
Pagi itu pertama kalinya aku melihatnya begitu terpuruk, air matanya entah sudah berapa banyak tumpah dan mengering. Dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa di hidupnya. Awan hitam menyelimuti semesta seolah ikut bersedih dan menangis. Hati ku gentar, aku kehilangan tapi aku sadar lukaku tak sebanding dengannya.
"Kakak, " panggil ku begitu saat ku dapati dirinya di sudut ruang sambil menangis sedih. Dia menatapku dengan tatapan tak berdaya, aku langsung memeluknya dan sesaat tangisnya pecah.
"Omma sudah pergi Dania, dia pergi meninggalkanku, sekarang aku sendirian, apa yang harus kulakukan sekarang, " gumamnya dengan gemetar. Ku peluk dan ku tepuk-tepuk pundaknya mencoba menenangkannya.
"Swemua akan baik-baik aja kak, " ucapku sembari mendekap erat dirinya. Aku menemaninya hingga kami memakamkan omma dan melepas kepergian omma.
"Kak makan dulu buburnya, kakak udah gak makan dari kemarin, kalo kayak gini kakak bakal jatuh sakit," pintaku padanya yang masih terus mengurung diri.
"Aku tak selera, kau aja yang makan, " ucapnya lemas.
__ADS_1
"Aku udah buatin loh dari pagi kak, ayo dong di makan, " bujuk ku lagi sembari menyodorkan sendok ke mulutnya. Dia menepis tanganku dan berteriak.
"Aku kan udah bilang gak mau, bisa ngerti gak sih! ". Aku terkejut dengan sikapnya, ini. persis seperti dia pertama kali bertemu denganku dulu, aku menatapnya dengan perasaan marah juga sedih, ku ambil sendok yang tadi terjatuh karena di hempaskan olehnya.
" Buburnya masih ada di panci, kalau kakak lapar kakak bisa ambil, aku akan pergi pulang, " ucapku menahan agar air mataku tak tumpah.
"Apa kau juga akan pergi meninggalkanku?" gumamnya pelan.
"Apa kau akan pergi juga meninggalkanku? hah? pergilah aku tak butuh siapapun!" teriaknya bercampur amarah.
"Hah, apa kakak akan terus seperti ini? merasa hanya diri kakak aja yang kehilangan, aku juga kehilangan omma, tapi bukan berarti kakak bisa menyakiti orang lain hanya karena kakak sedang terluka, omma? omma tak pernah meninggalkan kakak walau sedetik dia ada di hati kakak, aku dan yang lainnya, apa di dunia ini cuma kakak aja yang punya hati dan kehilangan, coba kakak tanya pada orang-orang yang datang. Hah lagi-lagi begini, percuma! aku pergi! ucapku marah padanya. Aku tau aku kelewatan bicara seperti itu padanya, tapi jika aku tak bicara kasar padanya dia akan tetap berada dalam keterpurukan. Aku keluar membanting pintu karena kesal, bahkan saat menuruni tangga pun aku masih bergumam memarahinya, saat aku membuka pintu utama, dia mendekapku dan memelukku dari belakang.
__ADS_1
"Jangan pergi," gumamnya memohon. Aku hanya menghela nafas panjang.
"Jangan pergi," gumamnya lagi dengan nada memohon dan terselip isak tangisnya. Aku kembali menarik nafasku, dan memegang jemarinya dan berbalik menatapnya, ku seka air matanya yang jatuh dan ku peluk erat dirinya.
"Aku tak akan kemana-mana karena itu jangan biarkan aku pergi, " ucapku lembut dia pun memelukku erat. Aku membawakannya bubur yang tadi ku masak dan menyuapi nya.
"Asin, " ucapnya sambil menerima suapan demi suapan.
"hah, tadi apa aku kasih garamnya kebanyakan ya," ucapku dan mencoba mencicipi buburnya, dan benar aja rasanya sangat asin.
"Ueek" nyaris aja perutku tak sanggup menerimanya dan memuntahkannya, tapi dia malah tertawa, melihatnya tertawa, akupun ingin tertawa, dan kami pun tertawa bersama.
__ADS_1