
Pagi itu, setelah beberapa lama akhirnya Dania sadar dari komanya.
"Ibu Dania, ibu bisa melihat saya?" Ucap Dokter lagi.
"Ini dimana??anda siapa??" Ucap Dania lemah.
"Saat ini ibu Dania sedang berada dirumah sakit, dan saya dokter yang menangani ibu Dania." Dokter.
"Gadis bodoh, akhirnya kau bangun juga" Ucap Adit senang sambil menahan air matanya.
"Anda siapa? Ahhh kelapa saya sakit sekali dokter" Dania.
"Hei jangan bercanda, aku suamimu, Adit" ucap Adit heran.
"Ahhh sakit" ucap Dania sambil merintih.
"Maaf pak Adit, sebaiknya bapak tunggu diluar sebentar" Ucap dokter lagi,
"Dokter ada apa ini, kenapa dia tak mengenali saya" ucap Adit takut.
"Nanti akan saya jelaskan, tapi biarkan ibu Dania mendapat perawatan lebih dulu.
Dengan lemas Adit keluar dari ruangan itu. Didepan masih ada pak Hans yang selalu menunggu dan siaga jika suatu saat dibutuhkan.
"Hans...." Ucap Adit lirih.
"Iya tuan". Pak Hans
"Dania sudah bangun, aku sangat senang, tapi aku pun merasa takut" Adit.
__ADS_1
Pak Hans hanya mendengar dengan penuh perhatian, mengetahui kegundahan tuannya.
"Apa dia akan memaafkan ku?" ucap Adit lirih.
"memaafkan memang sulit, tapi bukan berarti tak mungkin. Segala sesuatu yang dimulai dengan ketulusan akan berbuah kebaikan tuan, dan memohon maaf adalah bentuk penyesalan yang tulus, saya percaya semua akan baik-baik saja tuan" ucap Pak Hans.
"Pak Adit" Dokter keluar dari ruangan.
"Dokter bagaimana dengan istri saya?"
"Ibu Dania sudah sadar, dan sudah melewati masa kritisnya, namun akibat dari benturan di kepalanya, terdapat pembekuan darah di otaknya yang mengakibatkan sistem fungsi otaknya terganggu dan mohon maaf pak Adit, ibu Dania kehilangan ingatnya." Dokter.
"Hilang ingatan dokter?? jadi maksud anda istri saya tidak mengenali saya dan orang- orang disekitarnya."
"Mohon maaf pak Adit, tapi ibu Dania sendiri bahkan tidak mengetahui dirinya sendiri, butuh pemeriksaan lebih lanjut apakah ini sifatnya permanen atau sementara, tapi untuk sementara waktu jangan paksakan ibu Dania untuk mengingat karena cidera di kepalanya masih belum pulih". Dokter.
"Silakan pak Adit, saya permisi" ucap Dokter sambil berlalu pergi.
"Hans, apa menurutmu aku harus senang atau sedih dengan kondisi ini, disatu sisi aku senang setidaknya dia takkan menatapku sebagai orang jahat disatu sisi aku takut".
"Tuan, nona Dania baik-baik saja, masa kritisnya sudah lewat, menurut saya ini adalah kesempatan yang diberi untuk anda, lebih baik tuan masuk sekarang, dan menemani nona". Hans.
Adit masuk ke ruang tempat Dania berada. Dari pintu masuk ia menatap gadis itu sendu.
"Bagaimana kondisimu gadis kecil" ucap Adit sambil menatap Dania dengan tersenyum.
"Anda yang tadi berada diruangan ini bersama dokter saat saya bangun? apa anda kerabat saya? maaf saya tak bisa mengenali anda" ucap gadis itu lugu sambil menatap Adit.
"ya, kau benar, boleh aku duduk disini?" ucap Adit lagi sambil duduk disisi kasur Dania.
__ADS_1
"maaf om tidak maksud saya paman, apa kita dekat?? maaf maksudku, ada tempat duduk disana, mengapa anda duduk disini? ucapnya kaku. Adit tersenyum menatap gadis itu. "Menurutmu aku siapa?" tanya Adit menggoda..
"Saya tak tau, tapi paman membuat saya tidak nyaman, bisakah anda pindah duduk disana? ucap Dania lugu sambil menunjuk kursi depan kasurnya.
Adit menatap gadis itu rekat. "Apa aku membuatmu tak nyaman?"
"Paman, tadi saya sudah bil....." belum sempat Dania menyelesaikan kalimatnya, Adit memeluk Dania erat.
"Apa kau tau, aku takut saat kau tak bangun-bangun" ucapnya lirih sambil tetap memeluk Dania.
"Paman, om, ah terserah lepaskan saya, anda siapa??" sambil memukul-mukul dan mendorong tubuh Adit menjauh.
"Auuuu, sakit " Adit pura-pura merintih kesakitan.
"Apa itu sakit? maaf saya tak bermaksud, maksud saya, setidaknya beritahu saya anda siapa? dan apa hubungan paman dan aku. " Ucap Dania sambil menatap bersalah Adit.
"Aku bukan om, paman atau orang tuamu, aku Adit Hermawan, suamimu, dan kau Dania istriku." Ucap Adit sambil memegang tangan Dania.
Dania menarik tangannya dari genggaman Adit. "Hei paman, saya memang hilang ingatan, bahkan tak mengenal diri saya sendiri, tapi saya tidak bodoh, dari wajah saya, saya bisa tau kalau usia saya bahkan belum menginjak 20 tahun, dan sekarang anda bilang anda suami saya?? anda pikir saya bodoh?"
"Aku tak berpikir kau bodoh, benar usiamu baru 18 tahun, dan benar kita sudah menikah, aku bisa buktikan padamu jika kau mau?"
"Aku tak percaya, paman bahkan terlihat jauh lebih tua dari saya, apa paman ini orang suka dengan anak kecil."Dania mulai menatap curiga Adit.
"apa Tua??? Adit sedikit kesal, mengambil Hpnya dan mulai bertelpon.
"Ya Tuan" Ucap seseorang ditelpon.
"Hans, bawakan buku nikah dan foto pernikahanku dengan Dania sekarang" Adit sambil mematikan telponnya.
__ADS_1