
Dania meremas kasurnya erat, matanya menatap curiga pada Adit.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? apa aku tampan?" ucap Adit tersenyum menggoda.
"Paman narsis banget sih, anu itu....." ucap Dania menggantung.
"Itu apa?? kau masih belum yakin aku suamimu?" Ucap Adit lagi.
Dania mengangguk pelan, mengiyakan ucapan Adit.
"hmmm, baiklah, aku bisa buktikan padamu" ucapnya lagi sambil beranjak dari kasur Dania.
"Kenapa kita bisa menikah?? mmm, maksudku, aku masih sangat muda, dan bukan hal umum menikah diusia ini, kecuali...." Dania tak melanjutkan ucapannya.
"Kecuali apa? kau terlalu banyak berpikir gadis kecil" sambil mengacak-acak rambut Dania.
"Paman, tolong hentikan, aku bahkan belum percaya apa yang kau ucapkan, lebih baik paman jaga sikap" Ucap Dania ketus.
"Hahahaa" Adit tertawa lepas mendengar ocehan Dania.
Dania menatap Adit kesal, merasa dipermainkan.
"Paman, aku lelah, aku ingin tidur" ucap Dania sembari menarik selimutnya.
__ADS_1
"Baiklah, tidurlah gadis kecil" ucap Adit sambil merapikan selimut Dania.
Dania menoleh ke arah Adit.
"Apa? kau bilang mau tidur, tidurlah agar kau pulih" ucap Adit lagi sambil mengambil mengambil Hp nya.
"Paman, apa kau tak paham, aku ingin tidur, bisakah kau keluar?" ucap Dania lagi.
"Aku takkan mengganggumu, kau bisa tidur sekarang, aku akan berjaga disini, kalau-kalau kau butuh apa-apa" ucap Adit tersenyum hangat.
"Paman kalau aku butuh apa-apa aku tinggal memencet tombol ini, dan suster akan datang, kau bisa pergi, bagaimana bisa aku membiarkan pria asing melihatku tertidur" ucap Dania kesal.
"Aku bukan orang asing, aku suamimu" Adit.
"Ahhh kepalaku sakit, bisakah kau berhenti bicara seperti itu sebelum memberiku bukti, kau membuatku tak nyaman" ucap Dania sambil merintih sakit.
"Aku tak apa, aku hanya ingin kau keluar dari sini, aku ingin tidur" Ucap Dania lagi setengah memohon.
"Baiklah aku keluar, kau bisa panggil aku jika kau butuh apapun, aku akan menunggu di luar" Ucap Adit lirih dan beranjak dari ruangan itu. Dania menatap punggung laki-laki itu perlahan pergi, kemudian ia mulai menutup matanya.
.........
"Tuan, mengapa anda diluar? ucap Pak Hans yang melihat Adit berdiri didepan kamar Dania.
__ADS_1
"Tak apa, dia sedang istirahat, apa kau bawa yang kuminta?" Tanya Adit lagi.
"Ini tuan" sembari memberikan amplop coklat pada Adit.
"Anda bisa menunggu didalam tuan, mengapa anda berdiri disini?" Tanya Pak Hans yang kebingungan.
"Dia tak nyaman didekatku, dia memanggilku paman, lucu bukan??" ucap Adit sambil tersenyum.
"Saya akan ambilkan bangku untuk anda tuan, tunggu sebentar, setidaknya anda bisa duduk, jangan berdiri seperti ini, anda juga sudah lelah menjaga nona Dania" ucap Hans lagi.
"Terima kasih pak Hans" ucap Adit lagi.
Pak Hans menundukan kepala dan pergi mencarikan bangku untuk Adit.
Tak lama pak Hans kembali sambil membawa bangku untuk Adit.
"Silakan tuan" Pak Hans.
"Terima kasih" Adit
"Bagaimana dengan nona Dania tuan?" Pak Hans
"Dia sudah mendingan, bahkan dia sudah berani membentakku, tapi itu lucu, sebelumnya bahkan aku tak pernah tau dia seperti apa, tanpa sadar aku bersyukur dengan keadaan ini, setidaknya dia bisa menjadi Dania yang sesungguhnya sekarang." Ucap Adit sambil tersenyum.
__ADS_1
"Saya senang jika anda juga menyikapi keadaan ini dengan tenang" Pak Hans.
"Dia bahkan bertanya padaku dengan lugunya mengapa kami menikah diusianya yang masih 18 tahun, saat itu tiba-tiba aku tersadar, jika pernikahan inipun berat untuknya, hal yang memang harusnya diluar nalarnya, karena diusia ini harusnya dia masih bertumbuh bersama teman-temannya, bermain dan belajar.