baik saja" gumam pak Hans dalam hati sembari menatap Adit yang ssedang menjalani perawatan melalui jendela pintu.
........
"Dokter bagaimana dengan tuan saya?" ujar pak Hans saat dokter keluar dari ruangan itu.
"Saya sudah memperingatkan berkali-kali untuk tetap memaksakan asupan makanan dan tidak tergantung pada obat-obat nutrisi itu, saat ini keadaan tubuh bapak Adit sangat buruk, kadar racun di dalam darahnya meningkat dari sebelumnya, ini bisa membahayakan organ-organ tubuh yang ada di dalamnya, jika seperti ini terus kemungkinan bapak Adit akan terus melakukan cuci darah bahkan bukan hanya sebulan sekali. tapi fasenya akan lebih cepat jika bapak Adit masih tidak mau mengikuti anjuran dokter." Ujar dokter menjelaskan.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus kami lakukan, agar tuan saya bisa sembuh dan tidak menjalani perawatan seperti ini lagi?" Pak Hans.
"Seperti yang saya sudah jelaskan sebelumnya, emosi dan pikiran seseorang memancing hormon yang ada di tubuh, sama seperti kasus bapak Adit, jadi jika memang bapak Adit ingin sembuh seutuhnya yang harus dilakukan adalah, memperbaiki emosinya lebih dulu, menjaga pikiran dan menerima, hanya dengan begitu barulah tubuh bapak Adit bisa menerima, dan jika semua telah stabil maka kita hanya perlu melakukan cuci darah terakhir untuk menghilangkan kandungan racun yang ada di sisa darah tuan Adit. " Jelas dokter
"Baik dokter, terima kasih" Ujar Pak Hans
Tak jauh dari sana Dania mendengar percakapan pak Hans dan dokter itu, hatinya semakin sakit mendengar apa yang sudah dokter jelaskan, saat ia hendak kembali ke kantor hatinya masih terasa tak nyaman, ia enggan meninggalkan Adit yang terbaring lemah di Rumah Sakit dan memutuskan kembali ke dalam Rumah Sakit, namun ucapan dokter tersebut menghentikan langkah Dania untuk maju, ia takut jika apa yang hendak ia lakukan akan berdampak pada Adit.
"Nona Dania...." Ujar pak Hans yang menyadari kehadiran Dania. Pak Hans menatap lembut pada gadis itu, ia tau apa yang sedang di rasakan oleh Dania.
"Tapi dia tidak akan nyaman jika saat sadar ia melihatku ada di ruangannya, dan ini akan semakin sulit untuk kami.." Ujar Dania lirih.
"Nona....saya tau, saya tidak berhak untuk bicara seperti ini, tapi anda dan tuan berhak bahagia, meski masa lalu tak bisa di ubah, tapi ijinkan tuan Adit menebus kesalahannya" Pak Hans.
__ADS_1
"Aku tak pernah menyalahkannya atas apa yang terjadi di masa lalu, aku tau itu bukan kesalahannya..tapi sampai saat aku mengetahuinya, tak ada seorangpun dari mereka yang memberitahuku, kenapa ayahku meninggal, kenapa aku harus menikah dengannya, tak ada satupun yang memberitahuku, mereka bilang aku adalah cucunya, putrinya, istrinya namun mereka hanya ingin menebus rasa bersalah mereka padaku, bukan karena mereka benar-benar menginginkanku..." Ujar Dania sambil terisak tangis. Pak Hans menatap gadis itu dengan perasaan perihatin, ia mengerti apa yang Dania sedang rasakan, namun ia tak mampu berkata apapun untuk sekedar menghiburnya.
"Nona.....maafkan saya jika saya membuat anda terluka, tidak seharusnya saya ikut campur akan hal ini, tapi nona, setiap orang tanpa terkecuali pernah melakukan kesalahan, entah itu tidak sengaja ataupun tidak, entah itu untuk dirinya sendiri atau untuk melindungi orang lain, tapi kita juga bisa memilih, memberi maaf atau di maafkan." Ujar pak Hans lembut sambil memberikan tisu kepada Dania.
"Biarkan saya disini sampai dia baikan, tapi saya mohon pada anda jangan beritahu padanya kalau saya datang kesini, dan biarkan dia menganggap saya tak tau apapun" Ujar Dania.
"Baik nona, terima kasih karena anda masih mau merawat tuan, saya tau hati anda tulus untuk tuan" Ujar pak Hans.
Dania kemudia masuk ke ruangan itu, ia berjalan mendekat ke sisi Adit. Sesaat ia ingin mengusap kening pria itu dengan tangannya, namun ia urungkan dan menarik kembali jemarinya.
"Padahal saat pertama kali aku melihatmu, kau adalah pria yang kuat, meski kau begitu menyebalkan, tapi aku jauh lebih menyukai melihatmu saat itu dibanding saat ini,....apa kau pria yang sama yang dulu begitu angkuh padaku, tapi kenapa saat ini kau justru terbaring lemah tak berdaya, hanya karena seseorang yang dulu tak kau ingini masuk di hidupmu, kenapa kau selalu membuatku bingung paman....kenapa kau selalu membuatku bersedih, jika kau seperti ini, bagaimana denganku nanti, bagaimana bisa aku...." Isak Dania yang berada disisi ranjang Adit.
Dania membasuh kain dengan air hangat dan membasuh lengan Adit dengan lembut, matanya sesaat terpaku pada cincin yang tersemat di jari manis Adit, itu adalah cincin pernikahan mereka. Dania memegang lembut jemari pria itu, di tatapnya cincin itu dengan lembut.
__ADS_1
"Bukankah kita lucu paman, saat kita bersama tak sekalipun kita mengenakan cincin ini di jari manis kita, tapi saat ini, kau bahkan memakainya lekat di jarimu, dan Dania menarik kalung yang ia kenakan, ia menatap cincin yang sama tersemat di sana, meski tak ia pakai di jari manisnya tapi ia selalu membawanya di sisinya. Dania menarik nafas dalam, ia manatap Adit dengan lembut, is membelai rambut pria itu dengan lembut dengan jemarinya, dan mengecup kening Adit dengan lembut.
"Aku senang bertemu denganmu lagi paman, dan.....aku juga merindukanmu" bisik Dania di telinga Adit, entah Adit mendengar atau pun tidak, itu tak penting baginya, karena saat Adit bangun, ia hanya merasa itu seperti mimpi.